Minggu, 28 Agustus 2011

Lebaran Pemerintah atau Lebaran Ormas? (Versi Berbagi)

Lebaran telah diambang pintu. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tahun ini diprediksi juga akan ada perbedaan waktu hari raya idul fitri. Masyarakat awam banyak yang bingung, sebagian ikut-ikutan, sebagian tidak peduli, tapi sebagian ikut berpolemik masalah hal ini. Bahkan ada yang baru baca satu dua artikel tentang hisab rukyat di internet, sudah gagah berani membantah dan mengkritisi pendapat profesor di bidang Astronomi yang sudah bertahun-tahun mendampingi proses hisab rukyat di Indonesia.

Potensi perbedaan yang ada berkutat antara tanggal 30 Agustus dan 31 Agustus saja, dengan ragam metode yang digunakan. Muhammadiyah misalnya dengan metode hisab dan kriteria wujudul hilal, jauh-jauh hari telah mengumumkan Idul Fitri 1432 H jatuh pada Selasa 30 Agustus. Ormas Persis menyusul kemudian, dengan metode hisab tapi dengan kriteria imkanurrukyah, mereka mengumumkan Idul Fitri 1 Syawal  jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011. NU yang memiliki metode rukyatul hilal versi lokal (ikhtilaful mathla’), tentu menunggu Senin malam 29 Agustus untuk memutuskan kapan berhari raya, meskipun di dalam NU juga banyak pakar hisab yang siap ‘legowo’ menerima kriteria imkanurrukyat. Beberapa ormas seperti HTI yang biasa mengikuti rukyah global  di Saudi, juga akan menunggu keputusan ulama Saudi Senin malam inysa Allah. Meskipun jika dilihat secara penghitungan (hisab), -baik di Indonesia maupun Saudi – maka hilal kemungkinan besar tidak akan terlihat sehingga Ramadhan akan digenapkan menjadi 30 hari, dan lebaran pada 31 Agustus 2011.

Lalu bagaimana dengan pemerintah? Sejak awal pemerintah melalui Kemenag dan MUI akan menyelenggarakan sidang itsbat pada akhir Ramadhan, untuk menentukan 1 syawal 1432. Metode yang digunakan pemerintah adalah menggabungkan antara hisab dan rukyatul hilal. Maka berkaca dari pengalaman sebelumnya, hisab dan serta hasil rukyat (yang diprediksi tidak akan terlihat), hampir bisa dipastikan keputusan pemerintah 1 Syawal 1432 akan jatuh pada 31 Agustus 2011.

Sebagai orang awam yang tidak tahu sepenuhnya tetek bengek soal astronomi, dan juga dalil-dalil mendalam seputar hisab dan rukyat, maka saya insya Allah akan mengikuti pemerintah. Tulisan ini dibuat tanpa bermaksud untuk masuk dalam polemik pembahasan dan metode yang ada, namun sekedar memandang sisi luar dan maslahat dan manfaat yang ada saat kita mengikuti berlebaran bersama pemerintah.

Pertama : Kewajiban Mengikuti Pemerintah dalam Hal yang bukan Maksiat

Karena saya orang awam, bukan ahli ijtihad, maka dalam masalah semacam ini tentu layak saya menyerahkan urusan ini kepada yang berwenang memutuskannya khususnya pemerintah.  Dalam hal ini saya berpegangan kepada Fatwa MUI no 2 tahun 2004, pasal kedua yang menyebutkan : Seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Dalil-dalil syar’i tentang kewajiban taat dan mengikuti ulul amri  banyak tersebar dalam Al Quran dan Sunnah. Sebagai orang awam, wajar saya untuk berpegangan dengan Fatwa MUI.

Perbedaan pendapat dalam fiqih memang sesuatu yang lumrah dan wajar terjadi. Namun dalam masalah yang penting dan menyangkut kepentingan orang banyak, maka keputusan pemerintah semestinya ditaati.  Apalagi jika hal tersebut berpeluang mengundang permasalahan dan perselisihan, maka tepatlah kaidah fiqih yang menyebutkan :  “Keputusan pemerintah itu mengikat (wajib dipatuhi) dan menghilangkan silang pendapat”.

