Selasa, 28 Desember 2010

Sering Kita Tak Memahami Sederhananya Keinginan Ibunda (Muhasabah Series)

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

Sejenak berpikir dan merenungkan betapa sederhananya maksud dibalik tiap permintaan ibu kita. Mungkin sering kawan kita berdebat dengan ibu tentang masalah sepele. Entah masalah pakaian, uang jajan, sekolahan, pertemanan, sampai mungkin makanan dan juga pergaulan. Mungkin sering pula kita berkata, "Bu, itu mah udah kuno.." "Bu, itu mah pas jamannya ibu kali.." "Ah ibu ini ga mau ngertiin aku banget!!" Atau kalimat lain dan sebagainya.

Padahal kawan, pernahkan terlintas dipikiran kita maksud keinginan dari seorang ibu? Tidak pernah terpikir atau tidak pernah tahu, atau tidak mau tahu? 

Lupakah kita dengan jasa seorang ibu? Atau kita berpikir dengan materi yang kita berikan, nilai baik yang kita hasilkan, dan segala yang kita kasih kepada ibu sudah cukup untuk memabalas semua perhatian dan pengorbanannya? Tidak kawan! Sama sekali tidak pernah sebanding barang sedikit pun!

Kawan, marilah sejenak kita mengenang masa lalu. Melihat kembali memori yang pernah terimpan rapi dalam akal maupun hati. Membayangkan satu wajah penuh cinta penuh kasih tanpa mengharap pamrih. Wajah ibu kita.

Barangkali kawan ada baiknya agar kita lebih SADAR untuk sedikit mengetahui betapa sederhananya keinginan ibu kita.

