Bismillah Ar Rahman Ar Rahim ..
Di dinginnya pagi ini, izinkan aku sedikit bertutur padamu kawan. Bercerita tentang keresahan dan kegelisahan yang menggelayut di dada. Bukan maksudku untuk menambah masalahmu. Bukan. Namun, hanya untuk sedikit melepas beban yang makin lama terasa makin menyesakkan jiwa.
Kawan, ingatkah engkau di liqo terakhir kita dahulu, ketika sebelum kita semua berpisah ke alam masing-masing. Ah, dirimu tak mengingatnya? Hmm, biar aku sedikit menggalinya ya kawan? Waktu itu aku masih sangat mengingat wejangan dari ustaz kita tercinta tentang sikap kepada "pasangan jenis" kita. Ketika itu di akhir pertemuan seorang saudara kita menanyakan sikap yang harus kita pegang tatkala berhadapan dengan "pasangan jenis" yang mendekati diri dan mulai menarik hati. Ingatkah kau jawaban ustaz kita? Aku masih ingat kawan. Jauhi ia sesuai pemahamannya. Jauhi ia sesuai dengan "tingkat" dan berapa lama ia ter-tarbiyah. Jauhi dan jangan sekali-kali mendekati atau memancing agar ditanggapi. Ya kawan, intinya jauhi. Karena meski sepele -aku katakan SEPELE- permasalahan ini berkaitan dengan hati. Dan tahukah kau kawan bila hati ini sudah bergerak bukan karenaNya? Itulah RIYA kawan. Syirik kecil yang merusakkan amalan. Bahkan bisa membuat kita terhujam dalam di panasnya jahanam.
Namun kawan, lihatlah diri ini sekarang. Aku malu kawan. Aku malu dengan diriku dua tahun silam tatkala aku masih mampu memegang komitmen untuk bergerak bersama hanya untukNya. BUKAN untuknya. Aku malu kawan tatkala aku membiarkan diriku mencium aroma neraka sedekat-dekatnya dengan membiarkan hati ini membuka terhadap nafsu belaka karena mereka -pasangan jenis kita-. Aku malu tatkala aku merasa tak pantas membangun generasi rabbani (karena diri ini pun jauh dari itu) ketika hati ini berat untuk mengatakan dan memutuskan bahwa apa yang aku rasa ini salah. Aku malu kawan.
Masih ingatkah kau kawan? Tentang apa yang telah dijelaskan oleh ustaz kita di kumpul pekanan. Bahwa masing-masing diri ita ini berharga kawan. Bahkan sangat berharga. Tidak teritung berapa banyak tenaga, dana, dan mungkin darah yang tercurah untuk melahirkan kita sebagai kader dakwah. Tidak terhitung kawan. Namun, lihatlah diri kita sekarang. Lihat diriku sekarang. Masihkah aku pantas menyebut diriku kader dakwah? Seorang kader dakwah tak pernah mengeluh mengerjakan amalan yaumiyah tapi aku mengeluh tatkala mengerjakan amalan sunnah dan tilawah. Seorang kader hdakwah harus bisa menjadi panutan dan teladan tapi aku , ah kau tahu sendiri bagaimana aku sekarang, pantaskah aku disebut teladan? Seorang kader dakwah paling tahu bagaimana menjaga hatinya, sementara kau tahu kawan? Hati ini masih sering tergoda oleh makhluknya dan itu melenakan aku dari amanahku. Seorang kader dakwah tahu tentang pentingnya tarbiyah dan segala sarana pra sarananya tetapi aku hanya tahu teori kawan jarang aku aplikasikan. Malu aku kawan. Malu.
Kawan, ingatkah kau tentang materi persaudaraan yang kerap kali kau sebut ukhuwwah? Bah, aku lebih malu kawan tatkala aku suka merasa berat mambantu saudaraku. Aku merasa terbebani ketika tenaga dan harta ini kubagi dengannya. Aku merasa berat untuk mengeluarkan infaq, padahal kau tahu itu wajib untukku. Aku masih kurang mengenali masalah mereka tidak seperti mereka yang begitu mudah mengenali masalahku. Kawan, masihkah aku pantas menyebut ukhuwwah antara kita, aku denganmu, aku dengan mereka, kuat? Aku ragu kawan. Ragu.
Namun kawan ditengah penyesakkan atas segala yang menghadang, aku ingat. Ingat akan ayatNya "Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta" (Q.S Al Ankabut : 1-4) .
Maka aku anggap ini ujianku kawan, ujian keimanan yang pasti berbuah kemenangan.
Sabtu, 29 Mei 2010
Sabtu, 22 Mei 2010
Sejenak Mencoba Menjamah Sepi Itu .. (Serial Keluarga)
Tatkala sejenak menyegarkan diri dari keseharian yang begitu padat, iseng-iseng saya kembali menonton sebuah film yang kebetulan ada di file komputer temen saya. Film Indonesia yang begitu berkesan buat saya karena mencakup pelbagai aspek meski tak lepas dari beberapa kekurangan yang masih ada. Film yang mengisahkan tentang Ayah dan Anak yang berasal dari Medan, yang di mana Sang Ayah adalah seorang mantan jendral dan Sang Anak adalah wiraswasta sukses di Jakarta. Ya, film itu adalah Nagabonar jadi 2.