Realita hari ini, saya menyayangkan adanya masjid-masjid yang sama sekali tidak memiliki afiliasi khusus pada salah satu ormas Islam yang ada, hanya sekedar masjid kampung dan masjid warga biasa, lalu takmir masjid bermusyawarah menentukan idul fitri yang tidak sejalan dengan pemerintah.  Saya rasa mereka tidak memiliki alasan khusus untuk “berijtihad” dalam permasalahan semacam ini.

Kedua : Untuk Merayakan Bersama-sama  dengan Penuh Ukhuwah dan Meriah

Tidak dipungkiri lagi perbedaan Hari Raya sedikit banyak akan mengurangi syiar ukhuwah dan persatuan umat Islam. Sementara secara dalil dan filosofisnya, idul fitri adalah hari Raya kaum muslimin yang semestinya memperlihatkan ukhuwah dan persatuan yang luar biasa.  Berhari raya bersama banyak orang adalah salah satu anjuran syariah kita, bukan dengan sedikit orang apalagi segelintir orang.  Riwayat hadist dari Abu Hurairah menyebutkan, Rasulullah SAW bersabda : “ Puasa adalah hari dimana kalian (orang-orang) berpuasa, dan hari raya berbuka (idul fitri-red) adalah hari dimana kalian (orang-orang) berbuka  (dan berhari raya )“. (HR Tirmidzi dishahikan oleh Albani). Sebagian ulama menafsirkan hadits di atas dengan kesimpulan: “ bahwa berbuka dan berhari raya itu (haruslah) bersama-sama jama’ah dan sebagian besar (orang-orang) kaum muslimin.

Selain itu, beberapa hadits seputar Idul Fitri mengisyaratkan bahwa lebaran adalah ibadah yang merupakan syiar dan simbol, dimana kebersamaan dan ukhuwah menjadi ciri khususnya. Lihat saja bagaimana tentang anjuran sholat di Lapangan yang besar, juga anjuran untuk mengajak para wanita bahkan sekalipun mereka dalam kondisi haid ! Ini menunjukkan salah satu semangat dalam beridul fitri adalah mengoptimalkan kebersamaan.

Karenanya, jika ada perbedaan dalam penentuan idul fitri, maka yang paling banyak diikuti dan bisa menunjukkan syiar dan ukhuwah Islam itulah yang layak untuk diikuti, dalam hal ini bisa diwakili dengan keputusan pemerintah yang biasanya diikuti sebagian besar kaum muslimin di Indonesia,

Akhirnya, tentu kita semua bersepakat tentang pentingnya menjaga ukhuwah umat dan menghindarkan dari segala potensi perselisihan dan perpecahan. Dan sungguh menakjubkan, para ulama kita sejak awal siap untuk ‘berlegowo’ dalam arti tidak memaksakan pendapatnya saat dihadapkan dengan kemungkinan perselisihan dan perpecahan umat. Dan hal ini pun mereka lakukan dalam masalah ibadah ritual yang mereka yakini sepenuhnya, dan diyakini banyak orang tidak bisa diganggu gugat.

Saya ambil contoh sederhana, meskipun Imam Ahmad berpendapat bahwa membaca qunut ketika shalat shubuh itu bid’ah. Namun beliau jelas mengatakan: ‘Jika seseorang shalat bermakmum pada imam yang membaca qunut maka hendaknya ia mengikuti dan mengamini doanya’.  Subhanallah, tentu statemen beliau tersebut ditujukan dalam rangka persatuan, dan mengaitkan hati dan menghilangkan kebencian diantara kaum muslimin.