  1. Ingin menunjukkan cintanya untuk kita. Seringlah mungkin kawan, tatkala kita pergi ke suatu tempat. Entah itu ke sekolah, kampus, atau kemanapun tempat yang cukup jauh dari ibu kita. Sang ibu selalu menawarkan -dengan sedikit 'paksaan'- untuk turut mengantar barang cuma sebentar. Namun kawan, dengan enteng dan tanpa merasa bersalah kita langsung menolaknya dan mencari alasan biar ibu tidak mengantar. Entah karena gengsi -merasa sudah besar- atau karena memang tidak mau merepotkan ibu kita. Namun yang jelas kita telah gagal memahami keinginan sederhana ibu kita. Sebab selaku orang tua mereka pasti ingin selalu mencurahkan kasih sayangnya kepada kita dengan cara-cara yang bisa dilakukannya, memberikan cintanya dalam waktu sekejap sebelum berpisah dengan anak yang dicintainya. Mungkin mereka terpikir, "Andai ini pertemuan terakhirku, maka izinkan aku menatapnya lebih lama." atau "Anakku sedang dalam urusan yang penting, biarlah aku mengantar dan mengiringi kepergiannya dengan doa." Sederhana kawan, hanya ingin memberi cinta. Bukan menggoreskan luka.
  2. Ingin membuat kita senang. Ingatkah kawan, dengan pertanyaan yang kerap dilontarkan ibu kita. "Hari ini mau makan apa?" "Ibu masak makanan kesukaanmu loh." dan perkataan lain yang terkait dengan kesukaan kita di silam atau sekarang. Sehingga sering pula ketika kita pergi, sang ibu memberikan kita bekal makanan dan cemilan kegemaran kita. Meski sering kita mencari-cari alasan untuk menolaknya karena merasa berat dan gengsi membawanya. Kita lebih sering bangga makan dengan jajanan dibanding dengan masakan penuh cinta dari ibu kita, sering malu kala kita membawa bekal karena takut dianggap anak kecil, sering jengah terhadap ibu yang kerap 'merepotkan' diri dalam hal -yang menurut kita- tidak perlu. Namun kawan, tujuan itu hanya satu dan amat sederhana. Hanya ingin menyenangkan kita, dan sering tanpa kita sadari kita menggoreskan luka dengan menolaknya.
  3. Ingin melepas rindu atau rasa sepi.  Mungkin bagi yang anak rantauan, baik masa kuliah, kerja, atau sekolahan. Kita harus meninggalkan ibu kita dalam waktu yang cukup lama. Berpisah dengan ibu kita untuk beberapa waktu. Namun seringkali kita tak tahu, perpisahan yang mungkin bagi kita adalah hal yang "biasa" itu tentu meninggalkan kerinduan yang amat mendalam dari ibu, apalagi bila usianya telah cukup lanjut usia. Maka seringkali ibu meminta kita kerap menghubunginya, atau malah sang ibu lah yang sering menghubungi kita. Sekedar mengobati rindu, namun seringlah kita malah merasa terganggu. Kita lebih senang tatkala ada telepon dari "dia" yang belum tentu halal untuk kita, kita lebih suka memikirkan "anak orang" dibanding ibu kita, kita merasa malas untuk menanyakan kabar seorang ibu yang nun jauh di sana. Seakan tidak peduli betapa rindunya ibu pada kita, seakan tidak peduli betapa sering kita menggoreskan luka di hatinya.
  4. Ingin membalas kebaikan orang lain pada kita. Seringkah kawan tatkala kita pulang, ibu menanyakan tidak hanya kabar kita tapi juga kabar teman dekat, orang yang pernah menolong, pemilik kostan, dan yang lainnya. Dan mungkin sering pula ya kawan, tatkala kita kembali ke aktivitas rutin setelah liburan, sang ibu menitipkan "oleh-oleh" untuk mereka yang pernah berbuat baik pada kita. Sering pula kawan kita memberikan alasan, merasa malu sungkan ataupun segan, karena melihat apa uang ibu kita bawakan itu tidak seberapa nilainya. Mungkin hanya beberapa iris daging, beberapa potong kue, beberapa potong kain atau baju, yang kita anggap sebagai hal yang "memalukan" kita. Sadarilah kawan, mungkin memang itulah kemampuan ibu kita,atau itu yang dianggapnya menarik meski bertentangan dengan pemikiran kita. Sang ibu ingin berterima kasih tidak hanya dengan kata. Sebuah keinginan sederhana yang kerap kembali kita goreskan luka.
  5. Ingin mendapatkan perhatian. Tatkala ibu kita mulai memasuki usia senja, tiada hal yang lebih didambakan selain "sedikit" curahan perhatian dari kita untuknya. Keinginan itu seringkali muncul akibat rasa sepi yang kerap menghantui. Akibat sering jauh dari anak-anaknya yang amat dia cintai. Atau mungkin karena menurunnya fisik sehingga mulai terasa sulit untuk mengurus diri tanpa kita ketahui. Sang ibu pun sering harus memendam keinginan untuk diperhatikan karena cintanya pada kita, dia takut keinginannya malah mengganggu sang anak, malah merepotkan, malah membuat anaknya keteteran. Padahal hatinya sangat ingin, fisiknya pun sudah sering tak mendukung. Namun, itulah hebatnya ibu kita yang luas cintanya dan besar kasihnya. Sehingga seharusnya kita lah tanpa diminta yang memperhatikan sang ibu. Memberikan waktu khusus untuk ibu. Mencurahkan perhatian dengan tulus kepada ibu. Agar keinginan sederhananya tak lagi berbuah luka.

Itulah kawan sedikit keinginan ibu kita yang sederhana yang sering tak bisa kita pahami. Memang ironis, tingginya jenjang pendidikan kita ternyata sering tidak bisa memahami sederhananya keinginan ibu kita, malah menghasilkan luka yang banyak jumlahnya. Semoga kita dapat membahagiakannya dengan memahami dan memenuhi keinginan ibu kita yang sederhana. Karena hakikatnya apapun yang kita berikan, tidak akan pernah sepadan dengan kasih sayang dan pengorbanan yang telah dia curahkan untuk kita.


