Selasa, 26 Juli 2011

Hitam Putih Cinta. (Muhasabah Series)


“Cinta itu hitam atau putih. Tidak ada abu-abu!”

            Cinta itu hitam atau putih.

            Tatkala cinta itu menaikkan derajat kebaikan kita, juga meninggikan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah. Serta mampu menjadikan diri kita menjadi termanfaatkan dengan baik, tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk pasangan, keluarga, masyarakat dan ummat. Karena cinta seharusnya mengantarkan si empunya kepada Syurga-Nya, agar cinta tidak hanya berakhir di dunia ini saja. Cinta kita haruslah menggaung hingga ke Arsy-Nya.

            Bukan malah sebaliknya, cinta yang membawa nestapa pada yang merasakannya. Menurunkan derajat kebaikan para pencinta di hadapan Yang Maha Cinta. Menjauhkan ia dari nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Sungguh, cinta yang seperti itu hanya akan membawa mereka yang menikmatinya kepada seburuk-buruknya tempat.





            Tidak ada kata abu-abu!

            Jika memang cinta, majulah dengan keyakinan kepada Sang Maha Pencinta, menuju bahtera cinta, melipatgandakan amalan bagi mereka yang mengarunginya.

            Ketika kau belum siap melangkah lebih jauh, maka tak perlu bicara panjang tentang cinta kepada dirinya. Karena, bisa jadi hadirmu justru akan mengganggu keterjagaan hatinya. Sebab janji-janji tak pasti itu hanya akan membuatnya melambung jauh ke angan-angan masa depan yang masih belum pasti kan ia bina bersamamu.
Karena dirimu belum tentu atau bahkan takkan pernah halal untuknya.



Dari tulisan seseorang, untuk kita ambil hikmah dan untuk kita amalkan bersama.
Bandung, 26 Juli 2011
Sekretariat Karisma ITB 

Kamis, 14 Juli 2011

Kala Tauhid Kita Kembali Dipertanyakan. (Muhasabah Series)

Kadang kawan tanpa kita sadari ikatan terpenting, landasan hidup yang terpenting, yang harusnya kuat mengakar, malah melemah bahkan tanpa disadari hilang tanpa arah. Apa sebenarnya hal terpenting yang saya maksud? Mudah kawan, dialah IMAN.
Pernah ada seorang ustaz yang bertanya di hadapan kami, “Coba saya tanya, menurut antum agama apa yang paling benar?” Serempak hampir dari kami menjawab dengan lantang,”Islaaam!” Sang ustaz tersenyum dan berkata, “Salah! Islam itu BUKAN agama yang PALING BENAR, tapi Islam adalah SATU-SATUNYA agama yang BENAR.” Kemudian beliau kembali bertanya, “Kalo saya tanya ke antum, siapa Tuhan orang hindu. Apa yang antum jawab?” Sebagian dari kami menjawab, “Para dewa ustaz.” Lagi-lagi beliau tersenyum kecil dan berkata, “Ternyata TANPA DISADARI tauhid mulai HILANG dari jiwa kita.”

Sebuah penyadaran yang menyentak! Selama ini kita sudah sering dibuai dengan toleransi beragama yang kerap berlebihan. Diajarkan pembenaran bukan kebenaran. Hingga akhirnya dihadapkan pada kenyataan, kita mulai merasa ‘wajar’ dan ‘membenarkan’ kesalahan aqidah yang dialami mereka yang belum tersentuh hidayah.

Bagaimana tidak? Saat kita berkata Islam itu agama paling benar, secara tak langsung kita mengakui agama lain itu benar. Juga saat kita menjawab Tuhannya orang hindu itu dewa, orang budha itu budha, dan lain sebagainya berarti secara tak sadar kita telah mengakui atau membenarkan adanya ‘Tuhan’ selain ALLAH.
Sadarlah kawan, bagaimana kita bisa memperjuangkan kalau apa yang kita jalani ini tidak diyakini sepenuh hati? Bagaimana kita rela berkorban bila iman kita masih dipertanyakan? Bagaimana kita mampu menegakkan kalimat Allah sedangkan tak disadari kita mengakui ada kebenaran selain dariNya?

Di era demokrasi, liberalisme, pluralisme, sosialisme masih meraja memang begitu sukar kita untuk tetap terjaga pada kebenaran dan iman yang kita punya. Maka cukup tanyakan pada diri kita, seberapa seringkah interaksi kita dengan Sang Pencipta? Semakin lemah interaksi, semakin lemah penjagaan diri. Juga tanyakan pada diri kita, seberapa seringkah kita mengobati hati dengan kumpul bersama rekan yang shalih? Itu termasuk penjagaan, dan juga peningkatan kadar iman.

Hanya saja kawan, menjaga bukan berarti kita menjauhi. Bukan berarti kita jadi pribadi yang ‘autis’, asyik pada dunianya sendiri tanpa peduli pada dunia orang lain. Bukan berarti pula kita membenci rekan kita yang mungkin tidak sepaham atau seiman dengan kita. Tidak kawan. Tetaplah menjadi rekan yang baik untuknya, dengan dasar kecintaan sesama manusia untuk menyelamatkannya agar kelak dapat bersama bercengkrama di surga. Tetap  menjadi pribadi yang senantiasa menebar manfaat pada siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Karena islam itu rahmat. Bukan hanya untuk penganutnya, tapi juga untuk seluruh alam.

Waallahu ‘alam bishowwab.
Bandung, 14 Juli 2011
Muhammad Ridho Fazri