Sebaliknya, Imam syafii berpendapat bahwa membaca Qunut hukumnya sunah muakkad dan beliau selalu membacanya tiap shalat. Namun suatu ketika beliau  menjadi imam shalat subuh di sebuah masjid dekat makam Abu Hanifah, lalu tidak membaca Qunut.  Selesai shalat, seorang bertanya apa gerangan yang penyebabkan beliau tidak membaca qunut?  Beliau menjawab “ Mana mungkin saya melakukan amalan yang tidak sejalan dengan pendapat Abu Hanifah, sedangkan saya berada dekat dengan (kubur)nya. Inilah bentuk legowo dan toleransi para ulama terdahulu bahkan dalam hal yang terkait sebagai ibadah.

Nah, bagaimana dengan ulama kita dari ormas-ormas yang ada ? Siapkah untuk berlegowo dalam masalah penentuan hari raya demi mewujudkan persatuan umat dan syiar hari kemenangan yang indah ?.  Legowo disini juga dalam arti siap duduk kembali, saling membahas hal ini secara objektif dan ilmiah agar menemukan kriteria-kriteria yang disepakati, sebagaimana sering digaungkan oleh Profesor Thomas Djamaluddin dari LAPAN tentang harapan penyatuan kalender umat Islam Indonesia secara khusus.

Di Sudan, perbedaan hari raya hanya ada di kitab-kitab fiqh semata, secara realita tidak ada. Banyak ulama dan orang faqih di Sudan, namun mereka semua berlegowo dalam masalah ini, menyerahkannya hanya pada pemerintah saja. Wallahu a’lam.

Selasa, 16 Agustus 2011

Antara Optimis, Tekad, atau Nekat? (part 2-selesai)

Dilanjut yaa, dikit lagi abis kok. Woles brothers and sisters hehe.

Buat yang belum baca cerita sebelumnya, silakan klik link di sini. ^_^


Sepanjang perjalanan, gw sama Darul melawan arus. Maksudnya orang-orang pada mau pulang, gw malah baru mau datang. Yah rame sama orang kantoran. Di kiri kanan kulihat saja banyak jajanan. Perut lapar dan haus makin ga tertahankan. Langsung kami percepat kaki ini berjalan.

Sampai akhirnya tibalah kami di depan gedung Pacific Place. Bertanya pada penjaga dan mbah Google terkait lokasi dan tempat makan nanti (takutnya ada gedung Pacific Place lagi di Jakarta), dan akhirnya kami masuk. Hm, memang beda dan terkesan "kelas tinggi". Sengaja gw ga naik elevator/lift. BUKAN karena gw norak, tapi emang pengen "cuci mata" aja. Melihat apa saja yang ada di dalam sana.

Akhirnya lantai 5! Celingak-celinguk kayak dua bocah ilang. Keliling, jalan perlahan, kok ga nemu ya Urban Kitchen? Mulai was-was, khawatir salah tempat. Setelah berjalan sekian lama, mata ini mengeja di suatu tempat "URBAN KITCHEN". Yes, nampaknya kali ini gw ga salah tempat. Langsunglah kami masuk ke tempat tersebut. Kemudian mbak penjaga menyapa kami, "Selamat sore, silakan masuk" sembari memberikan kartu berukuran agak lumayan besar berwarna hijau. Takut salah, gw kembali nanya.

"Mbak, kalo yang acara dari detikfood detikcom di sebelah mana ya?"
"Acara yang mana mas?"
(Oke, firasat gw ga enak.)
"Itu mbak yang buka puasa bareng."
"Sebentar saya tanya dulu."

Kemudian...

"Oh yang acaranya Pak Bondan?"
"Ah iya mbak."
"Di sebelah sana, sebentar kartunya diganti dulu."

Kartu gw pun berganti dari hijau menjadi abu-abu. Kemudian di tempat yang ditunjuk, nampak Pak Bondan, pak Troy (perwakilan Urban Kitchen), dan beberapa peserta lain sedang bercakap. Setelah memberi salam dan menyapa, gw dan Darul mengambil posisi duduk.