Tersadar mungkin begitu bodoh diri ini. Tatkala kita seakan malu ketika orang tua yang telah membesarkan kita, menunjukkan kasih sayangnya yang begitu besar (sering kita anggap kasih sayang yang berlebihan). Malu. Malu dan langsung berkata pada orang tua kita, "Ah Pak, aku kan udah besar. Ga usah di kayak gitu lagi ah. Malu." Atau, "Ibu, jangan gtu ah. Malu nih. Ga enak diliat ama teman-teman. Nti dikira aku masih kayak anak kecil lagi." Ya, jadi sadar betapa aku begitu sering terlintas dalam hati kata-kata seperti itu. Padahal mungkin, itu adalah tanda limpahan kasih sayangnya yang begitu besar terhadap kita. Rindunya yang tiada terkira setelah begitu lama berpisah dengan anak yang dicintainya. Keinginannya untuk selalu bersama kita, putra putri yang dicintai olehnya.
Mungkin saat ini kita belum merasakan. Rasa kesepian yang dirasakan oleh orang tua kita tatkala kita jauh dari mereka. Rasa rindu mereka tatkala mereka ingat masa kecil kita yang begitu manja, haus akan belaian lembut mereka. Kita belum merasakan! Sehingga mudah lah bagi kita terucap dan terlintas kata-kata seperti di atas tadi. Ah, padahal kita tahu. Sepi itu rasa dan saat yang sering memberi rasa tidak nyaman. Apalagi sepi dari orang yang dikasihi. Dan orang tua sering kali merasakan sepi itu tatkala di usia mereka yang kian menanjak senja, meski kita tidak menyadarinya.
Seringkah kita terlupa akan keberadaan orang tua kita di rumah? Bahkan mungkin kita lebih sering teringat dengan si "dia" yang belumlah pasti halal untuk kita. Ingat sahabat, belum halal! Yah, buktinya kita sering lebih merisaukan dan menanyakan kabar tentangnya dari pada orang tua kita. Sedikit-sedikit kita sms "dia" dan bertanya, "Sudah makan belum?" "Lagi apa?" dan sebagainya. Padahal pernahkan kita risau terhadap kabar orrang tua kita? Risau, apakah mereka sedang bahagia atau tidak? Risau apakah mereka sedang ada masalah atau tidak? Risau, apakah mereka sudah makan atau belum? Rasa-rasanya bisa dikatakan jarang (atau malah ga pernah?). Padahal sahabat, bisa jadi kini dia sedang dirundung sepi.
Sedikit berbagi, tatkala ibu saya pulang ke rumah dan mendapatkan kue atau makanan, yang pertama kali ibu saya lakukan adalah menelepon saya dan menanyakan, "Kapan bisa pulang? Ibu di rumah lagi banyak makanan nih. Kue kesukaan kamu dho." Selalu dan selalu seperti itu. Padahal ketika kita mendapatkan rezeki yang banyak atau berlebih, langsungkah kita teringat pada ibunda atau ayahanda?
Sungguh, betapa diri ini merasa sangat merugi.
Semoga Allah masih memberi izin untuk membaktikan diri pada mereka dan menorehkan senyum termanis dan terindah di bibir mereka seraya berkata, "Aku mencintaimu. Ibu, Ayah"
Selasa, 18 Mei 2010
Apa Kabar Mentoring Kecil Kita Hari Ini ? (Tarbiyah Series)
Mungkin kita sering ya merasa jenuh dan bosan dengan apa yang disebut 'mentoring' , 'halaqoh' , 'melingkar' , dan sejenisnya yang terangkum dalam kata TARBIYAH. Saya pun juga dulu sering merasa demikian. Bukan berarti "wajar" kalau bosan dengan mentoring dan sebagainya, tapi saya ingin agar kita sama-sama memperbaiki sudut pandang kita tentang satu kegiatan dahsyat full manfaat ini.
Loh, bukannya mentoring atau liqo itu cuma 'mengaji' aja ya ? Membahas tentang keislaman yang itu-itu saja. Eits, tarbiyah TIDAK sesederhana itu bung! Bayangkan 'hanya' dengan tarbiyah yang SEHAT Rasulullah berhasil membawa umat manusia (bangsa Arab pada khususnya) kepada apa yang disebut dengan kesuksesan. Baik dunia maupun akhirat. Juga membawa kita semua dari zaman onta menuju zaman toyota. Ini fakta! Bukan rekaan belaka!
Wah kalo gtu keren banget dong yang namanya TARBIYAH itu ..
Jelas! Namun, ada syaratnya agar kita bisa mendapat manfaat maksimal seperti itu. Agar kita ga cuma mendengar dan didengar, tetapi kita juga akan bisa MENGUBAH dan MEMBANGUN PERADABAN!
Mantap gan!
Emang apa aja syaratnya?
Sabar bos. Sebelumnya yuk kita periksa diri. Check up dulu keadaan tarbiyah kita. Sehat atau malah sedang sekarat?
Yuk kita mulai periksa ..
Bagaimana keadaan kita pas ingin memulai mentoring? Segar bugar? Atau pucat dan lemas seperti kapas? Mudah tertiup angin. Jadi pikiran mudah terbawa kemana-mana, dan kepala mudah jatuh (tertidur) karenanya.
Kalau segar, alhamdulillah. Tapi kalau lemas, lesu, letih, letoy, ga semangat, ini na'uzubillah.
