Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Desember 2012

Mengambil Sedikit Keteladanan dari Karakter Nobita.

Kenal dengan Nobita? Karakter terkenal dari serial kartun Doraemon asal Jepang.

Tokoh ini kerap digambarkan sebagai tokoh yang cengeng, manja, juga lemah berolahraga dan akademik. Tapi tahukah, kalau ternyata Nobita pun punya sisi yang bisa kita teladani.

Ah masa? Apanya yang diteladani? Perasaan Nobita tuh paling gak bisa dijadikan teladan deh.

Eits, kita bahas dulu yaa..

Secengeng-cengengnya Nobita, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi teman-temannya. Nobita tidak pernah menjadi orang yang pertama memulai permusuhan. Meski ia kesal dengan Giant serta Suneo pun, mereka tetaplah berkawan. Bahkan di komik jilid pertamanya, meski telah dijahili Suneo, ia tidak berpikir tuk membalas sampai Doraemon 'mengompori'nya.

Nobita lemah dalam hal akademik ataupun olahraga, tapi kelemahannya itu tidak menyurutkan niat berkontribusi bagi sekitarnya. Selalu ada yang bisa ia kerjakan meski mungkin terlihat ada kekacauan.

Nobita memang manja, tapi ia sangat sayang pada orang tuanya. Coba lihat ketika ia berusaha memberikan hadiah natal tuk ayahnya yang selalu berdesak-desakan dalam kereta, ia membuat jalur kereta pribadi khusus ayahnya. Atau ketika ia membuat jalur simulasi mobil tuk ayahnya belajar menyetir. Dan banyak kebaikan lain yang Nobita lakukan untuk kedua orang tuanya.

Terakhir, Nobita mungkin dikenal di Bumi sebagaimana disebut di awal. Tapi tahukah bahwa penghuni planet dan bangsa lain menganggapnya pahlawan? Bahkan beberapa kali Bumi ia selamatkan. Hebatnya lagi, ia tak menuntut pamrih balas jasa. Tak juga ia mengungkit-ungkit kebaikan-kebaikannya.

So, itu sedikit sisi baik yang saya coba tulis dari seorang Nobita. Hanya agar kita bisa mengambil kebaikan dari mana saja, termasuk dari karakter Nobita.

Ambillah kebaikan meski mungkin sedikit atau kecil menurut kita, karena kita tidak pernah tahu amalan mana yang kan mengantarkan kita pada ridho dan jannahNya.

Ditulis dalam perjalanan menuju Jakarta, 17 Desember 2012.
Muhammad Ridho Fazri

Jumat, 07 Januari 2011

Sejenak Mengenang Pribadi Seorang Rasulullah SAW. (Sirah Series)

    Pada masa Rasulullah memimpin masyarakat Madinah, selaku orang besar ia justru terlihat prihatin, walaupun warga Madinah hidup berkecukupan. Kalau ada pakaian yang robek, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memeras susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual. Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

Sayidatina 'Aisyah menceritakan "Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai shalat."  Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar.

Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?" (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan') 'Aisyah menjawab dengan agak serba salah, "Belum ada apa-apa wahai Rasulullah." Rasulullah lantas berkata, "Jika begitu aku puasa saja hari ini." Tanpa sedikit tergambar rasa kesal diwajahnya.

     Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasulullah menegur, "Mengapa engkau memukul isterimu?" Lantas dijawab dengan agak gementar, "Isteriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasehat dia tetap bandel, jadi aku pukul dia." "Aku tidak bertanya alasanmu," sahut Nabi s.a.w. "Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu bagi anak-anakmu ?"

    Pernah baginda bersabda, "sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya."

  Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda dalam menjadi kepala keluarga tidak menampakkan kedudukannya sebagai pemimpin umat.

Pada suatu hari, ketika Rasulullah mengimami Shalat Isya berjamaah, para sahabat yang jadi makmum dibuat cemas oleh keadaan nabi yang agaknya sedang sakit payah. Buktinya, setiap kali ia menggerakkan tubuh untuk rukuk, sujud dan sebagainya, selalu terdengar suara keletak-keletik, seakan-akan tulang-tulang Nabi longgar semuanya. Maka, sesudah salam, Umar bin Khatab bertanya,"Ya, Rasullullah, apakah engkau sakit?". "Tidak, Umar, aku sehat," jawab Nabi.
     