Kemudian dijelaskan tentang mekanisme pembelian dan pemesanan di sana. Jadi Urban Kitchen itu sejenis food court. Hanya saja harga dan tampilannya memang ber'kelas-tinggi'. Kartu yang didapat di awal, itu sebagai alat pembayaran di masing-masing stand nanti. Kalau kartu hijau, jumlah bayaran akan diakumulasikan dan dibayar di akhir ketika keluar tempat makan. Karena kami kartu abu-abu, jadi di dalam kartu itu sudah ada saldo sebesar (kalo ga salah) Rp 100.000 yang untuk kami pergunakan saat belanja makanan berbuka nanti. Gw mikir, 'di sini gw ngabisin uang cepek sekali makan. Kalo di Bandung mah bisa buat berapa hari, sambil nraktir temen juga bisa.' Yah, karena aturannya seperti itu ya sudah kami langsung berkeliling berbelanja.

Keliling satu kali, kami belum tentukan pilihan. Harganya cukup bikin kami tercengang. Antara kisaran 40.000-60.000 untuk 1 porsi makan normal. Minumannya pun kisaran 15.000 ke atas. Setelah mikir, dan daripada keburu Maghrib, kami memesan. Gw pesen 'Bebek Panggang' yang dagingnya cuma seperempat bebek utuh (kayak di warung pecel kaki lima) seharga Rp 56.000 ditambah nasi seharga Rp 8.000. Darul memesan 'Iga Bakar Kecap' seharga Rp 45.000 sudah plus nasi. Untuk minuman, pilihan gw adalah 'Es Campur Medan'. Darul milih 'Sop Buah'. Harga keduanya sama-sama Rp 18.500. Kemudian setelah transaksi, kami menunggu di meja makan bersama pak Bondan dan yang lain.



Tak berapa lama, pesanan kami tiba. Alhamdulillah kami tak salah pilih. Porsinya sangat sesuai dengan perut mahasiswa kami (alias porsi rada jumbo). Para peserta lain cukup heran melihat porsi kami yang 'berbeda', tapi yaah namanya juga mahasiswa. Maksimalkan apa yang ada. ^___^




Bedug tanda berbuka dibunyikan, pertama kami menikmati takjil yang telah disediakan. Es cendol dan segelas teh manis hangat. Kemudian tanpa ragu kami langsung menyantap apa yang ada di hadapan. Memang rasanya sesuai dengan harganya. Sangat jempolan! Benar-benar sangat bersyukur mencoba merasakan makanan di Urban Kitchen ini.  Alhamdulillah.

Setelah makan selesai dan Es Campur serta Sop Buah kami hanya bersisa es saja, diadakan kuis yang berhadiah voucher makan di Urban Kitchen sebesar @Rp 100.000 untuk lima orang. Wah lumayan banget nih. Gw mau ikutan, tapi pertanyaan yang ditanyakan cukup sulit. Sampai akhirnya pertanyaan ke-empat.

"Siapa yang sudah memfollow akun twitter @detikfood? Ayo maju dan tunjukkan kepada saya."

Wah mendengar ini, langsung gw maju. Buka aplikasi twitter for Android, dan alhamdulillah gw barusan me-retweet tweet dari @detikfood. Jadi ga perlu nyari lagi. Sehingga voucher sukses jadi milik gw. *tertawa licik*





Setelah bagi-bagi voucher, peserta mendapatkan goodie bag dari detikfood. Gw udah hapal isinya, celemek dan buku resep. Setelah itu lanjut foto bareng dan kami pulang. Tentu setelah mengembalikan kartu abu-abu yang tadi diberikan kepada kami.



Perjalanan pulang, waktu menunjukkan pukul 19.00. Gw dan Darul diskusi dan memutuskan untuk shalat di Bandung karena khawatir kehabisan bus menuju Cileunyi. Mengingat perjalanan dari daerah Sudirman hingga Lebak Bulus yang cukup memakan waktu.