Kudu dianalisis kenapa bisa begini. Biasanya sih karena waktu yang digunakan ga pas. Maksudnya? Iya , kita sering menggunakan waktu-waktu SISA untuk liqo atau mentoring. Jadi tenaga yang digunakan adalah tenaga SISA sehari tadi, waktunya waktu SISA, infaqnya uang SISA (malah seringnya ga infaq), semangatnya pun jadi semangat sisa. Lebih bahayanya lagi kalau murobbinya juga memeberi materi SISA karena ga kepikiran mau ngasih matei apa. Ini mah udah akut pisan. Satu hal yang harus kita ingat. KALAU KITA HANYA MENGGUNAKAN SEGALA SISA UNTUK DAKWAH, JANGAN BERMIMPI MENDAPATKAN HASIL OPTIMAL AKHIRNYA. Bahkan kita mungkin Allah beri pahala sisa, rahmat sisa, dan parahnya nanti Allah hanya memberikan kita JATAH SISA SURGA (padahal GA MUNGKIN bersisa, jadi kata lainnya adalah Neraka) Na'uzubillah .
Kemudian gimana hubungan kita dengan sesama teman satu geng kita? Udah pada ITSAR? Bukan sekadar kenal, tapi harus ITSAR. Ini baru yang SEHAT! Jangan sampai kita tidak update terhadap kabar teman satu grup kita. Itu mah kebangetan! Ingat disini mentoring juga bisa dikatakan keluarga. USRAH. Jadi GA WAJAR banget kalau kita tidak tahu dan tidak mau tahu keadaan keluarga kita.
Nah sekarang bagaimana hubungan kita dengan kepala geng? Alias Murobbi atau Mentor kita?
Ah baik-baik aja kayaknya. Eh, jangan ambil kesimpulan dulu. Kita renungkan dan kita ingat apa posisi murobbi bagi kita. Yak tepat! Sebagai SAHABAT, ORTU, GURU, dan SYEIKH. Kalau tidak terwujud salah satu , dua, tiga, atau empat-empatnya itu berarti ada masalah bung!
Loh kenapa emang kok bisa disebut bermasalah. Perasaan lancar-lancar aja deh.
Nih kita lihat ..
Halaqoh atau mentoring kamu berfungsi sebagai apa?
1. Tempat persidangan : di sini para mutarobbi seakan-akan disidang oleh murobbinya. Suasananya angker dan tegang banget. Jadi interaksi yang terjadi hanya satu arah. Udah gitu tampang murobbi kita juga seram, jadi aja makin mendukung suasana persidangan. Kita selalu tertekan. GA KONDUSIF!
2. Tempat curhat : emang baik sih. Tapi curhat itu salah satu agenda mentoring bukan mentoring salah satu cara curhat! Masalah kita memang banyak, nah di sini lah peran tarbiyah untuk mendewasakan kita. Kalau kita curhat mulu kerjaannya, kapan kita membahas permasalahan umat ? Kapan kita men-charge diri kita agar menjadi jauh lebih siap ke depannya.
3. Tempat nongkrong dan kongkow : ini terjadi kalau hubungan kita terlalu cair. Cair boleh tapi jangan sampai keluar dari wadahnya. Jangan sampai kegiatan kita pas mentoring dari awal sampai akhir hanya TERTAWA dan BERCANDA saja. Jangan berlebihan! Karena itu bisa mengeraskan hati kita. Dan hubungan yang terlalu cair bisa menghilangkan rasa hormat dari mutarobbi ke murobbi. Wah bahaya! Kalau udah ga hormat gimana mau taat?
4. Tempat mencari jati diri dan pengembangan potensi : nah ini bisa dikatakan bentuk ideal. Contohnya mah gampang. Lihat Umar bin Khattab, tarbiyah yang seperti ini bisa menggerakkan Umar untuk menyumbangkan SEPARUH HARTANYA di jalan ALLAH. Atau Abu Bakar, yang SELURUH HARTANYA ia infaqkan. Atau seperti Khalid bin Walid yang tetap TAAT walaupun 'DIPECAT' dari jabatan panglima.
Nah bagaimana dengan kita?
Izinkan saya bertanya pada kita semua, APA KABARNYA TARBIYAHKU HARI INI?
(Sebenarnya masih banyak yang ingin saya diskusikan di sini, tetapi Insya ALLAH lain waktu saya lanjut kembali.)
Loh, bukannya mentoring atau liqo itu cuma 'mengaji' aja ya ? Membahas tentang keislaman yang itu-itu saja. Eits, tarbiyah TIDAK sesederhana itu bung! Bayangkan 'hanya' dengan tarbiyah yang SEHAT Rasulullah berhasil membawa umat manusia (bangsa Arab pada khususnya) kepada apa yang disebut dengan kesuksesan. Baik dunia maupun akhirat. Juga membawa kita semua dari zaman onta menuju zaman toyota. Ini fakta! Bukan rekaan belaka!
Wah kalo gtu keren banget dong yang namanya TARBIYAH itu ..
Jelas! Namun, ada syaratnya agar kita bisa mendapat manfaat maksimal seperti itu. Agar kita ga cuma mendengar dan didengar, tetapi kita juga akan bisa MENGUBAH dan MEMBANGUN PERADABAN!
Mantap gan!
Emang apa aja syaratnya?
Sabar bos. Sebelumnya yuk kita periksa diri. Check up dulu keadaan tarbiyah kita. Sehat atau malah sedang sekarat?
Yuk kita mulai periksa ..
