Minggu, 28 Februari 2010

Ingatlah, Tatkala Semua Terkenang (Memori SMAI NFBS)

Mencoba mengingat tahun 2008 silam , tatkala aku masih berada di sebuah tempat yang tiada pernah kan aku lupakan. Ketika itu betapa hati ini berdebar-debar tatkala ujian nasional menjelang. Dengan hati yang masih kesal karena mata pelajaran UN jadi 6 , tapi apa boleh buat kami harus tetap belajar demi merajut mimpi. Untuk segera pergi meninggalkan tempat yang mungkin paling cintai.

Ingat, tatkala kita dibangunkan jam 3 atau jam 4 pagi oleh ustaz yang dekat dengan kita. Untuk tenggelam dalam indahnya menghadap penuh rindu dan syahdu padaNya. Hampir bisa dikatakan itu menjadi rutinitas kita, meski tak jarang kita tertidur kembali dalam posisi doa setelahnya.

Ingat, tatkala kita berbondong-bondong ke masjid sambil membawa Al Quran yang selalu kita selipkan dalam setiap perjalanan. Dengungan dzikir matsurat membuat kita kembali tenggelam dalam alam mimpi meski kita saling membangunkan ketika ustaz datang menghampiri.

Ingat, tatkala bagaimana pun susahnya kita untuk mencoba menyelesaikan tilawah 1 juz setiap hari, bahkan ada beberapa diantara kita yang lebih. Kemudian kita melanjutkan dengan mencoba belajar bersama menyelesaikan soal-soal yang semakin akrab dengan kita tiap hari.

Ingat, tatkala kita memulai aktivitas pagi dengan tertidur kembali, meski banyak juga yang langsung memulai piket pagi. Kemudian datanglah seorang ustaz denga keranjang penuh pakaian dan sapu di tangan. Mengultimatum kita untuk segera mengambil pakaian atau pantat jadi sasaran.

Ingat, tatkala kita berangkat sekolah bersama di awal waktu. Sembari mengingat adakah tugas hari ini yang belum dikerjakan, atau saling becerita tentang si "ini" atau tentang "itu" yang menceriakan kala pagi itu.

Ingat, takala kita memasuki kelas yang didalamnya ada cadangan makanan kita. Mulai dari pisang, kecapi, sampai durian pun pernah ada. Terkadang menjadi teman setia kita ketika kita lapar tapi malas keluar.

Ingat, tatkala kita sudah mulai tertidur di awal pelajaran, tak terhitung berapa kali kita bolak-balik kamar mandi dalam sehari, tetapi ada saja yang tetap asyik menikmati tidurnya ini. Tidak peduli.

Ingat, tatkala musik istirahat mulai mengumandang, kita berhamburan berbagi tugas. Ada yang ke koperasi mencari makanan untuk dimakan bersama nanti, ada yang ke sekitar masjid mencari buah yang kira-kira bisa menemani kami di istirahat kali ini, ada juga yang shalat lebih dulu mendoakan kami agar perjuangan kami mendapat makanan berhasil dan berkah. Kemudian kita kumpul bersama dengan makanan yang seadanya. Kembali tertawa menatap hari ujian yang semakin dekat dengan mata. Seakan ujian itu bukanlah segalanya.

Ingat, tatkala kita sudah mengakhiri sekolah kita dan kembali ke asrama untuk mengisi lagi perut yang sudah keroncongan karena berpikir keras tadi pagi. Makan bersama di ruang serba guna ditemani televisi yang masih menyiarkan gosip-gosip siang, juga si kecil yang selalu menge-ces dan tertawa apabila kena angin. Setelah itu kita memulai aktivitas sesuai hobi dan minat kita, ada yang tidur (lagi?) , main ping-pong, belajar, baca komik, baca majalah atau koran yang ada, juga ada yang masih masak untuk melanjutkan babak kedua makan siangnya.

Ingat, tatkala kita dengan langkah gontai karena ngantuk dan lelah yang menumpuk, harus berjalan ke tempat bimbel yang terkadang dekat, tapi tak jarang pula jauh ke seberang. Sehingga ada diantara kami yang selalu membasahkan rambutnya tatkala ke seberang itu.

Ingat, tatkala kita mulai bimbel dengan mencoba seserius mungkin, demi melompat lebih tinggi dalam menggapai mimpi. Tidak ada kata menyerah sebelum kita bisa. Semua saling mengoreksi dan membantu dengan bidang yang dikuasai.