Sampai di terminal bus Lebak Bulus, alhamdulillah masih ada bus TERAKHIR menuju Garut yang melalui Cileunyi. Mungkin lu pada heran, kenapa gw naik bus yang ke arah Cileunyi bukan langsung ke Bandung. Oke, ini karena mengingat isi dompet kami yang amat sangat pas-pasan. Kalo naik bus yang langsung ke Bandung minimal kami harus membayar Rp 35.000 (non-AC) sementara kalo ke Cileunyi kami hanya membayar Rp 26.000 (bus AC). Jadi jelaskan alasan kami?

Di dalam bus, ga ada yang perlu gw ceritain. Karena gw tidur. jadi gw SKIP.

Pukul 00.13, sampailah kami di gerbang tol Cileunyi. Dari panasnya hawa Jakarta, kami langsung dipaksa tahan terhadap menusuknya dingin daerah Cileunyi. Langsung kami mencari angkot menuju Cicaheum dan dilanjut hingga kembali ke sekretariat Karisma ITB. Alhamdulillah angkotnya ngebut hehe.

Sesampai di Salman pada pukul 01.00 lewat, kami istirahat sejenak dan dilanjut dengan shalat 18 rakaat. Bukan karena gw dan Darul ikut aliran sesat, tapi ini total dari 3 rakaat Maghrib, 4 rakaat Isya, 8 rakaat Qiyamullail, plus 3 rakaat witir. Setelahnya, gw mempersiapkan materi untuk sanlat di SMA 18. Dan merenungi betapa luar biasanya perjalanan kali ini (sampai gw tulis di blog).

Inti dan kesimpulannya, dengan bekal awal 20ribuan gw pergi-pulang antara Bandung-Jakarta-Bandung dalam kurun waktu sekitar 13 jam. Ditambah mendapatkan voucher senilai Rp 100.000 plus makan gratis senilai Rp 82.500. Hikmahnya, skenario Allah itu kadang di luar logika tapi yakinlah itu nyata dan baik untuk kita hambanya.

Terserah, gw mau dibilang optimis, tekad kuat, atau nekat. Anda yang memilih, Anda yang menentukan.

-Sekian




Sekre Karisma ITB menjelang sahur, 16 Agustus 2011
Muhammad Ridho Fazri

Antara Optimis, Tekad, atau Nekat? (part 1)

Assalamualaykum, ingin berbagi cerita boleh kan? Pengalaman di beberapa hari yang lalu, saat dalam kurun waktu kurang dari 13 jam harus bolak-balik antara Bandung hingga Jakarta. Sila disimak ^___^


Berawal dari keisengan tuk kembali mengikuti lomba yang berhadiah buka puasa bersama Pak Bondan Winarno di Urban Kitchen Pacific Place 11 Agustus 2011, sebelumnya di bulan Mei 2011 gw pernah mengikuti hal serupa dan menang jadi ga ada salahnya mencoba kembali. Hitung-hitung nambah pengalaman makan di tempat elite, hehe.

Setelah mengisi form yang disediakan di website detikfood.com langsung tanpa pikir panjang untuk meng-klik tombol kirim. Dalam hati gw berpikir, pasti dapetlah insya Allah. Sekejap kemudian muncul email konfirmasi registrasi dan dibawahnya ada pemberitahuan bahwa pemenang akan dihubungi pada 9 Agustus 2011. Sekadar informasi, kejadian di atas terjadi di awal bulan Juli. Jadi masih satu bulan lebih kira-kira.

Waktu berlalu, sampai akhirnya tanggal 9 pun tiba. Alhamdulillah gw ga lupa, jadi dari pagi menunggu pengumuman telepon atau email dari detikcom. Meskipun saat itu gw sedang TIDAK PUNYA uang untuk ke Jakarta, tapi tetep aja menunggu.

Pagi berganti siang, siang berganti malam, belum ada telepon atau email dari pihak detik. Saya pun mulai melupakan, hingga tanpa diharap ada rezeki yang datang. Seketika itu kembali berpikir, apa gw mesen tiket ke Jakarta aja ya? Tapi iya kalo jadi, kalo engga? Oke, gw mendadak galau!