Bagaimana keadaan kita pas ingin memulai mentoring? Segar bugar? Atau pucat dan lemas seperti kapas? Mudah tertiup angin. Jadi pikiran mudah terbawa kemana-mana, dan kepala mudah jatuh (tertidur) karenanya.
Kalau segar, alhamdulillah. Tapi kalau lemas, lesu, letih, letoy, ga semangat, ini na'uzubillah.
Kudu dianalisis kenapa bisa begini. Biasanya sih karena waktu yang digunakan ga pas. Maksudnya? Iya , kita sering menggunakan waktu-waktu SISA untuk liqo atau mentoring. Jadi tenaga yang digunakan adalah tenaga SISA sehari tadi, waktunya waktu SISA, infaqnya uang SISA (malah seringnya ga infaq), semangatnya pun jadi semangat sisa. Lebih bahayanya lagi kalau murobbinya juga memeberi materi SISA karena ga kepikiran mau ngasih matei apa. Ini mah udah akut pisan. Satu hal yang harus kita ingat. KALAU KITA HANYA MENGGUNAKAN SEGALA SISA UNTUK DAKWAH, JANGAN BERMIMPI MENDAPATKAN HASIL OPTIMAL AKHIRNYA. Bahkan kita mungkin Allah beri pahala sisa, rahmat sisa, dan parahnya nanti Allah hanya memberikan kita JATAH SISA SURGA (padahal GA MUNGKIN bersisa, jadi kata lainnya adalah Neraka) Na'uzubillah .
Kemudian gimana hubungan kita dengan sesama teman satu geng kita? Udah pada ITSAR? Bukan sekadar kenal, tapi harus ITSAR. Ini baru yang SEHAT! Jangan sampai kita tidak update terhadap kabar teman satu grup kita. Itu mah kebangetan! Ingat disini mentoring juga bisa dikatakan keluarga. USRAH. Jadi GA WAJAR banget kalau kita tidak tahu dan tidak mau tahu keadaan keluarga kita.
Nah sekarang bagaimana hubungan kita dengan kepala geng? Alias Murobbi atau Mentor kita?
Ah baik-baik aja kayaknya. Eh, jangan ambil kesimpulan dulu. Kita renungkan dan kita ingat apa posisi murobbi bagi kita. Yak tepat! Sebagai SAHABAT, ORTU, GURU, dan SYEIKH. Kalau tidak terwujud salah satu , dua, tiga, atau empat-empatnya itu berarti ada masalah bung!
Loh kenapa emang kok bisa disebut bermasalah. Perasaan lancar-lancar aja deh.
Nih kita lihat ..
Halaqoh atau mentoring kamu berfungsi sebagai apa?
1. Tempat persidangan : di sini para mutarobbi seakan-akan disidang oleh murobbinya. Suasananya angker dan tegang banget. Jadi interaksi yang terjadi hanya satu arah. Udah gitu tampang murobbi kita juga seram, jadi aja makin mendukung suasana persidangan. Kita selalu tertekan. GA KONDUSIF!
2. Tempat curhat : emang baik sih. Tapi curhat itu salah satu agenda mentoring bukan mentoring salah satu cara curhat! Masalah kita memang banyak, nah di sini lah peran tarbiyah untuk mendewasakan kita. Kalau kita curhat mulu kerjaannya, kapan kita membahas permasalahan umat ? Kapan kita men-charge diri kita agar menjadi jauh lebih siap ke depannya.
3. Tempat nongkrong dan kongkow : ini terjadi kalau hubungan kita terlalu cair. Cair boleh tapi jangan sampai keluar dari wadahnya. Jangan sampai kegiatan kita pas mentoring dari awal sampai akhir hanya TERTAWA dan BERCANDA saja. Jangan berlebihan! Karena itu bisa mengeraskan hati kita. Dan hubungan yang terlalu cair bisa menghilangkan rasa hormat dari mutarobbi ke murobbi. Wah bahaya! Kalau udah ga hormat gimana mau taat?
4. Tempat mencari jati diri dan pengembangan potensi : nah ini bisa dikatakan bentuk ideal. Contohnya mah gampang. Lihat Umar bin Khattab, tarbiyah yang seperti ini bisa menggerakkan Umar untuk menyumbangkan SEPARUH HARTANYA di jalan ALLAH. Atau Abu Bakar, yang SELURUH HARTANYA ia infaqkan. Atau seperti Khalid bin Walid yang tetap TAAT walaupun 'DIPECAT' dari jabatan panglima.
Nah bagaimana dengan kita?
Izinkan saya bertanya pada kita semua, APA KABARNYA TARBIYAHKU HARI INI?
(Sebenarnya masih banyak yang ingin saya diskusikan di sini, tetapi Insya ALLAH lain waktu saya lanjut kembali.)
Ketika Cinta Bersemi Di Dunia Maya (re-post)
Dulu aku mengenalmu,
Sejak pertama komentar di statusmua,
Lalu kau balik komentar di statuskua
Semua interaksi yang terkesan biasa
komentar yang semua biasa.