Teruntuk Ibuku tercinta, sebelum terpisah oleh waktu. Semoga aku dapat membahagiakanmu.


sumber: TARBAWI Ed. 242 dengan segala pengubahan seperlunya.

RESE Dulu Yahh :) -Humor Series- (REhat SEjenak)

Antara Tiga Hewan Dengan  Seekor Buaya.


Alkisah disuatu tempat terdapat tiga hewan yang hendak menyebrang sungai. Ayam, Sapi, dengan seekor Babi. Namun, tanpa mereka sadari ada seekor Buaya yang mengincar mereka. Maka tatkala Ayam menyebrang, Buaya langsung menyantapnya. Sapi yang melihat menjadi ragu untuk menyebrang, tapi dia harus segera pergi ke seberang sungai. Sapi pun menyebrang, alhasil kembali disantap oleh sang Buaya. Melihat dua hewan sebelumnya disantap, Babi menjadi takut. Perlahan dia berjalan menyebrangi sungai. Namun anehnya tiada tanda-tanda Buaya akan menyantapnya, hingga dia sampai di seberang sungai. Babi pun berteriak dan bertanya pada Buaya.

"Hei Buaya mengapa kau membiarkanku menyeberang? Tak maukah kau memakanku?"

Buaya pun menjawab kalem, "Sori brooo, saya muslim..." :)


 



Soto Ayam dan Jambu Monyet.

Suatu ketika di siang hari Fulan pergi membeli Soto Ayam kesukaannya yang dia lihat di pinggir jalan. Setelah memesan dan Sotonya jadi, dia ingin segera menyantapnya. Namun, tiba-tiba Fulan bertanya, "Bang! Apa-apaan nih? Masa Nasi Soto Ayam enggak ada Ayamnya?" "Mas, emang kalau Jus Jambu Monyet harus ada Monyetnya?" :)



New Baby Sitter


Seorang pengasuh bayi yang baru bekerja di hari itu sedang mengasuh anak majikannya yang masih batita. Sampai tiba di saatnya untuk tidur siang, si pengasuh bayi pun berkata pada sang anak.
"Dek, bobo yuk.." "Dasal kau keong lacun. Balu kenal udah ngajak tidul" :)



Parfum dan Buang Angin


Fulan sedang mengantri di Bank, namun tiba-tiba perutnya sakit. Karena tak kuasa menahan, dia pun buang angin di tengah-tengah antrian. Setelah beberapa lama seorang Bapak menegurnya.
"Mas, tadi kentut ya? Kentutnya mirip ama parfum Paris ya Mas?" "Wah, wangi ya Pak?" "Bukan Mas, baunya itu lhooo. TAHAN LAMA!" :)


-dari pelbagai sumber diedit dan ditambahkan :)

Jumat, 10 Desember 2010

Belajar Menghargai Berharganya Waktu

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim.

"Demi Masa. Sesungguhnya manusia kerugian."
(QS 103:1-2)

Sejenak tadi melihat kembali sebuah situs jejaring sosial yang mungkin sudah terlupakan oleh sebagian orang, mpadahal mungkin dulu situs itulah yang 'menyeret' kita ke ajang pertemanan dunia maya dalam jejaring sosial. Ketika membaca posting ataupun komentar, seakan saya kembali terlempar ke masa-masa silam. Satu per satu komentar saya baca kembali, foto-foto yang ada saya perhatikan, menyadarkan saya pada sebuah kenyataan. Bahwa saya telah jauh meninggalkan masa-masa yang ada di sana, sekitar 2-3 tahun silam, dan saya tidak akan pernah kembali ke masa itu.