     "Tapi mengapa tiap kali engkau menggerakkan badan dalam shalat, kami mendengar bunti tulang-tulangmu yang berkeretakan?". Mula-mula, Nabi tidak ingin membongkar rahasian. Namun, karena para sahabat tampaknya sangat was-was memperhatikan keadaannya, Nabi terpaksa membuka pakaiannya.  Tampak oleh para sahabat, Nabi mengikat perutnya yang kempis dengan selembar kain yang didalamnya diiisi batu-batu kerikil untuk mengganjal perut untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kerikil itulah yang berbunyi keletak-keletik sepanjang Nabi memimpin shalat berjamaah.

    Serta merta Umar pun memekik pedih, "Ya, Rasulullah, apakah sudah sehina itu anggapanmu kepada kami? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan lapar, kami tidak bersedia memberimu makan yang paling lezat ? Bukankah kami semuanya hidup dalam kemakmuran ?".

Nabi tersenyum ramah seraya menyahut, "Tidak, Umar tidak. Aku tahu, kalian, para sahabatku, adalah orang-orang yang setia kepadaku. Apalagi sekedar makanan, harta ataupun nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cintamu terhadapku, tetapi dimana akan kuletakkan mukaku dihadapan pengadilan Allah kelak di Hari Pembalasan, apabila aku selaku pemimpin justru membikin berat dan menjadi beban orang-orang yang aku pimpin?".
    Para sahabat pun sadar akan peringatan yang terkandung dalam ucapan Nabi tersebut, sesuai dengan tindakannya yang senantiasa lebih mementingkan kesejahteraan umat daripada dirinya sendiri.

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor. Baginda hanya diam dan bersabar ketika kain rida'nya ditarik dengan kasar oleh seorang Arab Baduwi hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencing si Baduwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

      Mengenang pribadi yang amat halus ini, timbul persoalan dalam diri kita... adakah lagi bayangan pribadi baginda Rasulullah s.a.w. hari ini? 

Apakah rahasia yang menjadikan jiwa dan akhlak baginda begitu indah? Apakah yang menjadi rahasia kehalusan akhlaknya hingga sangat memikat dan menjadikan mereka begitu tinggi kecintaan padanya.
Apakah kunci kehebatan peribadi baginda yang bukan saja sangat bahagia kehidupannya walaupun di dalam kesusahan dan penderitaan, bahkan mampu pula membahagiakan orang lain tatkala di dalam derita. Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH S.W.T dan rasa kehambaan yang sudah menyatu dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.

     Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam kesendirian.

Seorang tabib yang dikirim oleh penguasa Mesir, Muqauqis, sebagai tanda persahabatan, selama dua tahun di Madinah sama sekali menganggur. Menandakan betapa kesehatan penduduk Madinah betul-betul berada pada tingkatan yang tinggi. Sampai tabib itu bosan dan bertanya kepada Nabi, "Apakah masyarakat Madinah takut kepada tabib?" Nabi menjawab, "Tidak. Terhadap musuh saja tidak takut, apalagi kepada tabib". "Tapi mengapa selama dua tahun tinggal di Madinah, tidak ada seorang pun yang pernah berobat kepada saya?" "Karena penduduk Madinah tidak ada yang sakit," jawab Nabi. Tabib itu kurang percaya, "Masak tidak ada seorang pun yang mengidap penyakit?". "Silakan periksa ke segenap penjuru Madinah untuk membuktikan ucapanku,"ujar Nabi.

      Maka tabib Mesir itu pun melakukan perjalanan kelililng Madinah guna mencari tahu apakah benar ucapan Nabi tersebut. Ternyata memang di seluruh Madinah ia tidak menjumpai orang yang sakit-sakitan. Akhirnya, ia berubah menjadi kagum dan bertanya kepada Nabi, "Bagaimana resepnya sampai orang-orang Madinah sehat-sehat semuanya ?"

       Rasulullah menjawab, "Kami adalah suatu kaum yang tidak akan makan kalau belum lapar. Jika kami makan, tidaklah sampai terlalu kenyang. Itulah resep untuk hidup sehat, yakni makan yang halal dan baik, dan makanlah untuk takwa, tidak sekedar memuaskan hawa nafsu".

Ketika pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah hingga pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiklnya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. ketika ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah, "Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin masuk Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini ?" Jawab baginda dengan lunak, "Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur."