Suatu hari aku tersentak kaget,
Dengan statusmu yang sama dengan statusku,
Di wall mu dan di wall ku tertulis:
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`” (QS. Al-Baqarah:75)
Aku langsung koment, bilang kalau status kita sama,
Kau tampak biasa, aku pun sama
Beberapa hari berikutnya
Di wall ku tertulis:
“Kebajikan itu ialah akhlak yang baik dan dosa itu ialah sesuatu yang merisaukan dirimu dan kamu tidak senang bila diketahui orang lain. (HR. Muslim)”
Kau langsung koment, status kita sama lagi,
Beberapa kali berikutnya begitu
Lagi dan lagi
Dan bukan hanya sekali dua kali
---------------------------------------------
Semakin lama kita semakin dekat
Interaksi seakan begitu padat
Dari situ aku mulai terpikat
Betapa hati ini seakan terikat
------------------------------------------
Yang begitu membuatku semakin kaget
Pada hari itu,
Handphoneku berdering, dari no. tanpa nama
Aku angkat…
Salam dari Suara ujung sana terdengar
Suara seorang ibu.
“Assalamu’alaikum.. Nak”,
“wa’alaikumsalam Bu,”
“Koq, suaramu seperti seorang perempuan Nak?”
“Aku memang perempuan Bu,”
Belakangan baru aku ketahui,
Bahwa itu Ibumu,
Yang nyasar ingin menelponmu
Tapi malah sambung ke no.ku
No. HP kita ternyata hanya berbeda satu angka,
Dan itu membuat ibumu nyasar menelponku.
Tidak tahu, apakah ini hanya kebetulan semata?
-----------------------------------
Sejak itu, obrolan berlanjut via HP.
Bercanda,
Berkenalan,
Aktifitas apa?
Kuliah di mana?
Jurusan apa?
Semester berapa?
Dan lain-lain..
.
Lagi - lagi aku terkesima
Jurusan kita ternyata sama
Aku semakin Tak mengerti, apakah ini masih di anggap kebetulan semata?
----------------------------
Beberapa hari berselang
Kau mulai mengurangi ritme interaksi kita
Aku tidak paham
Kau pun mulai diam
--------------------------------
Dalam perjalananku pulang kampung waktu itu
Malam ku sendiri tak terlelap
Dalam kereta,
Aku mencoba membuka akunmu
Tak bisa terbuka,
Ternyata kau meremove ku
Aku menangis,
Aku pun risau,
Apakah salah ku?
Mencoba untuk tetap tenang dalam tidurku
Mimpi…mimpi…
Mimpi yang membuatku bangun seketika
Di tengah malam itu
Perasaanku semakin tak enak,
Gemetar tubuhku,
mengetik SMS untukmu,
ku awali menanyakan sujud mu malam ini?
Dan menanyakan
Apa alasanmu meremove akunku?
Ku tunggu balasanmu
Tak ada
Akupun mendesak mu
Tolong dibalas
Agar aku bisa tenang
Agar aku bisa kembali bermimpi
-----------------------------
Cahaya pagi mulai menyapa
Menembus sela-sela ruang yang menerpa
Kau membalas SMS itu,
Kau bilang tidak ada apa-apa
Kau meminta ku
Untuk SMS seperlunya
Tanpa canda,
Tanpa sia-sia,
Tanpa ada kata percuma,
Waktu pun ikut berbicara
Tidak juga di atas jam 9 malam,
Tidak dini hari,
Tidak usah mengingatkan Sujud malammu
Kau bilang takut menimbulkan fitnah
termasuk untuk menetralisir perasaan
dan untuk meremove ku dari fikiranmu.
Aku sepakat dengan syaratmu.
Aku pun menangis sejadi-jadinya,
Ternayata selama ini aku begitu,
-------------------
Semua Akun FB ku, kau blokir
No.HP mu kau ganti
Semua celah kau tutup rapat
Tak ada komunikasi
Tak ada lagi interaksi
Aku memilih sepi,
memilih sendiri,
Sepi dalam tangisan mata
Sendiri dalam linangan gerimis jiwa
Tangisan tak tertahankan
Di sepertiga malam terkahir
Aku memohon ampunan
Ya Ghofar
Ya Syahiid
Ampuni Hamba-Mu ini
Saksikanlah gemuruh pengharapan
Pengampunan atas segala dosa
--------------------------
Wahai kau yang ada disana
Kini Aku akan menikah
Di hari pernikahanku nanti
Aku ingin kau datang
Sebagai penenang hatiku
Bahwa kau telah bahagia
Jika semua berjalan sesuai rencanamu
Seharusnya kau sudah menikah di bulan Syawal tahun lalu
Di bulan sebelumnya aku pernah menunggu
Menuggu akan ada telepon lagi dari ibumu
Tapi bukan karena nyasar
Tapi menunggu kabar dari ibumu
Bahwa kau kan melamarku
Tapi ternyata tidak
Hampa
Kosong
Tak bertuan
----------------------
Aku tahu,
Aku memang tidak pantas untukmu
Aku yang pernah mengotori hatimu
Maafkan aku
Karena kau pernah bilang :
“jika menginginkan sesuatu yang suci, maka harus di tempuh dengan jalan yang suci pula”
Wahai kau yang ada disana
Aku memang tidak pantas untukmu
Terimakasih atas semua
Kau lebih pantas dengan yang lebih terjaga juga
----------------------------
Kini Aku akan menikah
Menikah dengan orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya
Semua aku serahkan pada kakak laki-laki tertuaku
Tanpa Ta’aruf
Tanpa Nazhar
Aku percaya pada kakakku untuk memilih yang terbaik untukku
Sejak kejadian itu
Aku putuskan semua interaksi dengan lawan jenis
Aku menjadi terlalu sensitife dengan mereka
Karena kau pernah bilang
“seorang yang mengaku dirinya hamba, tidak akan mengulangi kesalahan berulang-ulang kali”
-----------------------
Kini Aku Akan Menikah…
Maafkan aku menulis begini
Kau tak lagi mungkin membaca catatanku ini,
karena ternyata blokir lebih kejam dari remove
Dan memang bukan itu yang kuharapkan..