Ingat, tatkala kita beralih ke aktivitas sore yang menjadi rehat kita, ada yang langsung berlari ke lapangan bola, ada yang menuju lapangan basket, ada yang berlari sore melatih fisik mengelilingi setengah area hutan itu, ada yang bermain komputer, ada yang melanjutkan bacanya, ada juga yang kembali melanjutkan makannya di koperasi karena perutnya sudah minta diisi kembali.

Ingat, tatkala menjelang maghrib, kita sudah berdandan rapi menuju masjid. Tak lupa Al Quran serta buku soal turut disertakan menemani langkah-langkah kita.

Ingat, tatkala malam sudah tiba kita masak nasi goreng petai bersama, meski tidak semua diantara kami menyukai petai yang katanya rasanya mirip ayam (?).

Ingat, tatkala kepala sekolah kita mengunjungi untuk melihat aktivitas belajar malam. Ada yang tetap terus belajar, ada yang memanfaatkan momen untuk bertanya mengenai pelajaran, ada juga yang langsung lompat dari tempat tidur karena takut kena teguran, namun ternyata ada juga yang hanya jalan-jalan berkeliling ke kamar-kamar orang.

Ingat, tatkala sebelum tidur kita bercerita kembali tentang apapun yang bisa kita ceritakan, tentang mimpi-mimpi kita, tentang masalah yang kita hadapi, tentang persiapan kita menghadapi ujian, ada juga yang bercerita ga jelas. Yah intinya bercerita saja, sebelum mata terpejam dalam istirahat sejenak untuk memulai hari di esok pagi.

Ingat, tatkala di hari lain, jadwal kita untuk halaqoh, ada yang bersemangat, ada yang ogah-ogahan, ada juga yang biasa saja.Namun kita tetap berangkat ke tempat kita liqo tersebut. Hingga larut malam mulai menggelayuti barulah satu per satu kita kembali.

Ingat, tatkala di akhir pekan kita melakukan aktivitas rehat, meski ada juga yang harus halaqoh di hari ahad pagi.

Ingat, tatkala ujian sudah tiba, semua diantara kita semakin tenggelam dalam khusyu ibadah. Memohon pada Dzat yang berkuasa untuk membantu angkatan tercinta lulus dalam ujian ini.

Ingat, tatkala kita bersama melakukan out bond yang menyenangkan di akhir tahun kita bersama, meski ada saat dimana kita terbawa emosi oleh seseorang yang begitu mudah menyulut emosi kita. Itu semua demi bekal kita di kampus sekarang ini.


Ingat, tatkala perasaan sedih mulai menghampiri, tatkala salah seorang sahabat kita pulang ke rumah keluarganya. Berpisah sementara sampai pesta tasyakuran tiba.

Ingat, tatkala kita yang tersisa melakukan perjalanan terakhir kita bersama ke pantai tanpa nama. Dengan mencegat truk kita menumpang sambil makan-makan di atasnya. Bernyanyi dan tertawa bersama.

Ingat, tatkala kita berfoto bersama di pantai itu, dengan mengejar kepiting hanya untuk mencari kesenangan akibat stres karena ujian. Kemudian kita ngemil bersama ditemani segelas teh manis untuk mengisi energi sebelum kita pulang kembali.

Ingat, tatkala kita seperti gelandangan di pinggir jalan, menunggu kendaraan untuk dicegat yang tak kunjung datang. Sampai akhirnya kita berlari hingga kita mendapat mobil atau angkot untuk kita tumpangi.


Ingat, tatkala kita kembali berfoto bersama sebelum semua dari kita kembali ke rumah masing-masing. Seakan ingin meninggalkan kenangan sebanyak-banyaknya sebelum kita meninggalkan tempat itu.

Ingat, tatkala semua itu terasa begitu dekat, tatkala kita masih bisa sering tertawa dan sedih bersama.

Ingat, ingat kembali semua itu agar jalinan ini tidak pernah padam dan putus dimakan usia. Jadikan segala yang telah bersama kita lalui menjadi penyemangat di kampus sekarang ini. Jadikan mimpi-mimpi yang pernah kita tegaskan satu sama lain terwujud, dan kelak kita akan berkumpul kembali sesuai peran kita untuk negeri dan bangsa ini. Bahkan insya Allah kita kan kembali dipersatukan di alam setelah mati, dalam surga FirdausNya yang abadi.


Ingatlah , sebelum akhir hayat ini menghampiri. Ingat bahwa aku berkata, Uhibbukum fillah...