       Maka benarlah nasyid yang bersenandung.
       "Tak terjangkau tinggi pekertimu
         Tidak tergambar indahnya akhlakmu
         Tidak terbalas segala jasamu
         Sesungguhnya engkau rasul mulia
         Tabahnya hatimu menempuh dugaan
        Mengajar erti kesabaran
        Menjulang panji kemenangan
        Terukir namamu di dalam Al-Quran"


Bagaimana Dengan Shalat Kita? (Serial Kisah)


       Sewaktu pulang dari suatu peperangan, Nabi S.A.W telah bermalam disuatu tempat. Baginda bertanya:
"Siapa yang hendak menjaga kemahku malam ini?"

       Ammar bin Yassir dari kaum Muhajirin dan Abbad bin Basyar dari kaum Anshar telah menawarkan diri masing-masing untuk mengawasi kemah Nabi S.A.W. Kedua-duanya telah ditugaskan berjaga-jaga di puncak sebuah bukit berdekatan dengan tempat Nabi beristirahat. Abbad berkata kepada Ammar : "Marilah bertugas bergiliran setengah hari yang pertama, aku akan berjaga supaya engkau dapat melelapkan matamu.Kemudian engkau berjaga supaya aku dapat melelapkan mataku." Ammar setuju, dia pun merebahkan badannya lalu tidur dengan nyenyaknya. Sambil menjalankan tugasnya Abbad telah mendirikan sholat.

       Seorang pengintai musuh telah melihatnya lalu melepaskan anak panahnya yang menembus badan Abbad. Melihat keadaan Abbad yang masih berdiri tegak itu, si pengintai tadi melepaskan lagi dua anak panahnya. Abbad kemudian mencabut ketiga anak panah tersebut lantas membangunkankan Ammar. Sementara itu, ketika melihat Ammar bersama-sama Abbad, laskar musuh tadi melarikan diri karena menyangka ada banyak lagi laskar-laskar Islam disitu. Melihat badan Abbad yang berdarah Ammar berkata:
"Subhanallah! Mengapa kamu lambat membangunkan aku?"

Jawab Abbad: "Di dalam Qiraatku, aku telah membaca surah al-Kahfi dan aku enggan memendekkannya. Tetapi ketika anak panah yang ketiga melekat dibadanku, aku merasa bimbang dengan keselamatan Rasulullah. Aku pun segera menamatkan sholatku lalu membangunkanmu. Kalau tidak, sudah tentu aku akan menamatkan pembacaan surah al-Kahfi sebelum ruku' meskipun aku terpaksa mati dipanah musuh itu."

       Oleh karena asyik membaca al-Qur'an, Abbad tidak gentar dengan senjata musuh. Nikmat membaca al-Qur'an menyebabkan dia lupa terhadap badannya yang sakit dan berdarah itu.
Di zaman sekarang ini, gigitan nyamuk sudah bisa menganggu sholat kita.
Begitulah betapa lemahnya iman kita zaman sekarang ini.

Selasa, 04 Januari 2011

Kita Kalah Karena Belum Siap Menang (Review AFF Cup 2010)

"Son son, gagal maning gagal maning." -kata-kata di sebuah serial TV bertahun silam.

Dua ribu sepuluh usai sudah, dan harapan kita untuk mengakhiri puasa gelar kembali musnah. Lagi-lagi sepakbola kita dihadapkan pada kata 'NYARIS'. Mengikuti jejak penjajahnya yang tiga kali kandas di final ajang yang sama (Piala Dunia), kita bahkan empat kali kandas di ajang 'hanya' tingkat Asia Tenggara.

Miris memang, di saat negeri ini begitu merindukan adanya prestasi membanggakan kita malah dihadapkan dengan adanya kekalahan yang boleh jadi diakibatkan oleh ketidaksiapan beberapa elemen negeri ini untuk menang. Lihat saja betapa euforia berlebihan di tingkat masyarakat sampai pejabat, pemberitaan berlebihan oleh media, acara-acara timnas yang sama sekali tidak berhubungan dengan sepakbola, sampai kisruhnya untuk menonton langsung di stadion utama Gelora Bung Karno..

