Tampilkan postingan dengan label Liqo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liqo. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Mei 2010

Ingatkah Kau Kawan? (Muhasabah Series)

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim ..

Di dinginnya pagi ini, izinkan aku sedikit bertutur padamu kawan. Bercerita tentang keresahan dan kegelisahan yang menggelayut di dada. Bukan maksudku untuk menambah masalahmu. Bukan. Namun, hanya untuk sedikit melepas beban yang makin lama terasa makin menyesakkan jiwa.

Kawan, ingatkah engkau di liqo terakhir kita dahulu, ketika sebelum kita semua berpisah ke alam masing-masing. Ah, dirimu tak mengingatnya? Hmm, biar aku sedikit menggalinya ya kawan? Waktu itu aku masih sangat mengingat wejangan dari ustaz kita tercinta tentang sikap kepada "pasangan jenis" kita. Ketika itu di akhir pertemuan seorang saudara kita menanyakan sikap yang harus kita pegang tatkala berhadapan dengan "pasangan jenis" yang mendekati diri dan mulai menarik hati. Ingatkah kau jawaban ustaz kita? Aku masih ingat kawan. Jauhi ia sesuai pemahamannya. Jauhi ia sesuai dengan "tingkat" dan berapa lama ia ter-tarbiyah. Jauhi dan jangan sekali-kali mendekati atau memancing agar ditanggapi. Ya kawan, intinya jauhi. Karena meski sepele -aku katakan SEPELE- permasalahan ini berkaitan dengan hati. Dan tahukah kau kawan bila hati ini sudah bergerak bukan karenaNya? Itulah RIYA kawan. Syirik kecil yang merusakkan amalan. Bahkan bisa membuat kita terhujam dalam di panasnya jahanam.

Namun kawan, lihatlah diri ini sekarang. Aku malu kawan. Aku malu dengan diriku dua tahun silam tatkala aku masih mampu memegang komitmen untuk bergerak bersama hanya untukNya. BUKAN untuknya. Aku malu kawan tatkala aku membiarkan diriku mencium aroma neraka sedekat-dekatnya dengan membiarkan hati ini membuka terhadap nafsu belaka karena mereka -pasangan jenis kita-. Aku malu tatkala aku merasa tak pantas membangun generasi rabbani (karena diri ini pun jauh dari itu) ketika hati ini berat untuk mengatakan dan memutuskan bahwa apa yang aku rasa ini salah. Aku malu kawan.

Masih ingatkah kau kawan? Tentang apa yang telah dijelaskan oleh ustaz kita di kumpul pekanan. Bahwa masing-masing diri ita ini berharga kawan. Bahkan sangat berharga. Tidak teritung berapa banyak tenaga, dana, dan mungkin darah yang tercurah untuk melahirkan kita sebagai kader dakwah. Tidak terhitung kawan. Namun, lihatlah diri kita sekarang. Lihat diriku sekarang. Masihkah aku pantas menyebut diriku kader dakwah? Seorang kader dakwah tak pernah mengeluh mengerjakan amalan yaumiyah tapi aku mengeluh tatkala mengerjakan amalan sunnah dan tilawah. Seorang kader hdakwah harus bisa menjadi panutan dan teladan tapi aku , ah kau tahu sendiri bagaimana aku sekarang, pantaskah aku disebut teladan? Seorang kader dakwah paling tahu bagaimana menjaga hatinya, sementara kau tahu kawan? Hati ini masih sering tergoda oleh makhluknya dan itu melenakan aku dari amanahku. Seorang kader dakwah tahu tentang pentingnya tarbiyah dan segala sarana pra sarananya tetapi aku hanya tahu teori kawan jarang aku aplikasikan. Malu aku kawan. Malu.

Kawan, ingatkah kau tentang materi persaudaraan yang kerap kali kau sebut ukhuwwah? Bah, aku lebih malu kawan tatkala aku suka merasa berat mambantu saudaraku. Aku merasa terbebani ketika tenaga dan harta ini kubagi dengannya. Aku merasa berat untuk mengeluarkan infaq, padahal kau tahu itu wajib untukku. Aku masih kurang mengenali masalah mereka tidak seperti mereka yang begitu mudah mengenali masalahku. Kawan, masihkah aku pantas menyebut ukhuwwah antara kita, aku denganmu, aku dengan mereka, kuat? Aku ragu kawan. Ragu.

Namun kawan ditengah penyesakkan atas segala yang menghadang, aku ingat. Ingat akan ayatNya "Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta" (Q.S Al Ankabut : 1-4) .
Maka aku anggap ini ujianku kawan, ujian keimanan yang pasti berbuah kemenangan.