Ku hanya ingin mengingatkan pada yang lain,
sebagai pelajaran untuk semua
Just It..
---------------------------
karena Aku Akan Menikah
Sejak pertama komentar di statusmua,
Lalu kau balik komentar di statuskua
Semua interaksi yang terkesan biasa
komentar yang semua biasa.
Suatu hari aku tersentak kaget,
Dengan statusmu yang sama dengan statusku,
Di wall mu dan di wall ku tertulis:
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`” (QS. Al-Baqarah:75)
Aku langsung koment, bilang kalau status kita sama,
Kau tampak biasa, aku pun sama
Beberapa hari berikutnya
Di wall ku tertulis:
“Kebajikan itu ialah akhlak yang baik dan dosa itu ialah sesuatu yang merisaukan dirimu dan kamu tidak senang bila diketahui orang lain. (HR. Muslim)”
Kau langsung koment, status kita sama lagi,
Beberapa kali berikutnya begitu
Lagi dan lagi
Dan bukan hanya sekali dua kali
---------------------------------------------
Semakin lama kita semakin dekat
Interaksi seakan begitu padat
Dari situ aku mulai terpikat
Betapa hati ini seakan terikat
------------------------------------------
Yang begitu membuatku semakin kaget
Pada hari itu,
Handphoneku berdering, dari no. tanpa nama
Aku angkat…
Salam dari Suara ujung sana terdengar
Suara seorang ibu.
“Assalamu’alaikum.. Nak”,
“wa’alaikumsalam Bu,”
“Koq, suaramu seperti seorang perempuan Nak?”
“Aku memang perempuan Bu,”
Belakangan baru aku ketahui,
Bahwa itu Ibumu,
Yang nyasar ingin menelponmu
Tapi malah sambung ke no.ku
No. HP kita ternyata hanya berbeda satu angka,
Dan itu membuat ibumu nyasar menelponku.
Tidak tahu, apakah ini hanya kebetulan semata?
-----------------------------------
Sejak itu, obrolan berlanjut via HP.
Bercanda,
Berkenalan,
Aktifitas apa?
Kuliah di mana?
Jurusan apa?
Semester berapa?
Dan lain-lain..
.
Lagi - lagi aku terkesima
Jurusan kita ternyata sama
Aku semakin Tak mengerti, apakah ini masih di anggap kebetulan semata?
----------------------------
Beberapa hari berselang
Kau mulai mengurangi ritme interaksi kita
Aku tidak paham
Kau pun mulai diam
--------------------------------
Dalam perjalananku pulang kampung waktu itu
Malam ku sendiri tak terlelap
Dalam kereta,
Aku mencoba membuka akunmu
Tak bisa terbuka,
Ternyata kau meremove ku
Aku menangis,
Aku pun risau,
Apakah salah ku?
Mencoba untuk tetap tenang dalam tidurku
Mimpi…mimpi…
Mimpi yang membuatku bangun seketika
Di tengah malam itu
Perasaanku semakin tak enak,
Gemetar tubuhku,
mengetik SMS untukmu,
ku awali menanyakan sujud mu malam ini?
Dan menanyakan
Apa alasanmu meremove akunku?
Ku tunggu balasanmu
Tak ada
Akupun mendesak mu
Tolong dibalas
Agar aku bisa tenang
Agar aku bisa kembali bermimpi
-----------------------------
Cahaya pagi mulai menyapa
Menembus sela-sela ruang yang menerpa
Kau membalas SMS itu,
Kau bilang tidak ada apa-apa
Kau meminta ku
Untuk SMS seperlunya
Tanpa canda,
Tanpa sia-sia,
Tanpa ada kata percuma,
Waktu pun ikut berbicara
Tidak juga di atas jam 9 malam,
Tidak dini hari,
Tidak usah mengingatkan Sujud malammu
Kau bilang takut menimbulkan fitnah
termasuk untuk menetralisir perasaan
dan untuk meremove ku dari fikiranmu.
Aku sepakat dengan syaratmu.