Mencoba melihat kembali ajang AFF Suzuki Cup 2010 yang begitu membius negeri ini. Setelah kita berhasil menang mutlak di penyisihan grup dan mengalahkan tim 'Inggris Amatir' atau Filiphina, muncul harapan yang sangat besar bahwa kita bisa 'buka puasa' setelah 19 tahun lamanya. Namun apa daya, selalu menang di kandang, bahkan mengalahkan 2 kali negara juara, Malaysia, masih belum cukup sebagai tumbal ongkos kemenangan. Kembali Tuhan menguji kita dengan kesabaran dan ingin melihat keetosan kerja kita untuk menggapai kemenangan di lain waktu. Hanya bisa tersenyum melihat perayaan juara negara lawan di kandang kita.

Banyak yang bilang kalau kita kalah terhormat, mereka menang curang, kita kalah bersih atau apapunlah itu yang sedang ramai, intinya satu : Kita Kalah, dan harus berjiwa ksatria, berlapang dada dalam menerima hasil akhir tersebut. Tuhan itu memberi segala sesuatu tatkala kita siap menerimanya, jikalau kita masih belum menang berarti kita masih BELUM SIAP MENANG. 


Mengapa saya berkata seperti itu? Bukannya saya tidak mencintai negeri ini, tetapi itu fakta yang terjadi. 

  1. Pejabat pada numpang tenar. Pemilu 2014 bolehlah masih lama, tetapi manuver politik melalui timnas kita, yang telah MERUGIKAN bangsa begitu banyak dan seakan lumrah terjadi. Belum menang saja sudah menjanjikan bonus bermacam-macam, kemudian mengundang makan dan pergi kesana kemari. Saya pribadi sedikit bersyukur kita kalah, karena kalau menang khawatir nanti para pejabat dan politikus itu MENGKLAIM kemenangan Indonesia berkat mereka. Padahal para pahlawan kita adalah pemain timnas, bukan mereka.
  2. Media yang LEBAY. Sebuah stasiun TV, (karena tak boleh menyebut merek yasudah saya menulisnya di sini dengan nama TV Oon) begitu getol mengganggu kegiatan pemain timnas dengan wawancara dan agenda lainnya. Seakan lupa kalau pemain timnas itu juga manusia yang butuh istirahat. Stasiun TV lain pun juga demikian, bahkan sampai menge-shoot pemain kita pas lagi tidur di pesawat. Emangnya anak ya kalo lagi tidur diliatin? Risih lah!
  3. Kacaunya tiket kita. Ini yang cukup membuat heboh. Udah harganya MAHAL, ngantri LAMA, BEREBUTAN, RUSUH ga karuan, dan malah jadi ajang PERTARUNGAN. PSSI pun malah ga mau disalahkan, malah menyalahkan para supporter yang katanya ga tertib. 
  4. Tidak profesionalnya PSSI kita. Ini yang boleh dibilang sebagai 'kambing hitam' atas kekalahan kita kali ini. Rezim PSSI yang sudah lama tidak menghasilkan prestasi dan tidak tahu diri. Masih ingat ketika Indonesia hanya bisa menang 3-0 lawan Maladewa? Betapa Pak Nurdin Halid mencerca pelatih kita karena kita hanya menang 3-0. Atau hal yang baru? Ketika kini ada pertarungan antara PSSI dengan LPI. Dimana PSSI menganggap LPI itu ilegal dan akan memblacklist pemain serta perangkatnya. Sebuah peraturan yang menurut saya aneh tapi apa dikata inilah PSSI yang dipimpin oleh Mantan NAPI.
  5. Supporter yang terlalu memuja. Segala yang berlebihan itu ga baik, begitu pun sebaliknya. Jalanilah apapun dengan secukupnya. Begitu pun dalam mencinta dan memuja. Betapa kecintaan berlebihan kita pada timnas Indonesia kembali hanya membuahkan kecewa. Betapa kecintaan berlebihan kita mungkin telah membuat 'Sang Pencipta' murka sehingga menunda kemenangan untuk kita. 

Sebenarnya masih banyak hal yang harus dibenahi dalam sepakbola kita, mengingat usia PSSI yang sudah tua (lahir 1930) tetapi kini seret prestasi. Negeri ini yang notabenenya mayoritas pecinta sepakbola sungguh merindukan prestasi membanggakan. Sebagai obat duka atas korupsi yang tiada henti dan bencana silih berganti. Semoga di tahun baru ini Indonesia mampu menggapai mimpi.

Teriakkan dalam-dalam, jadikan ini sebagai pelecut semangat, katakan, "INDONESIA BERPRESTASI BUKANLAH MIMPI!" 