Selasa, 18 Mei 2010

Apa Kabar Mentoring Kecil Kita Hari Ini ? (Tarbiyah Series)

Mungkin kita sering ya merasa jenuh dan bosan dengan apa yang disebut 'mentoring' , 'halaqoh' , 'melingkar' , dan sejenisnya yang terangkum dalam kata TARBIYAH. Saya pun juga dulu sering merasa demikian. Bukan berarti "wajar" kalau bosan dengan mentoring dan sebagainya, tapi saya ingin agar kita sama-sama memperbaiki sudut pandang kita tentang satu kegiatan dahsyat full manfaat ini.

Loh, bukannya mentoring atau liqo itu cuma 'mengaji' aja ya ? Membahas tentang keislaman yang itu-itu saja. Eits, tarbiyah TIDAK sesederhana itu bung! Bayangkan 'hanya' dengan tarbiyah yang SEHAT Rasulullah berhasil membawa umat manusia (bangsa Arab pada khususnya) kepada apa yang disebut dengan kesuksesan. Baik dunia maupun akhirat. Juga membawa kita semua dari zaman onta menuju zaman toyota. Ini fakta! Bukan rekaan belaka!

Wah kalo gtu keren banget dong yang namanya TARBIYAH itu ..

Jelas! Namun, ada syaratnya agar kita bisa mendapat manfaat maksimal seperti itu. Agar kita ga cuma mendengar dan didengar, tetapi kita juga akan bisa MENGUBAH dan MEMBANGUN PERADABAN!
Mantap gan!

Emang apa aja syaratnya?

Sabar bos. Sebelumnya yuk kita periksa diri. Check up dulu keadaan tarbiyah kita. Sehat atau malah sedang sekarat?
Yuk kita mulai periksa ..

Bagaimana keadaan kita pas ingin memulai mentoring? Segar bugar? Atau pucat dan lemas seperti kapas? Mudah tertiup angin. Jadi pikiran mudah terbawa kemana-mana, dan kepala mudah jatuh (tertidur) karenanya.

Kalau segar, alhamdulillah. Tapi kalau lemas, lesu, letih, letoy, ga semangat, ini na'uzubillah.
Kudu dianalisis kenapa bisa begini. Biasanya sih karena waktu yang digunakan ga pas. Maksudnya? Iya , kita sering menggunakan waktu-waktu SISA untuk liqo atau mentoring. Jadi tenaga yang digunakan adalah tenaga SISA sehari tadi, waktunya waktu SISA, infaqnya uang SISA (malah seringnya ga infaq), semangatnya pun jadi semangat sisa. Lebih bahayanya lagi kalau murobbinya juga memeberi materi SISA karena ga kepikiran mau ngasih matei apa. Ini mah udah akut pisan. Satu hal yang harus kita ingat. KALAU KITA HANYA MENGGUNAKAN SEGALA SISA UNTUK DAKWAH, JANGAN BERMIMPI MENDAPATKAN HASIL OPTIMAL AKHIRNYA. Bahkan kita mungkin Allah beri pahala sisa, rahmat sisa, dan parahnya nanti Allah hanya memberikan kita JATAH SISA SURGA (padahal  GA MUNGKIN bersisa, jadi kata lainnya adalah Neraka) Na'uzubillah .

Kemudian gimana hubungan kita dengan sesama teman satu geng kita? Udah pada ITSAR? Bukan sekadar kenal, tapi harus ITSAR. Ini baru yang SEHAT! Jangan sampai kita tidak update terhadap kabar teman satu grup kita. Itu mah kebangetan! Ingat disini mentoring juga bisa dikatakan keluarga. USRAH. Jadi GA WAJAR banget kalau kita tidak tahu dan tidak mau tahu keadaan keluarga kita.

Nah sekarang bagaimana hubungan kita dengan kepala geng? Alias Murobbi atau Mentor kita?
Ah baik-baik aja kayaknya. Eh, jangan ambil kesimpulan dulu. Kita renungkan dan kita ingat apa posisi murobbi bagi kita. Yak tepat! Sebagai SAHABAT, ORTU, GURU, dan SYEIKH. Kalau tidak terwujud salah satu , dua, tiga, atau empat-empatnya itu berarti ada masalah bung!

Loh kenapa emang kok bisa disebut bermasalah. Perasaan lancar-lancar aja deh.
Nih kita lihat ..

Halaqoh atau mentoring kamu berfungsi sebagai apa?

1. Tempat persidangan : di sini para mutarobbi seakan-akan disidang oleh murobbinya. Suasananya angker dan tegang banget. Jadi interaksi yang terjadi hanya satu arah. Udah gitu tampang murobbi kita juga seram, jadi aja makin mendukung suasana persidangan. Kita selalu tertekan. GA KONDUSIF!