Tanggal 10 Agustus 2011, sehari sebelum buka puasa bersama, agenda gw padat. Mulai dari ke Jatinangor hingga ke Ujung Berung sehari penuh. Uang yang gw terima pas malem, langsung ludes dalam sekejap. Karena emang ada kebutuhan mendesak sih (alasan). Oke, karena gw pikir ga jadi ke Jakarta, jadi yaa gw ga sungkan untuk memakai uang itu. Sampai akhirnya....

Tepat sekitar pukul 16.00 sewaktu perjalanan menuju sekre Karisma ITB, ada telepon masuk. Gw angkat.

"Halo, assalamualaykum"
"Selamat sore, dengan mas Muhammad Ridho Fazri?"
"Iyaa, ada apa yaa?" (Nada sok orang penting)
"Begini, ini dari detikcom ingin memberitahu bahwa mas berkesempatan hadir di acara buka puasa bersama Pak Bondan BESOK SORE. Bisa mengkonfirmasi kehadirannya?"
"Hmm (sok mikir lagi), pukul berapa ya mbak acaranya?"
"Pukul 17.00 mas, bagaimana?"
"Oke, bisa insya Allah."
"Siip, mas nanti boleh ajak satu orang rekan atau partnernya."

Kemudian setelah registrasi ulang via telepon tadi, gw langsung berpikir keras. Gimana enggak? Gw nyadar, duit di dompet tinggal 20 ribuan. di ATM lebih ngenes lagi. Akhirnya gw mencoba melupakan dengan fokus perjalanan menuju sekre (meski masih tetep kepikiran).

Singkatnya maghrib pun tiba. Gw ditraktir makan malam oleh Iqbal Fauzi (Kimia 2008). Berlima (gw, Iqbal, Darul, Kasmita, Luqman) makan di Festival Kuliner Dipati Ukur. Yaah, melupakan sejenak masalah yang ada. Oia, gw ngajak Darul buat nemenin ke Jakarta esok, dan parahnya gw sama dia lagi kere. KERE KUADRAT!! Oke, nampaknya gw salah milih partner. Yah semoga esok ada jalan (dan uang) buat ke sana.

Pagi pun tiba, dan hape bergetar tanda ada sms. Dibaca dengan urut. Makin ke bawah muka gw makin bersinar. YES, ALHAMDULILLAH! Ada saudara gw yang dari Jakarta ke Bandung dan ke Jakarta lagi pas siangnya! Otomatis, gw bisa NEBENG! Segera gw hubungi Darul buat bersiap di sekre jam 11an, meski yaa gw masih ga tau gimana caranya nanti gw balik ke Bandung.

Ketika siangnya, Darul sudah ada ongkos buat pulang. Gw? Jangan ditanya! Kondisi dompet gw malah makin berkurang. Di perjalanan gw galau. Kenapa galau? Oke biar ngerti gw jelasin. Ini terjadi di hari Kamis, besok Jumat pagi gw mengisi materi di SMA 18 Bandung. Otomatis gw harus balik ke Bandung hari itu juga, dan makin galau karena gw belum siapin materi.

Dalam perjalanan gw khusyu' berdoa dalam diam sampai tertidur, pas bangun apakah galau gw ilang? Enggak ternyata. Tetapi bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Allah memberi jawaban atas segala perosalan. Ada rezeki mampir tanpa disangka, seenggaknya cukuplah buat perjalanan pulang yang panjang dan melelahkan pastinya. Mari kita bersama ucap, "ALHAMDULILLAH"

Sampai di Jakarta, gw yang asli Jakarta mendadak norak. Melihat dan mendatangi daerah yang belum pernah gw kunjungi selama ini. PACIFIC PLACE. Buat persiapan  batin, gw sama Darul mampir ke sebuah masjid. Pas mau masuk, ternyata ada pemeriksaan dari polisi. Gw heran tapi nurut aja. Ketika udah di dalam baru ngeh, ternyata ini masjid di kantor Polda Metro Jaya, pantesan -_____-

Di masjid, istirahat sejenak. Mengisi ulang keuatan tubuh, batin, dan handphone. Setelah dirasa cukup dan waktu makin mendekati pukul 17.00 gw berangkat. Bismillah.