Senin, 05 April 2010

Belajar Tulus Dari Sepasang As (Serial Hikmah)

Bismillahirrahmanirrahim.

Sebenarnya saya sudah ingin menuangkan apa yang ada dalam hati ini dari beberapa beberapa waktu yang lalu , tapi akhirnya Allah mengizinkan saya untuk kembali berbagi tentang apa yang saya rasakan pada malam yang pekat ditemani rintik hujan yang tiada lebat.

Ada kisah menarik, berisi tentang tujuan, ketulusan, keajaiban, dan kehendakNya yang tiada dapat kita bayangkan dengan logika. Kisah yang terdapat di majalah Hidayatullah edisi Desember 2007, yang diceritakan kembali oleh ust. Solihin dalam bukunya Happy Ending Full Barokah, ini menceritakan tentang perjuangan sepasang As. Asep dan Asih yang merupakan ‘rakyat kecil’ tapi memiliki tekad besar yang mereka bangun dari puluhan tahun sebelumnya. Apa tekad dan cita mereka? Mereka sangat ingin menunaikan ibadah haji dan menjadi haji yang mabrur karenanya.

Dewasa ini seringkali kita temukan orang-orang yang begitu sering pergi ke Mekkah untuk berhaji. Namun sangat disayangkan, ketika sebagian dari mereka yang melakukan haji secara rutin ternyata tidak berimbas pada amal dan keseharian mereka. Sehingga haji tinggallah haji, tidak menumbuhkan rasa peduli maupun empati.

Di kota kita tercinta ini, Asep (waktu itu usia beliau 61 tahun) bersama istrinya Asih insya Allah dapat mewakili teladan ketulusan. Hampir selama 20 tahun mereka menabung sedikit demi sedikit hasil usaha mereka yang ‘hanya’ warung kecil untuk ongkos haji berdua. Alhamdulillah uang mereka waktu itu sudah terkumpul Rp 50.830.000, nyaris mencukupi untuk ongkos mereka berdua yang pada saat itu sekitar 27juta rupiah seorang. Apabila menabung setahun lagi insya Allah dapat pergi berhaji. Begitu pikir mereka.

Melihat selisih yang sudah tinggal sedikit ini, menambah giat mereka dalam berusaha. Tidak lupa mereka terus menyisihkan hasil keringat mereka demi tujuan besar yang sudah mereka idamkan bertahun lamanya. Hingga suatu pagi terdengar oleh mereka, Kang Endi yang merupakan sahabat karib sesame jama’ah masjid dirawat di RS Hasan Sadikin Bandung. Asep pun bersegera menjenguknya.

Kang Endi dirawat di ICU karena didiagnosa ada tumor ganas yang menyerang dan menjalar. Selama beberapa hari Kang Endi dirawat, Asep kerap menjenguknya dan membesarkan hati sahabatnya tersebut. Hingga tatkala hari kesebelas, saat Kang Endi sudah beberapa hari dipindah dari ICU ke kamar kelas 3, seorang perawat datang membawa surat tawaran operasi dengan biaya yang luar biasa besar, hampir Rp 50.000.000. Dengan ekonomi mereka yang terbatas, keluarga Kang Endi sudah pasrah. Sementara kondisi Kang Endi sendiri semakinparah dengan tubuh yang kian kurus dan lemah. Di pinggir ranjang sahabatnya, Asep hanya berdiam diri sambil memperhatikan kondisi sahabatnya dan keluarga Kang Endi. Tak lama dari itu, Asep mohon pamit untuk pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Asep menawarkan keputusannya kepada Asih. Dia ceritakan kondisi di rumah sakit tadi. “Bu, kondisi Kang Endi semakin memburuk. Bapak tidak sanggup melihat penderitaanya.”
“Kasian ya Pak! Kita bisa bantu apa?” tanya ibu Asih iba. “Kalau ibu berkenan, bagaimana bila tabungan haji kita DIBERIKAN SAJA kepada mereka semua untuk biaya operasi?” Asep menawarkan. Asih sempat kaget. “Diberikan? Waduh pak, hampir 20 tahun lho kita nabung. Masak cita-cita ini pupus seketika dengan membantu orang lain?” tutur Asih memelas.