Seringlah kita terlupa akan berharganya waktu, kata orang memang sudah tipikal orang Indonesia. Hobinya ngaret. Sehingga saya pernah berkata, "Kalau di Jepang ada tokoh fiktif yang menceritakan tentang Manusia Karet, maka di Indonesia ini seringlah kita temukan Manusia Ngaret."

Sungguh ironi ketika kita diajarkan oleh Allah tentang kedisiplinan melalui salat 5 waktu setiap hari, tetapi setiap hari dan setiap kali itu pula kita melanggarnya. Kita dibuat lupa akan berharganya waktu, mungkin karena kita tidak pernah membayar uang kepada Allah atas waktu yang telah kita pakai. Coba kita bayangkan, tatkala kita ingin menaiki kereta ataupun kendaraan umum yang bersifat ontime pastilah kita tidak akan menyia-nyiakan waktu apalagi kita sudah diambang batas. Kebayang betapa menyesalnya kita tatkala kita tertinggal oleh kendaraan yang akan kita naiki hanya karena sebuah keterlambatan yang mungkin hanya beberapa detik saja.

Cobalah sejenak kita membayangkan tentang berharganya waktu. Kalau kita seorang pelajar, tatkala ujian pastilah kita mengoptimalkan waktu yang ada untuk menjawab semaksimal mungkin soal yang ada. Bahkan sampai melakukan segala cara agar dapat hasil yang baik di mata manusia. Atau mungkin ketika kita bertanding futsal misalnya. Kita juga pasti berusaha mati-matian untuk menjebol gawang lawan apalagi posisi kita mengharuskan kita untuk menang.

Sekitar setahun lalu saya pernah dapat SMS yang mengingatkan tentang berharganya waktu. "Jika ingin mengetahui arti satu tahun, tanyakan pada pelajar yang tinggal kelas. Jika ingin tahu arti satu jam, tanyakan pada seseorang yang menunggu kekasih yang amat dicintainya datang. Jika ingin tahu arti satu menit, tanyakan pada seorang penumpang yang ketinggalan pesawat. Jika ingin tahu arti satu detik, tanyakan pada seseorang yang baru saja lolos dari kecelakaan beruntun, dan jika ingin tahu arti dari mili detik tanyakanlah kepada atlet pelari yang baru saja menjuarai Olimpiade."

Sebuah pesan singkat yang benar-benar mengandung pesan mendalam. Mengajarkan tentang berharganya waktu. Karena sungguh nilai satu detik bahkan satu milidetik yang sudah berlalu itu teramat sangat mahal. Bahkan saking mahalnya kita tidak mungkin untuk membelinya.Waktu tidak pernah berhenti untuk berlari, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti memperbaiki diri. Karena menurut garis waktu golongan manusia hanya ada tiga golongan :
  1. Golongan orang yang beruntung, yang di mana mereka mampu menjadikan diri mereka lebih baik di setiap saatnya. Singkatnya hari ini lebih baik dari kemarin dan esok labih baik dari hari ini.
  2. Golongan yang merugi, yang di mana mereka hanya dapat menjadikan diri mereka selalu sama. Tanpa perkembangan yang pasti. Tanpa ada perbaikan diri yang jelas dikerjakan tiap waktunya.
  3. Golongan yang celaka, yang di mana mereka menjadi lebih buruk di tiap saatnya. Hari ini lebih buruk dari kemarin dan esok lebih buruk dari hari ini. 
Sehingga memang hanya ada tiga golongan, tidak lebih tidak kurang, BERUNTUNG, MERUGI, CELAKA. Tinggal kita yang menentukan, kita termasuk golongan yang mana?

Belajarlah untuk selalu menghargai waktu, karena waktu itu memang berharga. Tatkala kita mencoba untuk menghargai waktu, tidak menyia-nyiakan waktu, maka kelak Sang Pemilik Waktu tidak akan menyia-nyiakan kita. 

Muhammad Ridho Fazri
10 Desember 2010

Shalat dan Cinta Kita

Teringat akan sebuah kisah. Semoga bisa menjadi bahan diskusi dan pemikiran serta perenungan bagi kita semua.