-to be continue- (kepanjangan soalnya bos ^____^)


Mau baca kelanjutan ceritanya? Silakan klik link berikut ini.



Jumat, 05 Agustus 2011

Masih Muda Bukan Berarti Berleha-Leha (Muhasabah Series)

"Masih 20 tahun, masih muda ya, masih panjang...?. Masih banyak yang harus dikejar”.

Tiba-tiba pikiranku melayang entah kemana. Merenungi usiaku saat ini. Apa beruntungnya usia mudaku saat ini? Masih panjangkah jatah hidup yang diberikan Allah padaku? Andai jatah hidupku di dunia ini 63 tahun, seperti jatah usia Rasulullah, dengan usiaku saat ini 20 tahun, berarti usia hidupku tinggal 43 tahun lagi.

Andai jatah hidupku di dunia ini 53 tahun, dengan usiaku saat ini 20 tahun, berarti usia hidupku tinggal 33 tahun lagi. Andai jatah hidupku di dunia ini 43 tahun, dengan usiaku saat ini 20 tahun, berarti usia hidupku tinggal 23 tahun lagi. Andai jatah hidupku di dunia ini 33 tahun, dengan usiaku saat ini 20 tahun, berarti usia hidupku tinggal 13 tahun lagi.

Andai jatah hidupku di dunia ini 21 tahun, dengan usiaku saat ini 20 tahun, berarti usia hidupku tinggal 1 tahun lagi. Bagaimana jika jatah umurku sudah habis dan besok atau lusa Malaikat Izrail mencabut nyawaku? Duh! Adakah aku masih bisa tenang dengan usia 20 tahun? Atau aku masih bisa santai dan berleha-leha?

Sedangkan Malaikat Izrail selalu mengintaiku. Jika demikian, betapa tidak akan terasa menjalani sisa hidup yang lebih pendek lagi; 43 tahun, 33 tahun, 23 tahun, 13 tahun, 1 tahun atau malah cuma dua hari lagi. Andai selama 20 tahun itu aku tidur selama delapan jam perhari, berarti sepertiga hidupku hanya dipakai untuk tidur, yakni sekitar 6-7 tahun.

Andai sisa waktuku perhari yang tinggal 16 jam itu kupakai 6 jam untuk bermain-main dengan teman, ngobrol ngalur ngidul, santai, dan melakukan hal-hal yang tak berguna. Berarti total waktu bermain slama 20 tahun adalah 5 tahun.
 
Lalu aku bandingkan dengan aktivitas ibadahku. Andai shalatku yang lima waktu, ditambah shalat-shalat sunnah, memakan waktu total hanya 1,5 jam perhari, berarti aku hanya menghabiskan 547 jam pertahun untuk shalat. Itu berarti hanya 23 hari pertahun. Andai aku benar-benar menunaikan shalat umur 14 tahun (saat tiba baligh), berarti aku baru menghabiskan sekitar 138 hari (= 23x(20-14)) untuk shalat. Bayangkan, gak ada SETENGAH TAHUN.

Aku teringat dengan firman Allah (yang artinya) :“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”(QS adz-Dzariyat : 56)

Saat merenungi kembali ayat itu, hatiku menangis. Betapa tidak. Allah menciptakan hidupku dan memberiku usia 20 tahun sesungguhnya agar aku gunakan untuk beribadah kepada-Nya. Namun kenyataannya, hidupku dan masa mudaku habis untuk tidur dan bekerja mencari dunia, juga melakukan hal yang sia-sia.