“Bu, banyak orang yang berhaji tapi blum tentu mabrur di sisi Allah. Mungkin ini jalan kita meraih ke-ridho-anNya. Bapak yakin bila kita menolong saudara kita, insya Allah kita DITOLONG ALLAH.” Nasehat Asep
Kalimat demi kalimat yang disampaikan dengan halus, pengertian tanpa paksaan menyirami hati Asih, hingga akhirnya (dengan izin Allah) Asih mengangguk setuju. Keesokan paginya, Asep dan istrinya bersegera ke rumah sakit untuk mengajak bicara istri Kang Endi sekaligus menyerahkan uang yang mereka punya sebagai biaya operasi.

Istri Kang Endi tersentak dan menagis atas ketulusan sahabat suaminya itu. Uang itu segera dibawa untuk melunasi administrasi dan menandatangani formulir operasi yang langsung diadakan kesesokan harinya.
Esoknya, sebelum operasi sang dokter spesialis berbincang dengan keluarga Kang Endi. Memohon doa serta menanyakan perihal asal muasal biaya tersebut mereka dapatkan. Setelah diceritakan tentang asal biaya serta sedikit tentang profesi Asep, operasi dilakukan. Alhamdulillah operasi sukses dan lancer. Setelah itu, Kang Endi menjalani masa penyembuhan yang dimana Asep masih sering menjenguknya.

Suatu ketika Asep dan dokter spesialis sempat berkenalan kerika sang dokter hendak memeriksa Kang Endi. Setelah sedikit berbincang dan bertukar alamat dokter itu memuji kebaikan Asep yang dibalas Asep dengan mengembalikan pujian itu pada Allah.

Beberapa pekan berselang, Kang Endi sudah pulang dari rumah sakit, Asep dan Asih sudah memulai kembali rutinitas harian mereka dengan jauh lebih semangat, demi tujuan mereka yang masih tetap kuat, menunaikan ibadah haji.

Pada suatu malam, datang di depan warung mereka sebuah sedan hitam. Sepasang pria dan wanita turun, yang setelah mendekat tahulah Asep kalau itu adalah dokter yang merawat Kang Endi. Segera disambut mereka dengan keramahan tulus meski gurat kelelahan jelas terlihat di wjah Asep dan Asih. Mereka ingin memuliakan tamu dengan semampu mereka, maka dijamulah mereka dengan jamuan sangat seadanya, dan dimulailah perbincangan hangat antara dokter dengan Asep.

“Kami ingin belajar ikhlas seperti Pak Asep dan Ibu.” ungkap dokter penuh kerendahan. Asep mengelak, merendah.

“Pak Asep dan Ibu, saya dan istri insya Allah berniat melaksanakan ibadah haji tahun depan. Saya mohon doanya agar dimudahkan dan dilancarkan. Saya yakin doa orang-orang sholeh seperti Bapak dan Ibu didengar Allah.” lanjut dokter. Berkali-kali Asep dan Asih hanya bisa mengaminkan walau rasa getir kerap muncul. Sebab tahun depan mereka juga berniat haji dengan tabungan mereka pada awalnya.

“Tapi, supaya doa Bapak dan Ibu semakin dikabulkan, gimana kalau berdoa di TEMPAT YANG MUSTAJAB?” papar dokter tadi. Asep sempat bingung, “Maksud Pak Dokter?”
“Maksud kami, izinkan saya dan istri MENGAJAK BAPAK DAN IBU UNTUK BERHAJI BERSAMA KAMI dan berdoa di sana sehingga Allah mengabulkan doa kita semua,” tutr dokter penuh suka cita.
Sontak Asep dan Asih terdiam. Hening. Tak ada jawaban dari keduanya selain air mata yang terus mengalir. Hanya sujud penuh rasa khidmat dan syukur kepada Allah yang mampu dilakukan Asep dan Asih. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau semuanya kan diganti secepat ini, dan di ujung malam itu. Di atas sajadah lusuh yang menjadi alas sujud mereka, Asep dan Asih menangis. Meledak rasa syukur tak tertahankan dalam tiap sujudnya. Sujud-sujud yang teramat syahdu dalam pilar syukur yang menyala indah.

Subhanallah wa Alhamdulillah. Tiada kata yang mewakili selain hanya pada keagungan Allah kita memasrahkan diri. Semoga kisah ini dapat kita jadikan teladan bersama serta kita ambil hikmah yang terkandung di dalamnya.

