Rabu, 27 Oktober 2010

Sumpah Pemuda, Sumpah yang Terlupa

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim ..
Esok hari sumpah pemuda. Ingatkah anda isinya? Kalau boleh jujur saya juga tidak terlalu ingat persis isinya seperti apa sehingga saya haru bertanya kepada mbah “Google” untuk mencari tahu isi sumpah pemuda secara lengkapnya sesuai yang telah dideklarasikan oleh para pendahulu kita pada tanggal 28 Oktober 1928.

PERTAMA. KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH-DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.
KEDOEA. KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.

KETIGA. KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.


Luar biasa ya isinya. Lantas apakah pemuda kini sudah merepresentasikan apa yang disumpahkan oleh para pendahulunya? Atau malah tak tahu menahu, acuh tak acuh karena merasa bukan kita yang mengucap sumpah? Mungkin kita terlupa bahwa momen ini menjadi salah satu momen titik balik kebangkitan pemuda Indonesia. Mungkin kita terlupa bahwa sumpah ini menjadi penguat rasa persatuan kita. Mungkin kita terlupa bahwa isi sumpah ini baik adanya.

Pemuda kini seakan lebih mementingkan ‘suku’nya seolah terlupa bahwa tiap-tiap suku telah bersatu. Pemuda kini lebih bangga berbicara dengan bahasa penjajahnya dahulu, entah Inggris, Prancis, Spanyol, Jepang, atau Belanda. Pemuda kini tak peduli dengan budayanya sendiri dan baru ‘ribut’ ketika budaya itu direbut. Pemuda kini hanya asyik berdebat tanpa aksi yang tepat dan cepat. Pemuda kini melupakan sejarahnya sendiri dan bahkan umumnya pelajaran sejarah itu paling dibenci. Dan bahkan setahu saya pemudi yang menjadi Puteri Indonesia kini pun tidak lancar berbahasa Indonesia. Sungguh memprihatinkan ya?

Sahabat ingatlah segala tentang pemuda. Satu kata beribu makna. Satu pribadi berjuta arti. Satu raga penghimpun jiwa. Ingatlah segala kejayaan bangsa, negara, dan ummat ini lahir melalui tangan pemuda.  Kala kita merindukan negeri ini kembali pada jayanya, merindukan ummat ini kembali pada jayanya, merindukan pemimpin seperti khulafaur rasyidin adanya, lantas coba lihat diri kita sudahkah kita menjadi pemuda seperti sahabat dahulu kala? Seperti para tabi’in yang mulia? Seperti salafus shalih yang terbina?

Teringat dengan kata-kata seorang Hasan Al Banna bahwa seluruh aset ummat ini untuk bangkit telah habis, kecuali satu. Pemuda. Ya pemuda! Mengapa pemuda? Apakah anda termasuk sebagai pemuda? Jika ya, maka beruntunglah anda bahwa anda memiliki peran strategis untuk membentuk bangsa, dunia, dan alam ini. Baik buruknya bangsa, dunia, dan alam ini di tangan anda! Maka yakinkan diri, kembangkan potensi, dan pahatkan dalam hati, “Aku pemuda, maka kan aku ubah dunia”.


Selasa, 19 Oktober 2010

Tatkala Ketidak-wajaran Dianggap Layaknya Kewajaran (Muhasabah Series)

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim .

Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging apabila segumpal daging itu baik maka akan menjadi baik semuanya dan apabila segumpal daging itu jelek maka akan jeleklah semuanya ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.

Tatkala sebuah ketidakwajaran dianggap sebagai sebuah kewajaran, maka tanyakan hati dan imanmu! Mungkin mereka sedang tidak wajar!


Betapa banyak ketidakwajaran kita anggap sebagai layaknya kewajaran.

Wajarkah tatkala kita tak mengenal saudara se-gedung kita padahal Islam itu saling memperkenalkan dan saling mempersaudarakan?

Wajarkah tatkala kehilangan begitu sering terjadi di tempat kita padahal seharusnya seorang muslim dan tempatnya itu aman dan terpercaya?

Wajarkah tatkala kita membiarkan ketidak-indahan sekre kita padahal ALLAH itu menyukai keindahan?

Wajarkah tatkala ketidak-jujuran terjadi di antara kita padahal tiada iman kala berdusta?

Wajarkah tatkala keterlambatan sering terjadi dalam aktivitas kita padahal dalam salat Dia mengajarkan kedisiplinan?

Wajarkah tatkala kita tertawa atas kemalangan yang menimpa saudara kita padahal muslim itu satu tubuh satu jiwa?

Wajarkah tatkala perdebatan kusir sering terjadi padahal di sanalah terdapat kesia-siaan?

Wajarkah tatkala ghibah mewabah padahal itu bisa memicu fitnah?

Wajarkah tatkala ketidak-wajaran begitu banyak melanda namun kita hanya berdiam diri tanpa memperbaiki?

Sungguh begitu banyak ketidakwajaran dalam hati dan iman ini.


Kutulis untuk pengingat diriku dan kalian saudaraku.
Semoga ALLAH menyadarkan kembali kewajaran kita.
Uhibbukum fillah.


@Sekre KARISMA ITB 19 Oktober 2010