Sebaliknya, hanya sebagian kecil usiaku aku habiskan untuk ibadah dan dakwah. Bekerja dan belajar juga kan termasuk ibadah Dho? Baik. Sekarang bagaimana jika semua itu ternyata tidak bernilai di sisi Allah? Bagaimana jika amal-amal ku ternyata tidak diterima oleh Allah? Bagaimana jika shalatku yang jarang sekali khusyu itu ditolak oleh Allah?

Bagaimana pula jika dakwah ku pun –yang mungkin kadang bercampur dengan riya dan tak jarang minimalis- tak dipandang oleh Allah? Betul. Aku tidak boleh pesimis. Aku harus penuh harap kepada Allah, semoga semua amal-amal ku Dia terima. Namun, aku pun sepantasnya khawatir jika semua amal yang selama ini aku anggap amal shalih dan bernilai pahala, ternyata sebagian besarnya tak bernilai apa-apa di sisi Allah. Na’udzu billah.

Aku memang tidak berharap seperti itu. Di sisi lain, setiap hari, puluhan kali aku bermaksiat. Ya Allah, setiap detik karunia dan nikmat-Mu turun kepadaku. Namun setiap detik pula dosa dan kesalahanku naik kepada-Mu.

Ya Allah, Tuhan kami. Selama ini kami hanya menzalimi dan menganiaya diri kami sendiri. Jika saja Engkau tidak mengampuni dosa-dosa kami, tentu kami termasuk orang-orang yang merugi (Do’a Nabi Adam as)

Tuhanku, tidaklah pantas aku menjadi penghuni Firdaus-Mu. Namun, tak mungkin pula aku kuat menahan panasnya Neraka-Mu. Karena itu, terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa dan Engkau Mahabesar. Amin. (Do’a Imam al-Ghazali)

Mari kita manfaatkan waktu yang ada, utamanya Ramadhan yang tersisa. Semoga di dalam takdir kita terdapat saat kita bercengkrama kembali, bukan di dunia ini tetapi di dalam jannah FirdausNya yang abadi.

Sekre KARISMA Salman ITB
Menjelang sahur 5 Ramadhan 1432 H

Kamis, 04 Agustus 2011

Karena Tulang Rusuk Takkan Tertukar :) (Sekadar Iseng)

Ketika kita berkata, “Aku akan ta’aruf denganmu beberapa tahun lagi, ketika sudah lulus”

Untuk apa kita katakan itu sekarang? Jika belum siap adalah jawabannya, lalu mengapa harus kita katakan rencana tersebut? Tak tahu kah, kalimat itu menggoyahkan kekokohan iman yang susah payah dibangun.

Ketika kita mengatakan, “Aku ingin jaga hati untuk ta’aruf denganmu nanti”

Lantas, apakah dengan kita berkata seperti itu, tidak berarti mengotori hati? Kita memang sudah seharusnya menjaga hati, hingga tiba saatnya nanti untuk kita berikan seutuhnya kepada yang berhak.

Ketika kita mengatakan, “Hati-hati, di sana, jaga diri baik baik.”

Bukankah Allah adalah sebaik-baik Pelindung?

Ketika kita mengatakan: “Aku harap kamu tidak ta’aruf dengan orang lain sebelum aku”

Sesungguhnya kita tidak bisa menjanjikan apapun, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.


Sebuah ibroh.

Wahai akhwat, jika datang kepadamu laki-laki baik-baik yang melamarmu, maka bisa jadi dialah pangeranmu.

Wahai ikhwan, jika gadis pujaanmu telah dikhitbah laki-laki lain, maka ikhlaskanlah. Bisa jadi dia bukanlah bidadarimu.

"Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk yang keji pula dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji, sedangkan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yang baik.” (QS.24:26)"

Maka jika nantinya kita tidak berjodoh, mungkin diri ini tak cukup baik untukmu, pasti ada orang lain yang lebih baik untukmu. Begitu pun sebaliknya

Karena yakinlah TULANG RUSUK TAKKAN TERTUKAR!!



Sekre Karisma Salman ITB
Pergantian hari 5 Agustus 2011