Aku pun menangis sejadi-jadinya,
Ternayata selama ini aku begitu,
-------------------
Semua Akun FB ku, kau blokir
No.HP mu kau ganti
Semua celah kau tutup rapat
Tak ada komunikasi
Tak ada lagi interaksi
Aku memilih sepi,
memilih sendiri,
Sepi dalam tangisan mata
Sendiri dalam linangan gerimis jiwa
Tangisan tak tertahankan
Di sepertiga malam terkahir
Aku memohon ampunan
Ya Ghofar
Ya Syahiid
Ampuni Hamba-Mu ini
Saksikanlah gemuruh pengharapan
Pengampunan atas segala dosa
--------------------------
Wahai kau yang ada disana
Kini Aku akan menikah
Di hari pernikahanku nanti
Aku ingin kau datang
Sebagai penenang hatiku
Bahwa kau telah bahagia
Jika semua berjalan sesuai rencanamu
Seharusnya kau sudah menikah di bulan Syawal tahun lalu
Di bulan sebelumnya aku pernah menunggu
Menuggu akan ada telepon lagi dari ibumu
Tapi bukan karena nyasar
Tapi menunggu kabar dari ibumu
Bahwa kau kan melamarku
Tapi ternyata tidak
Hampa
Kosong
Tak bertuan
----------------------
Aku tahu,
Aku memang tidak pantas untukmu
Aku yang pernah mengotori hatimu
Maafkan aku
Karena kau pernah bilang :
“jika menginginkan sesuatu yang suci, maka harus di tempuh dengan jalan yang suci pula”
Wahai kau yang ada disana
Aku memang tidak pantas untukmu
Terimakasih atas semua
Kau lebih pantas dengan yang lebih terjaga juga
----------------------------
Kini Aku akan menikah
Menikah dengan orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya
Semua aku serahkan pada kakak laki-laki tertuaku
Tanpa Ta’aruf
Tanpa Nazhar
Aku percaya pada kakakku untuk memilih yang terbaik untukku
Sejak kejadian itu
Aku putuskan semua interaksi dengan lawan jenis
Aku menjadi terlalu sensitife dengan mereka
Karena kau pernah bilang
“seorang yang mengaku dirinya hamba, tidak akan mengulangi kesalahan berulang-ulang kali”
-----------------------
Kini Aku Akan Menikah…
Maafkan aku menulis begini
Kau tak lagi mungkin membaca catatanku ini,
karena ternyata blokir lebih kejam dari remove
Dan memang bukan itu yang kuharapkan..
Ku hanya ingin mengingatkan pada yang lain,
sebagai pelajaran untuk semua
Just It..
---------------------------
karena Aku Akan Menikah
Opera Van Dakwah : Ikhwan Kolektor Akhwat (re-post + edit)
Menemukan lagi notes yang menohok dan menyindir pergaulan para aktivis-aktivis yang sedang memerah jambu merona ..
Semoga notes ini bisa menjadi tazkirah ringan , sebelum peringatanNya yang jauh lebih berat menghampiri kita ..
Notes ini saya kembali mere-post , edit , dan menambah dari seorang saudari kita di jalan Allah ..
Opera Van Dakwah : Ikhwan Kolektor Akhwat ..
Ketika kau lewat di bumi tempat ku berdiri ..
Kedua mata ini tak berkedip menatapi ..
Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku ..
Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu ..
“Subhanallah ciptaan Allah ..”
Bertasbih sang ikhwan menikmati yang tak halal baginya ..
*salah akhwat nya juga ngapain narsis nampang ..
Pesona teduh wajahmu ..
Mampu mengalihkan duniaku ..
“Cewek emang lebih manis kalo pake jilbab ..”
“Suka deh cara pake jilbabnya ukhti ..”
“Tenang rasanya memandangmu ukhti ..”
“Ukhti .. Wajah dan jilbabmu mengalihkan duniaku ..”
Hufffh .. (>_<)
Ga ngefek langsung pake jurus gombal begituan ..
Ganti kosa kata ..
“Subhanallah .. Mantap ukh argumennya ..”
“Briliant .. Ide cerdas !”
“Suka orasinya ukhti tadi .. Ngena banget deh ..”
“Suka semua status dan note ukhti ..”
Idiiiihhh .. (>_<)
Ga jaman hari gini masih pacaran ..
Ganti gaya ..
“Kita kan ga pacaran , temanan aja kok ..”
*Te_Te_eN…
Temen Tapi Ngarep ..
“Kami cuma sodara kok ..”
*eS_Te_eM ..
Sodara , Tapi Mesra Sangat
Akhwat juga manusia ..
Punya rasa punya hati ..
(nada rocker juga manusia-nya seurieus)
Akhirnya ..
Takhluk juga ..
Dan main hati ..
*rocker dikit ..
Hehehe
Wehh…
Sukses Euy ..
(Sing)
Dan syetan pun tertawa ..
wkwkkwwkk ..
Ngiklan dikit ..
“Satu ??? Mana cukup ..”
Si jilbab coklat ..
Manis , dan imut ..
Si jilbab biru ..
Teduh dan bersahaja ..
Si jilbab hitam ..
Tegas dan mempesona ..
Si jilbab pink ..
Menarik dan menggelitik rasa ..
*ga semua loh, tergantung akhwat dan ikhwannya*
Ngacak lagu Afgan dikit ..
Cintaku bukanlah cinta biasa ..
Cinta ini untuk dakwah ..
Owowowo ..
Apa lagi jika ukhti yang temani ku seumur hidupku ..
Blink blink blink ..
Indah semua rasa ..
Dan rasa mengalahkan logika ..
Menang telak dah tu rasa ..
Hahhayy ..
Waktu berlalu ..
Ketika sang akhwat menanyakan status ..
Tolong dengar aku ..
Jawablah pertanyaanku ..
Mau di bawa ke mana ..
Hubungan kita ??
Bukan jawaban tegas yang ada ..
Malah edCoustics yang dibawa ..
Kini… Belum lah saatnya ..
Aku… Membalas cinta mu ..
Nantikan ku di batas waktu ..
Sang akhwat resah dan gelisah ..
Dan ternyata ..
Owwowowoo ..
Kamu ketauan ..
Dua-duaan ..
Dengan dirinya ..
Teman baik ku ..
Bergaya sendu , sang playikhwan kembali beraksi ..
Maafkan bila cinta ku ..
Tak mungkin ku persembahkan seutuhnya ..
Maaf bila kau terluka ..
Karena ku jatuh ..
Di dua hati ..