2. Tempat curhat : emang baik sih. Tapi curhat itu salah satu agenda mentoring bukan mentoring salah satu cara curhat! Masalah kita memang banyak, nah di sini lah peran tarbiyah untuk mendewasakan kita. Kalau kita curhat mulu kerjaannya, kapan kita membahas permasalahan umat ? Kapan kita men-charge diri kita agar menjadi jauh lebih siap ke depannya.

3. Tempat nongkrong dan kongkow : ini terjadi kalau hubungan kita terlalu cair. Cair boleh tapi jangan sampai keluar dari wadahnya. Jangan sampai kegiatan kita pas mentoring dari awal sampai akhir hanya TERTAWA dan BERCANDA saja. Jangan berlebihan! Karena itu bisa mengeraskan hati kita. Dan hubungan yang terlalu cair bisa menghilangkan rasa hormat dari mutarobbi ke murobbi. Wah bahaya! Kalau udah ga hormat gimana mau taat?

4. Tempat mencari jati diri dan pengembangan potensi : nah ini bisa dikatakan bentuk ideal. Contohnya mah gampang. Lihat Umar bin Khattab, tarbiyah yang seperti ini bisa menggerakkan Umar untuk menyumbangkan SEPARUH HARTANYA di jalan ALLAH. Atau Abu Bakar, yang SELURUH HARTANYA ia infaqkan. Atau seperti Khalid bin Walid yang tetap TAAT walaupun 'DIPECAT' dari jabatan panglima.



Nah bagaimana dengan kita?
Izinkan saya bertanya pada kita semua, APA KABARNYA TARBIYAHKU HARI INI?


(Sebenarnya masih banyak yang ingin saya diskusikan di sini, tetapi Insya ALLAH lain waktu saya lanjut kembali.)

Rabu, 12 Agustus 2009

Persekutuan dan Komunitas Doa

(Dan Dia memperkenankan ( doa ) orang - orang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambahkan ( pahala ) kepada mereka dari karuniaNya.) Asy Syu'ara:26

 Saling mendoakan. Betapa indah. Betapa erat ukhuwwah. Menandakan kepedulian kita terhadap setiap yang kita doakan. Sebagai bentuk rasa kasih, sayang, dan cinta kita terhadap mereka karenaNya.

 Memanjatkan doa dikala sepi, tatkala tak seorang pun selain dirimu mengetahui. Meminta kepada Allah untuk kebaikan saudara, sahabat, para pemimpin kita, dan seluruh umat ini merupakan hikmah yang luar biasa indah yang dapat kita peroleh selama berinteraksi di jalan dakwah.

Jalan ini telah membukakan mata kita. Mengerti makna bulir doa yang kita panjatkan untuk setiap insan bahkan yang tidak kita kenal sekalipun. Sungguh betapa indahnya. Kita belajar menikmati berdoa untuk saudara kita agar hati dan pikirannya lebih terbuka dalam menerima dakwah. Kita belajar merasakan indah dan merdunya bait - bait doa untuk semua saudara kita agar diberi keteguhan, kekuatan iman, dan ketetapan hati untuk berada di jalanNya.

Terkadang kita merasa perlu menyebutkan nama - nama mereka. Tak jarang kita menggambarkan wajah - wajah mereka. Sering pula kita beranggapan sedang berada di sajadah yang sama dengan saudara kita. Agar Allah memberi mereka kemudahan. Agar Allah melebihkan diantara kami ikatan batin tak tergoyah. Agar Allah lebih menguatkan kita tuk terus berada di jalan yang diridhoi olehnya.

Jika air mata ini jatuh menitik, itu tak lain ungkapan rindu tak tertahankan untuk para pejuang. Jika tergetar bibir dengan tubuh yang tak kuasa menahan getarannya, itu merupakan bentuk uraian penyesalan atas semua kekeliruan diantara garis-garis persaudaraan.

Jalan dakwah ini membawa kita kepada sebuah komunitas. Komunitas doa. Komunitas yang dimana setiap diri kita mendoakan bagi yang lain. Begitu pula sebaliknya. Saudara - saudara kita turut berdoa untuk diri kita. Betapa persekutuan yang luar biasa. Karena aku yakin bahwa kita juga memerlukan doa saudara kita, terutama orang-orang beriman dan shalih.

Saudaraku, berdoalah bagimu dan saudaramu. Bagi kita dan saudara kita. Karena dengan doa kita mampu saling berinteraksi meringankan tanpa penghalang ruang dan waktu. Semoga tak lupa bibir, hati, akal, dan tubuh ini tuk mendoakan setiap insan agar semoga kelak Allah mempertemukan kita di jannahNya yang indah tiada terkira. Amin.. Wallahu 'alam..