Pada suatu masa yang entah kapan terdapat seorang pemuda sedang melaksanakan shalat. Tidak lama berselang setelah pemuda ini memulai shalatnya datanglah seorang wanita yang menangis tersedu". Wanita itu berjalan hilir mudik di dekat pemuda. Kemudian setelah menyelesaikan shalatnya sang pemuda bertanya dan mendekat kepada wanita tersebut. " Apakah yang menjadi penyebabmu hingga dirimu berjalan hilir mudik di dekat ku?" tanyanya kepada wanita tersebut. Sang wanita menjawab, " Maafkan aku hingga berlaku demikian. Tetapi sungguh aku baru saja diceraikan oleh suamiku yang sangat kucintai. Aku sungguh" mencintainya hingga aku tak dapat melihat dan memikirkan daerah sekitarku. Maka ku juga tak menyadari dan memikirkan dirimu yang sedang shalat. Begitu juga dengan engkau hai pemuda. Bagaimana perasaan cintamu terhadapNya? Sementara engkau masih memikirkan daerah sekitarmu dan aku yang berjalan di dekatmu." Mendengar jawaban tersebut sang pemuda terdiam.

Menurut kalian yang kucintai karenaNya, bagaimana pendapat kalian membaca kisah ini?

Bercerminlah (tapi bukan untuk narsis)

Tentu hampir kita semua pernah bercermin. Ketika hendak berangkat kerja, bersiap-siap pergi ke kampus, atau sekedar menyisir rambut dan merapihkan jilbab, kita tidak lupa untuk menyempatkan diri bercermin. Bahkan tidak sedikit dari kita yang dengan setia membawa cermin kecil dalam setiap aktivitas yang kita jalankan.

Tapi sadarkah kita bahwa walaupun cermin memantulkan bayangan yang sesuai dengan apa yang ada, namun tetap saja ia bersifat subyektif. Karena apa? Karena kesimpulan akhir yang terungkap dari bayangan di cermin tentu saja dikeluarkan oleh orang yang bercermin. Ketampanan, kecantikan, dan bayangan seindah apapun yang terpantul dari cermin tentang diri kita tetap saja merupakan sesuatu yang tidak obyektif. Lantas, siapakah cermin sejati itu? Jawabnya adalah orang lain.

Inilah sebuah kenyataan yang harus kita terima bahwa orang lainlah tempat terbaik untuk menilai diri kita. Penilaian yang diberikan orang lain mengenai diri kita akan lebih obyektif karena bagaimanapun orang lain relatif terbebas dari nilai-nilai ego yang begitu kuat mencengkram diri kita. Namun keobyektifan yang dihasilkan dari hasil bercermin kepada orang lain bukanlah sesuatu yang dapat kita peroleh secara gratis. Obyektifitas yang dihasilkan ternyata harus dibayar mahal dengan kerelaan kita untuk menerima penilaian bukan hanya yang bervalensi (bernilai) positif namun juga yang bervalensi negatif. Dikatakan mahal, karena memang sangat jarang manusia yang mampu berlapang dada mengakui kekurangan (valensi negatif) dalam dirinya. Manusia akan merasa terhina ketika kelemahannya diberitahukan kepada dirinya. Dan akan merasa bahagia ketika hal yang sebaliknya dilakukan.

Secara jujur harus kita katakan bahwa banyak dari kita yang belum mampu berlapang dada untuk menerima berita kelemahan mengenai diri kita yang biasanya diberikan dalam bentuk kritikan. Kita cenderung hanya bisa menerima bayangan yang memantulkan sosok diri kita yang sempurna tiada cacat sedikitpun. Padahal bisa jadi inilah rahasia mengapa Allah menyuruh kita untuk saling bertaushiyah, yaitu menyampaikan kritikan antara sesama kita dan bersamaan dengan itu berlapang dada untuk menerimanya. Dan memang seperti itulah seharusnya manusia yang baik. Bahkan kepiawaian seseorang dalam mengelola refleksi diri berupa kritik, akan mengantarkan orang tersebut menjadi pemimpin yang semakin hari semakin memiliki kualitas diri. Hal ini tanpa disadari terjadi karena pada hakikatnya kelapangan dada untuk menerima kritik adalah paralel dengan usaha melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas diri.

Budaya bercermin pada cermin sejati inilah yang seharusnya kita kembangkan dalam diri kita. Karena selain sebagai sarana untuk melatih diri agar obyektif terhadap diri sendiri, juga sarana pengingat bahwa kita ---hamba Allah--- adalah makhluk yang lemah dan jauh dari kesempurnaan.
Wallahu a'lam bishowab

Rabu, 08 Desember 2010

Indonesia di AFF Cup, (Kilas Balik, dan Sejarah Gelap Kita)

Luar biasa! Satu ekspresi gembira yang terus membuncah dari dalam diri semenjak semalam setelah timnas kita berhasil meraih hasil sempurna tiga kemenangan dari tiga laga di ajang AFF Suzuki Cup 2010. Setelah sebelumnya berhasil meng'ganyang' Malaysia dengan skor telak 5-1, dan menghabisi Laos dengan setengah lusin gol tanpa balas. Indonesia kembali memenangi duel sengit dengan seteru abadinya di level Asia Tenggara, sang Raja, Thailand dengan skor tipis 2-1.

Tiga hasil tadi langsung menumbuhkan harapan dan optimisme timnas kita setelah sekian lama tanpa gelar, minim prestasi. Apalagi di tengah carut-marutnya negeri ini, tentulah Juara AFF Suzuki Cup 2010 bisa sedikit mengobati duka luka negeri.
Semenjak pertama kali ikut serta tahun 1996, prestasi terbaik timnas kita hanyalah runner up pada  kejuaraan AFF Cup (dulu bernama Tiger Cup) tahun 2000, 2002, dan 2004. Bahkan timnas kita sempat membuat sejarah buruk di Tiger Cup 1998 tatkala Indonesia dan Thailand karena ingin menghindari tuan rumah Vietnam di babak semifinal, Thailand dan Indonesia bermain 'sepakbola gajah'. Kedua tim sama-sama menghindari kemenangan. Hingga akhirnya ketika skor 2-2, salah seorang pemain kita Mursyid Effendi dengan sengaja mencetak gol bunuh diri sehingga skor menjadi 3-2 dengan kemenangan untuk Thailand. Adapun setelah itu, kedua tim pecundang ini kembali bertanding setelah dipermalukan oleh Vietnam (Thailand) dan Singapura (Indonesia) dalam laga semifinal. Indonesia kala itu berhasil merebut juara tiga setelah menundukkan Thailand lewat drama adu pinalti setelah imbang 3-3 di waktu normal. Indonesia dan Thailand pun terkena denda karena menodai sportivitas sepak bola, di tubuh PSSI Azwar Anas pun memilih mundur digantikan Agum Gumelar, dan sang aktor utama, Mursyid Effendi dikenakan larangan bermain di event Internasional seumur hidup. Setelah itu tiga ajang berturut-turut Indonesia menjadi runner up dimana di tahun 2000 dan 2002 Indonesia harus takluk dari Thailand dan tahun 2004 Indonesia harus mengakui keunggulan dari Singapura.

Video Indonesia versus Thailand 1998


Setelah itu di ajang AFF Cup tahun 2007, Indonesia harus terhenti di penyisihan grup stelah hanya mampu bercokol di peringkat ketiga grup B, dan di tahun 2008 Indonesia kembali terhenti oleh Thailand di semifinal dengan agregat 3-1.

Lantas bagaimana dengan tahun ini? Setelah aksi yang luar biasa dalam tiga laga, tentu kita berharap Indonesia mampu meraih juara untuk pertama kalinya.

Senin, 06 Desember 2010

Maafkan Ibu, Anakku (Puisi Seorang Ibu)

Saat pulas tidurmu kucium lembut pipi mungilmu dan kuusap rambutmu
sungguh anakku , ibu mencintaimu .

Maafkan ibu , anakku ketika tadi siang
engkau kubentak karena adik baru tidur dalam pelukanku
sedangkan badanku penat bukan main lantas engkau menjauh
sambil tetap memandangku .

Maafkan ibu , anakku ketika jari ibu
meninggalkan bekas merah di pahamu
hanya karena engkau makan sembari bermain-main
lalu nasimu tumpah ke lantai tapi engkau tak menangis ,
hanya mata beningmu menatapku dengan takut-takut .

Maafkan ibu , anakku yang menolak bercerita saat engkau ingin mendengar kisah
yang bisa membuatmu tertawa gembira atau menitikkan air mata ,
hanya karena ibu sedang lelah .
atau ibu sedang sibuk dengan pekerjaan lainnya .

Maafkan ibu , anakku yang tidak lebih awal menjumpaimu untuk sekedar
duduk dan bermain bersama hanya karena ibu ingin
melakukan sesuatu untuk diri ibu .

Anakku ,
betapa ibu merasa bersalah
begitu ibu tahu engkau sangat dan sangat rindu duduk dipangkuanku .

Maafkan ibu , anakku yang marah kepadamu
hanya karena kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahanmu .
ibu marah hanya karena ibu letih mengerjakan pekerjaan seorang ibu .

Maafkan ibu , anakku
terkadang ibu ingin bisa membagi tubuhku agar segala keinginanmu terpenuhi .
sedang sebagian tubuhku yang lain mengerjakan tugas dan pekerjaan yang lain lagi .

Maafkan ibu , anakku
yang tidak mampu memberikan seluruh waktuku untukmu .

Andai engkau tahu sayangku .
betapa ibu sangat mencintaimu ,
betapa ibu terkadang bisa begitu ketakutan akan kehilanganmu ,
betapa ibu bisa tertawa hanya karena tingkahmu ,
betapa ibu bisa menangis tatkala melihatmu kecewa ,
betapa ibu khawatir ketika engkau sakit .

Anakku ,
sungguh ibu tak mengharap apa-apa
tatkala ibu berjuang menghadirkanmu ke dunia .
mendengar engkau sehat .
itu saja telah mampu
menghilangkan seluruh derita .

Sering ibu bertanya ,
marahkah engkau pada ibu yang telah
marah kepadamu .
gelengan kepalamu membuat ibu lega,
walau tetap tak akan mampu menghapus rasa sesal dihatiku .

Sungguh anakku ,
cinta ibu padamu hanya Tuhan yang tahu .
tak pernah seseorang bisa mengukur dalamnya
cinta seorang ibu pada anaknya ,
sampai ia kelak menjadi seorang ibu .

Maafkan ibu , anakku .
yang tak mampu menjadi ibu sebagaimana .
seharusnya seorang ibu yang sempurna .

Anakku .
ridha ibu adalah milikmu .
agar kelak engkau mudah memasuki surga-Nya .


karya seorang hamba Allah ..



Menjelang hari Ibu, 22 Desember.

Katakanlah padanya bahwa kita sungguh" mencintainya seperti dia mencintai kita.
Karena sungguh kita tak pernah tahu rahasia usia.
Pejamkan mata, dan bayangkan segala kenangan yang kita miliki tentang dirinya.
Apresiasikan dalam diri dan kreasi betapa sungguh kita mencintai dia.
Sebelum waktu memisahkan kita dengan ibunda.
Katakan,"Ibu, Demi Allah aku sungguh-sungguh mencintai dirimu."