Nah demikian operanya udah beres ..
Sekali lagi tidak ada maksud untuk akhwat atau ikhwan tertentu ..
Kalo ada yang merasa tersinggung , alhamdulillah ..
Semoga itu menjadi pintu hidayah ..
Pun yang tentram adem ayem ..
Semoga tetap menjadi ikhwan dan akhwat yang kalem ..
Semoga tulisan yang di re-post dan diedit sana-sini bisa kita ambil hikmahnya ..
Pun kalo ga ada , yah semoga bisa menjadi tanda ..
Bahwa ak tak ingin persaudaraan yang ada , persahabatan yang tercipta , kasih sayang dan ukhuwwah terbina , hancur oleh nafsu yang meng-atasnama-kan cinta ..
Sekian ..
Re-post , edit , dan ditambah di Pondok Kahfi ..
Kukusan , Depok
Semoga notes ini bisa menjadi tazkirah ringan , sebelum peringatanNya yang jauh lebih berat menghampiri kita ..
Notes ini saya kembali mere-post , edit , dan menambah dari seorang saudari kita di jalan Allah ..
Opera Van Dakwah : Ikhwan Kolektor Akhwat ..
Ketika kau lewat di bumi tempat ku berdiri ..
Kedua mata ini tak berkedip menatapi ..
Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku ..
Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu ..
“Subhanallah ciptaan Allah ..”
Bertasbih sang ikhwan menikmati yang tak halal baginya ..
*salah akhwat nya juga ngapain narsis nampang ..
Pesona teduh wajahmu ..
Mampu mengalihkan duniaku ..
“Cewek emang lebih manis kalo pake jilbab ..”
“Suka deh cara pake jilbabnya ukhti ..”
“Tenang rasanya memandangmu ukhti ..”
“Ukhti .. Wajah dan jilbabmu mengalihkan duniaku ..”
Hufffh .. (>_<)
Ga ngefek langsung pake jurus gombal begituan ..
Ganti kosa kata ..
“Subhanallah .. Mantap ukh argumennya ..”
“Briliant .. Ide cerdas !”
“Suka orasinya ukhti tadi .. Ngena banget deh ..”
“Suka semua status dan note ukhti ..”
Idiiiihhh .. (>_<)
Ga jaman hari gini masih pacaran ..
Ganti gaya ..
“Kita kan ga pacaran , temanan aja kok ..”
*Te_Te_eN…
Temen Tapi Ngarep ..
“Kami cuma sodara kok ..”
*eS_Te_eM ..
Sodara , Tapi Mesra Sangat
Akhwat juga manusia ..
Punya rasa punya hati ..
(nada rocker juga manusia-nya seurieus)
Akhirnya ..
Takhluk juga ..
Dan main hati ..
*rocker dikit ..
Hehehe
Wehh…
Sukses Euy ..
(Sing)
Dan syetan pun tertawa ..
wkwkkwwkk ..
Ngiklan dikit ..
“Satu ??? Mana cukup ..”
Si jilbab coklat ..
Manis , dan imut ..
Si jilbab biru ..
Teduh dan bersahaja ..
Si jilbab hitam ..
Tegas dan mempesona ..
Si jilbab pink ..
Menarik dan menggelitik rasa ..
*ga semua loh, tergantung akhwat dan ikhwannya*
Ngacak lagu Afgan dikit ..
Cintaku bukanlah cinta biasa ..
Cinta ini untuk dakwah ..
Owowowo ..
Apa lagi jika ukhti yang temani ku seumur hidupku ..
Blink blink blink ..
Indah semua rasa ..
Dan rasa mengalahkan logika ..
Menang telak dah tu rasa ..
Hahhayy ..
Waktu berlalu ..
Ketika sang akhwat menanyakan status ..
Tolong dengar aku ..
Jawablah pertanyaanku ..
Mau di bawa ke mana ..
Hubungan kita ??
Bukan jawaban tegas yang ada ..
Malah edCoustics yang dibawa ..
Kini… Belum lah saatnya ..
Aku… Membalas cinta mu ..
Nantikan ku di batas waktu ..
Sang akhwat resah dan gelisah ..
Dan ternyata ..
Owwowowoo ..
Kamu ketauan ..
Dua-duaan ..
Dengan dirinya ..
Teman baik ku ..
Bergaya sendu , sang playikhwan kembali beraksi ..
Maafkan bila cinta ku ..
Tak mungkin ku persembahkan seutuhnya ..
Maaf bila kau terluka ..
Karena ku jatuh ..
Di dua hati ..
Nah demikian operanya udah beres ..
Sekali lagi tidak ada maksud untuk akhwat atau ikhwan tertentu ..
Kalo ada yang merasa tersinggung , alhamdulillah ..
Semoga itu menjadi pintu hidayah ..
Pun yang tentram adem ayem ..
Semoga tetap menjadi ikhwan dan akhwat yang kalem ..
Semoga tulisan yang di re-post dan diedit sana-sini bisa kita ambil hikmahnya ..
Pun kalo ga ada , yah semoga bisa menjadi tanda ..
Bahwa ak tak ingin persaudaraan yang ada , persahabatan yang tercipta , kasih sayang dan ukhuwwah terbina , hancur oleh nafsu yang meng-atasnama-kan cinta ..
Sekian ..
Re-post , edit , dan ditambah di Pondok Kahfi ..
Kukusan , Depok
Langganan:
Postingan (Atom)