Kamis, 25 Februari 2010

Nahnu Du'at Qobla Kulli Syai'

“ Katakanlah (Muhammad), “inilah jalanku, aku dan orang – orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin . Maha Suci Allah , dan aku tidak termasuk orang – orang yang musyrik .“ (QS 12:8)

Nahnu du’at qobla kulli syai’ . Kami adalah da’i ( penyeru dakwah ) sebelum menjadi sebagai yang lainnya . Slogan yang tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita selaku pribadi atau individu yang mengaku sebagai aktivis dakwah , baik di kampus , sekolah , atau lingkungan masyarakat . Sebuah kalimat penuh dan sarat makna , yang menceminkan totalitas , kebanggaan , komitmen , militansi , dan semangat para juru dakwah .
Slogan ini bukanlah tiada memiliki makna . Bukan hanya untuk sekadar gagah – gagahan . Slogan ini bukan pula sebagai basa – basi belaka . Ia adalah pengingat bagi kita , bahwa sebagai apapun kita saat ini – pelajar , mahasiswa , karyawan , guru , pengusaha , pejabat , atau apapun – misi dakwah tidak boleh dilupakan .
Hendaknya bagi para penggerak dakwah , di mana saja dia berada , mampu mengalirkan dakwah bersama dengan aliran darah dan tarikan nafasnya , sejalan dengan gerak langkahnya , dan mampu menjadikan dakwah ini sebagai elemen terpenting dari relung hidupnya .
Setidaknya ada empat aktivitas yang seharusnya tidak boleh terlepas dari keseharian seorang aktivis dakwah , sebagai apapun dia sekarang ini .
Pertama adalah menyebarluaskan hidayah dan tuntunan dari Allah swt . Baik secara lisan , perbuatan , ataupun keteladanan .
Kedua , menyebarluaskan idealisme agar masyarakat memiliki semangat juang dan dukungan tinggi terhadap kehidupan yang islami .
Ketiga , menggiatkan amar ma’ruf nahi munkar . Namun , harap dicatat bahwa hal ini tidak selalu harus dilakukan dengan bentuk ‘kerjakan ini!’ , ‘kerjakan itu!’ , ‘jangan ini!’ , ‘jangan itu!’ atau yang sejenis dengannya . Buatlah konsolidasi , koordinasi , mobilisasi ke seluruh potensi positif yang membangun di tengah – tengah masyarakat agar member kemashlahatan umum bagi umat , bangsa , negara , dan disertai dengan langkah – langkah aplikatif dan efektif untuk meminimalisasi juga mempersempit ruang gerak bagi kemungkaran .
Keempat , memelihara simbol dan identitas masyarakat islam . Segala bentuk simbol dan identitas keislaman harus dimunculkan . Baik bersifat fisik , atau aktivitas . Agar masyarakat lebih mudah menerima dan terkondisikan , maka idealnya segala bentuk identitas keislaman itu , baik fisik atau non fisik , diselaraskan dengan tradisi masyarakat. Selama tidak bertentangan dengan syari’at islam . Simbol mungkin bukan untuk dinomorsatukan , tetapi ia termasuk elemen penting guna memelihara substansi . Terlebih apabila itu termasuk ke dalam tuntutan syar’i .
Maka saudaraku , teruslah bergerak . Jangan sampai kita lupa akan jati diri kita . Terbuai dan terlena dengan segala kemudahan dan kenikmatan kondisi yang tengah ada saat ini . Alirkanlah dari diri kita pancaran kebaikan dan segala kemanfaatan . Warnailah mereka dengan warna Allah dan jangan sampai diri kita terwarnai dengan warna selain warnaNya .
Nahnu du’at qobla kulli syai’ , untuk menciptakan dan mencetak generasi rabbani yang seimbang iman , ilmu ,dan amal serta menjadi rahmat bagi sekalian alam .

Setiap Langkah Adalah Anugerah

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Al-Hasyr : 18)


Ada kisah menarik yang semoga dapat kita ambil ibrohnya ..

Seorang profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer pada tanggal 1 Desember. Di sana ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, bernama Ralph. Ralph yang dikirim untuk menjemput sang profesor di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan kopor.
Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka. Kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi profesor itu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Dari mana Anda belajar melakukan hal-hal seperti itu ?" tanya sang profesor. "Melakukan apa ?" kata Ralph. "Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu?" "Oh," kata Ralph, "selama perang, saya kira." Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang
tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.
"Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah,"katanya. "Saya tak pernah tahu apakah langkah berikutnya merupakan pijakan yang terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki.Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini." Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas.