Minggu, 16 Januari 2011

Agar Tiada Hampa Di Antara Kita (oleh-oleh bedah buku DDU)

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim


Seringlah kawan kita bercengkerama dan berhubungan dengan sesama. Namun tidak jarang hubungan yang terjalin terasa hampa, tanpa makna. Seakan tiada kebermanfaatan di sana. Maka disinilah ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membina hubungan di antara kita.


  1. Iman adalah hubungan. Maksudnya iman itu sejalan dengan hubungan kita dengan saudara kita. Tatkala persaudaraan kita rasa merenggang, ketika persahabatan mulai menghilang, pada masa kebersamaan seperti siksaan, mungkin ada yang hilang atau berkurang dari iman kita. Mengapa demikian? Karena telah Dia suratkan dalam QuranNya yang mulia, "Sungguh tiap mukmin itu bersaudara."
  2. Iman harus membersamai hubungan. Inilah yang bisa dikata menjadi perasa sejati dalam hubungan kita. Membuat tiap hubungan berasa surga yang menyejukkan. Iman harus membersamai tiap hubungan kita. Karena apa yang tiada berlandaskan iman pada akhirnya kerap membawa pada kesia-siaan. Karena kelak kita kan bersama dengan yang kita cintai, maka warnai cinta dan hubungan kita dengan keimanan agar kelak kita dikumpulkan dengan orang beriman dan kekasihNya yang kita rindukan. Maka kata mas Salim, "Mungkin tidak lengkap bila kita berkata aku mencintaimu karena Allah. Seharusnya kita berkata Aku mencintaimu karena Allah, dengan cara-cara yang di-ridho-i Allah, dan untuk menggapai ridho Allah." Jadi ridho ALLAH yang dicari, bukan Ridho Fazri atau Ridho yang lain, hehehe.
  3. Dengan hubungan kita bisa mencapai derajat yang tidak bisa dicapai dengan amal pribadi. Loh, apa misalnya? Gampang saja. Shalat berjama'ah. Jelas sekali beda derajatnya antara shalat berjama'ah dengan shalat sendiri. Apalagi yang lain? Musyaarah misalnya, tanpa hubungan dengan orang lain mana mungkin kita bisa bermusyawarah. Mau musyawarah sama siapa? Lha wong teman saja tidak ada. Masih banyak pula contoh lain yang mungkin ada di sekitar kita. Intinya dengan berhubungan, kita harus bisa dari makhluk biasa menjadi AHLI SURGA. Amiiiin.
Selain hal-hal yang saya paparkan di atas, ada pula yang harus kita perhatikan bahwa IMAN dan UKHUWWAH itu bukan untuk ditunggu tapi untuk diupayakan. Tidak mungkin dua hal tadi datang begitu saja tanpa kita mencarinya, tanpa kita mengupayakannya. Dan yang patut kita ingat, beriman dan berukhuwwah itu dua sisi mata uang. Tatkala kita dapat yang satu, maka kita dapat pula yang lainnya. Nah, pertanyaannya sudah kuatkah iman kita sehingga kuat pula persaudaraan di antara kita? Coba kita lihat 'batas-batas' tanda orang beriman sesuai hadits Rasulullah saw.
  • Batas bawah orang beriman itu memberi rasa aman bagi orang di sekitar kita. Tiada yang terganggu dengan kehadiran kita. Tiada yang resah ketika kita ada. Dan kita MAMPU memberi rasa AMAN bagi saudara kita. Ingat kawan, bahkan bisa disebut mengganggu tetangga apabila kita memasak aromanya sampai ke mereka tetapi tidak sampai rasanya. Sudahkah kita memberi rasa aman?
  • Batas tengah, sedikit naik dari batas bawah. Orang beriman itu memberi rasa nyaman bagi sekitarnya. Sekitar kita akan merasa senang bila kita di sana, merasa betah dengan kita, bahkan dengan kehadiran kita bisa mengobati gundah gulana saudara kita. Sudahkah kita beri rasa nyaman?
  • Batas atas, atau puncaknya adalah orang beriman memberi kebermanfaatan untuk sekitarnya. Dimana dia berada, di situlah manfaat darinya dirasa. Sangat luar biasa, namun sudahkah kita?
Itulah kawan sedikit apa yang bisa menjadi tips penguat IMAN dan HUBUNGAN kita. Namun, karena ukhuwwah itu antara percaya dan menjaga tetaplah ada cara untuk saling menjaga, saling mengingatkan, saling menasehati dalam kebenaran. Hanya saja yang harus kita utamakan adalah INGATKAN DENGAN PERKATAAN YANG BAIK, yaitu PERKATAAN yang BENAR, disampaikan dengan CARA yang BAIK, dan WAKTU yang TEPAT. Jadikan kebaikan membersamai tiap kebenaran, agar kebenaran yang kita sampaikan dapat dirasa mengenakkan tidak menyakitkan.

Semoga apa yang sedikit ini bisa menjadi penguat rasa bersaudara dan iman diantara kita. Karena sungguh kawan, kita bersaudara dengan persaudaraan lebih kuat dari segala ikatan yang ada. Uhibbukum fillah :)

Inspirasi dari hasil bedah buku Dalam Dekapan Ukhuwwah karya mas Salim A Fillah

Kami Menjerit Mereka Berkelit

Aku bertanya pada langit
Bila bangsa ini kan bangkit?

Negeri sakit
Ekonomi pailit
Membuat perut kami makin melilit

Kehidupan sulit
Membuat kami makin terhimpit

Teriak kami menagih janji elit
Tanya kami pada pemerintah yang pelit

Kapan? Kapan? Kapan negeri ini kan bagkit?

Para elit itu lekas berkelit
"Ah, itu pertanyaan yang sulit"

Bandung, Januari 2010

Jumat, 07 Januari 2011

Sejenak Mengenang Pribadi Seorang Rasulullah SAW. (Sirah Series)

    Pada masa Rasulullah memimpin masyarakat Madinah, selaku orang besar ia justru terlihat prihatin, walaupun warga Madinah hidup berkecukupan. Kalau ada pakaian yang robek, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memeras susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual. Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

Sayidatina 'Aisyah menceritakan "Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai shalat."  Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar.

Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?" (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan') 'Aisyah menjawab dengan agak serba salah, "Belum ada apa-apa wahai Rasulullah." Rasulullah lantas berkata, "Jika begitu aku puasa saja hari ini." Tanpa sedikit tergambar rasa kesal diwajahnya.

     Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasulullah menegur, "Mengapa engkau memukul isterimu?" Lantas dijawab dengan agak gementar, "Isteriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasehat dia tetap bandel, jadi aku pukul dia." "Aku tidak bertanya alasanmu," sahut Nabi s.a.w. "Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu bagi anak-anakmu ?"

    Pernah baginda bersabda, "sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya."

  Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda dalam menjadi kepala keluarga tidak menampakkan kedudukannya sebagai pemimpin umat.

Pada suatu hari, ketika Rasulullah mengimami Shalat Isya berjamaah, para sahabat yang jadi makmum dibuat cemas oleh keadaan nabi yang agaknya sedang sakit payah. Buktinya, setiap kali ia menggerakkan tubuh untuk rukuk, sujud dan sebagainya, selalu terdengar suara keletak-keletik, seakan-akan tulang-tulang Nabi longgar semuanya. Maka, sesudah salam, Umar bin Khatab bertanya,"Ya, Rasullullah, apakah engkau sakit?". "Tidak, Umar, aku sehat," jawab Nabi.
     
     "Tapi mengapa tiap kali engkau menggerakkan badan dalam shalat, kami mendengar bunti tulang-tulangmu yang berkeretakan?". Mula-mula, Nabi tidak ingin membongkar rahasian. Namun, karena para sahabat tampaknya sangat was-was memperhatikan keadaannya, Nabi terpaksa membuka pakaiannya.  Tampak oleh para sahabat, Nabi mengikat perutnya yang kempis dengan selembar kain yang didalamnya diiisi batu-batu kerikil untuk mengganjal perut untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kerikil itulah yang berbunyi keletak-keletik sepanjang Nabi memimpin shalat berjamaah.

    Serta merta Umar pun memekik pedih, "Ya, Rasulullah, apakah sudah sehina itu anggapanmu kepada kami? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan lapar, kami tidak bersedia memberimu makan yang paling lezat ? Bukankah kami semuanya hidup dalam kemakmuran ?".

Nabi tersenyum ramah seraya menyahut, "Tidak, Umar tidak. Aku tahu, kalian, para sahabatku, adalah orang-orang yang setia kepadaku. Apalagi sekedar makanan, harta ataupun nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cintamu terhadapku, tetapi dimana akan kuletakkan mukaku dihadapan pengadilan Allah kelak di Hari Pembalasan, apabila aku selaku pemimpin justru membikin berat dan menjadi beban orang-orang yang aku pimpin?".
    Para sahabat pun sadar akan peringatan yang terkandung dalam ucapan Nabi tersebut, sesuai dengan tindakannya yang senantiasa lebih mementingkan kesejahteraan umat daripada dirinya sendiri.

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor. Baginda hanya diam dan bersabar ketika kain rida'nya ditarik dengan kasar oleh seorang Arab Baduwi hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencing si Baduwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

      Mengenang pribadi yang amat halus ini, timbul persoalan dalam diri kita... adakah lagi bayangan pribadi baginda Rasulullah s.a.w. hari ini? 

Apakah rahasia yang menjadikan jiwa dan akhlak baginda begitu indah? Apakah yang menjadi rahasia kehalusan akhlaknya hingga sangat memikat dan menjadikan mereka begitu tinggi kecintaan padanya.
Apakah kunci kehebatan peribadi baginda yang bukan saja sangat bahagia kehidupannya walaupun di dalam kesusahan dan penderitaan, bahkan mampu pula membahagiakan orang lain tatkala di dalam derita. Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH S.W.T dan rasa kehambaan yang sudah menyatu dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.

     Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam kesendirian.

Seorang tabib yang dikirim oleh penguasa Mesir, Muqauqis, sebagai tanda persahabatan, selama dua tahun di Madinah sama sekali menganggur. Menandakan betapa kesehatan penduduk Madinah betul-betul berada pada tingkatan yang tinggi. Sampai tabib itu bosan dan bertanya kepada Nabi, "Apakah masyarakat Madinah takut kepada tabib?" Nabi menjawab, "Tidak. Terhadap musuh saja tidak takut, apalagi kepada tabib". "Tapi mengapa selama dua tahun tinggal di Madinah, tidak ada seorang pun yang pernah berobat kepada saya?" "Karena penduduk Madinah tidak ada yang sakit," jawab Nabi. Tabib itu kurang percaya, "Masak tidak ada seorang pun yang mengidap penyakit?". "Silakan periksa ke segenap penjuru Madinah untuk membuktikan ucapanku,"ujar Nabi.

      Maka tabib Mesir itu pun melakukan perjalanan kelililng Madinah guna mencari tahu apakah benar ucapan Nabi tersebut. Ternyata memang di seluruh Madinah ia tidak menjumpai orang yang sakit-sakitan. Akhirnya, ia berubah menjadi kagum dan bertanya kepada Nabi, "Bagaimana resepnya sampai orang-orang Madinah sehat-sehat semuanya ?"

       Rasulullah menjawab, "Kami adalah suatu kaum yang tidak akan makan kalau belum lapar. Jika kami makan, tidaklah sampai terlalu kenyang. Itulah resep untuk hidup sehat, yakni makan yang halal dan baik, dan makanlah untuk takwa, tidak sekedar memuaskan hawa nafsu".

Ketika pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah hingga pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiklnya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. ketika ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah, "Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin masuk Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini ?" Jawab baginda dengan lunak, "Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur."

       Maka benarlah nasyid yang bersenandung.
       "Tak terjangkau tinggi pekertimu
         Tidak tergambar indahnya akhlakmu
         Tidak terbalas segala jasamu
         Sesungguhnya engkau rasul mulia
         Tabahnya hatimu menempuh dugaan
        Mengajar erti kesabaran
        Menjulang panji kemenangan
        Terukir namamu di dalam Al-Quran"


Bagaimana Dengan Shalat Kita? (Serial Kisah)


       Sewaktu pulang dari suatu peperangan, Nabi S.A.W telah bermalam disuatu tempat. Baginda bertanya:
"Siapa yang hendak menjaga kemahku malam ini?"

       Ammar bin Yassir dari kaum Muhajirin dan Abbad bin Basyar dari kaum Anshar telah menawarkan diri masing-masing untuk mengawasi kemah Nabi S.A.W. Kedua-duanya telah ditugaskan berjaga-jaga di puncak sebuah bukit berdekatan dengan tempat Nabi beristirahat. Abbad berkata kepada Ammar : "Marilah bertugas bergiliran setengah hari yang pertama, aku akan berjaga supaya engkau dapat melelapkan matamu.Kemudian engkau berjaga supaya aku dapat melelapkan mataku." Ammar setuju, dia pun merebahkan badannya lalu tidur dengan nyenyaknya. Sambil menjalankan tugasnya Abbad telah mendirikan sholat.

       Seorang pengintai musuh telah melihatnya lalu melepaskan anak panahnya yang menembus badan Abbad. Melihat keadaan Abbad yang masih berdiri tegak itu, si pengintai tadi melepaskan lagi dua anak panahnya. Abbad kemudian mencabut ketiga anak panah tersebut lantas membangunkankan Ammar. Sementara itu, ketika melihat Ammar bersama-sama Abbad, laskar musuh tadi melarikan diri karena menyangka ada banyak lagi laskar-laskar Islam disitu. Melihat badan Abbad yang berdarah Ammar berkata:
"Subhanallah! Mengapa kamu lambat membangunkan aku?"

Jawab Abbad: "Di dalam Qiraatku, aku telah membaca surah al-Kahfi dan aku enggan memendekkannya. Tetapi ketika anak panah yang ketiga melekat dibadanku, aku merasa bimbang dengan keselamatan Rasulullah. Aku pun segera menamatkan sholatku lalu membangunkanmu. Kalau tidak, sudah tentu aku akan menamatkan pembacaan surah al-Kahfi sebelum ruku' meskipun aku terpaksa mati dipanah musuh itu."

       Oleh karena asyik membaca al-Qur'an, Abbad tidak gentar dengan senjata musuh. Nikmat membaca al-Qur'an menyebabkan dia lupa terhadap badannya yang sakit dan berdarah itu.
Di zaman sekarang ini, gigitan nyamuk sudah bisa menganggu sholat kita.
Begitulah betapa lemahnya iman kita zaman sekarang ini.

Selasa, 04 Januari 2011

Kita Kalah Karena Belum Siap Menang (Review AFF Cup 2010)

"Son son, gagal maning gagal maning." -kata-kata di sebuah serial TV bertahun silam.

Dua ribu sepuluh usai sudah, dan harapan kita untuk mengakhiri puasa gelar kembali musnah. Lagi-lagi sepakbola kita dihadapkan pada kata 'NYARIS'. Mengikuti jejak penjajahnya yang tiga kali kandas di final ajang yang sama (Piala Dunia), kita bahkan empat kali kandas di ajang 'hanya' tingkat Asia Tenggara.

Miris memang, di saat negeri ini begitu merindukan adanya prestasi membanggakan kita malah dihadapkan dengan adanya kekalahan yang boleh jadi diakibatkan oleh ketidaksiapan beberapa elemen negeri ini untuk menang. Lihat saja betapa euforia berlebihan di tingkat masyarakat sampai pejabat, pemberitaan berlebihan oleh media, acara-acara timnas yang sama sekali tidak berhubungan dengan sepakbola, sampai kisruhnya untuk menonton langsung di stadion utama Gelora Bung Karno..

Mencoba melihat kembali ajang AFF Suzuki Cup 2010 yang begitu membius negeri ini. Setelah kita berhasil menang mutlak di penyisihan grup dan mengalahkan tim 'Inggris Amatir' atau Filiphina, muncul harapan yang sangat besar bahwa kita bisa 'buka puasa' setelah 19 tahun lamanya. Namun apa daya, selalu menang di kandang, bahkan mengalahkan 2 kali negara juara, Malaysia, masih belum cukup sebagai tumbal ongkos kemenangan. Kembali Tuhan menguji kita dengan kesabaran dan ingin melihat keetosan kerja kita untuk menggapai kemenangan di lain waktu. Hanya bisa tersenyum melihat perayaan juara negara lawan di kandang kita.

Banyak yang bilang kalau kita kalah terhormat, mereka menang curang, kita kalah bersih atau apapunlah itu yang sedang ramai, intinya satu : Kita Kalah, dan harus berjiwa ksatria, berlapang dada dalam menerima hasil akhir tersebut. Tuhan itu memberi segala sesuatu tatkala kita siap menerimanya, jikalau kita masih belum menang berarti kita masih BELUM SIAP MENANG. 


Mengapa saya berkata seperti itu? Bukannya saya tidak mencintai negeri ini, tetapi itu fakta yang terjadi. 

  1. Pejabat pada numpang tenar. Pemilu 2014 bolehlah masih lama, tetapi manuver politik melalui timnas kita, yang telah MERUGIKAN bangsa begitu banyak dan seakan lumrah terjadi. Belum menang saja sudah menjanjikan bonus bermacam-macam, kemudian mengundang makan dan pergi kesana kemari. Saya pribadi sedikit bersyukur kita kalah, karena kalau menang khawatir nanti para pejabat dan politikus itu MENGKLAIM kemenangan Indonesia berkat mereka. Padahal para pahlawan kita adalah pemain timnas, bukan mereka.
  2. Media yang LEBAY. Sebuah stasiun TV, (karena tak boleh menyebut merek yasudah saya menulisnya di sini dengan nama TV Oon) begitu getol mengganggu kegiatan pemain timnas dengan wawancara dan agenda lainnya. Seakan lupa kalau pemain timnas itu juga manusia yang butuh istirahat. Stasiun TV lain pun juga demikian, bahkan sampai menge-shoot pemain kita pas lagi tidur di pesawat. Emangnya anak ya kalo lagi tidur diliatin? Risih lah!
  3. Kacaunya tiket kita. Ini yang cukup membuat heboh. Udah harganya MAHAL, ngantri LAMA, BEREBUTAN, RUSUH ga karuan, dan malah jadi ajang PERTARUNGAN. PSSI pun malah ga mau disalahkan, malah menyalahkan para supporter yang katanya ga tertib. 
  4. Tidak profesionalnya PSSI kita. Ini yang boleh dibilang sebagai 'kambing hitam' atas kekalahan kita kali ini. Rezim PSSI yang sudah lama tidak menghasilkan prestasi dan tidak tahu diri. Masih ingat ketika Indonesia hanya bisa menang 3-0 lawan Maladewa? Betapa Pak Nurdin Halid mencerca pelatih kita karena kita hanya menang 3-0. Atau hal yang baru? Ketika kini ada pertarungan antara PSSI dengan LPI. Dimana PSSI menganggap LPI itu ilegal dan akan memblacklist pemain serta perangkatnya. Sebuah peraturan yang menurut saya aneh tapi apa dikata inilah PSSI yang dipimpin oleh Mantan NAPI.
  5. Supporter yang terlalu memuja. Segala yang berlebihan itu ga baik, begitu pun sebaliknya. Jalanilah apapun dengan secukupnya. Begitu pun dalam mencinta dan memuja. Betapa kecintaan berlebihan kita pada timnas Indonesia kembali hanya membuahkan kecewa. Betapa kecintaan berlebihan kita mungkin telah membuat 'Sang Pencipta' murka sehingga menunda kemenangan untuk kita. 

Sebenarnya masih banyak hal yang harus dibenahi dalam sepakbola kita, mengingat usia PSSI yang sudah tua (lahir 1930) tetapi kini seret prestasi. Negeri ini yang notabenenya mayoritas pecinta sepakbola sungguh merindukan prestasi membanggakan. Sebagai obat duka atas korupsi yang tiada henti dan bencana silih berganti. Semoga di tahun baru ini Indonesia mampu menggapai mimpi.

Teriakkan dalam-dalam, jadikan ini sebagai pelecut semangat, katakan, "INDONESIA BERPRESTASI BUKANLAH MIMPI!