Ditulis di pergantian hari, ditemani nasyid menggugah hati, di kamar yang semoga Allah berkahi..

Selasa, 11 Agustus 2009

Perbandingan Dua Pemuda

Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-rasul-Nya ", dan mereka mengatakan: " Kami dengar dan kami taat ". (Mereka berdoa):" Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali ".Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa):" Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir ". QS 2:285-286

Sebuah kisah untukku yang sedang gundah gulana dan kepada kalian saudaraku yang kucintai karenaNya. 

Pernah suatu ketika ada dua orang pemuda dipanggil oleh gurunya. Sang guru meminta kepada dua pemuda tadi untuk menghafalkan surat Al Anfal ayat 1 - 30. Kedua pemuda tadi terdiam. Sang guru bertanya kepada murid yang pertama. " Hey Fulan muridku, sanggupkah engkau?" Pemuda pertama terdiam lama hingga akhirnya menjawab, " Ustaz, saya sedang banyak tugas. Kan saya sudah tingkat akhir.Jadi harus mengurus skripsi dan banyak hal lainnya. Jadi saya ga bakal sanggup ustaz. Banyak banget. Mana bisa saya. Diringankanlah, terserah ustaz tapi jangan banyak - banyak." Sang guru tersenyum tipis berkata, " Baiklah terserah engkau saja. Berapa yang sanggup kau hapal hingga pekan depan?" Pemuda pertama tersenyum lebar dengan cengiran tiada henti, " Ini baru guru saya. Ustaz baik banget deh. Ngertiin saya banget. Saya setor 5 yat aja gmn ustaz?" " Oke silahkan 5 ayat kau setorkan padaku di pekan depan."

Kemudian guru tadi bertanya kepada muridnya yang kedua, " Bagaimana dengan engkau muridku? Sanggupkah?" Pemuda kedua dengan mantap menjawab, " Insya Allah sanggup ustaz."

Sepekan telah berlalu tiba waktu bagi dua pemuda tadi menyetorkan hapalan mereka ke sang guru. Pemuda kedua di panggil dan segera menemui guru tadi untuk menuntaskan hapalannya. Pemuda kedua tadi sanggup menyetorkan 27 dari 30 ayat yang diminta dengan lancar. Setelah itu pemuda tadi menangis meminta maaf kepada gurunya karena belum sanggup memenuhi janjinya. Karena hanya sanggup menyetorkan 27 ayat. Sang guru tersenyum dan berkata, " Kau telah menunjukkan hal yang luar biasa." Setelah itu dipanggilnya pemuda pertama yang ternyata hanya mampu menyetorkan 3 ayat dengan terbata - bata.

Saudaraku lihatlah fenomena tadi. Betapa kita sering bersikap seperti pemuda yang pertama. Diberi amanah langsung merasa tak sanggup meminta keringanan dan berujung pada kegagalan menjalankan amanah yang sudah diringankan. Karena kita terlena akan keringanan tadi. Merasa bahwa hal itu bisa dikerjakan di lain kesempatan. Padahal tiada suatu apapun yang mampu menjamin kehidupan kita bahkan satu detik ke depan. Berbeda dengan pemuda kedua yang ketika mendengarkan langsung dilaksanakan. Setelah itu memohon ampunan karena kekurangsempurnaan diri dalam menjalankan tugas dan amanah. Kemudian menyerahkan penilaian pada yang memberi kita tugas tersebut. Sangat luar biasa. Mampukah kita tuk berbuat seperti pemuda kedua? Yakinkah kita akan semua pertolonganNya tatkala kita mengalami kebuntuan?

"Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." Sudah seberapa maksimalkah usaha kita? Jangan sekali - kali kita terjebak dengan logika.Logika kita letakkan di atas iman. Jangan! Karena hanya menyebabkan kita bersikap kehati-hatian tanpa banyak bertindak. Menyebabkan ragu menyelimuti diri sebelum keputusan terjadi. Namun, letakkan imanmu menjadi pedoman. Menjadi tolok ukur. Menjadi landasan berpikir kita, pengambilan sikap kita. Karena ketika kita meletakkan iman kepadaNya diatas segalaNya, maka Dia akan memberikan logika-logikanya. Memberi solusi yang jauh di luar perkiraan kita. Semoga Allah memudahkan kita kepada segala kemudahan dalam kebaikan.

Waallahu 'alam bisshowab.

sumber : seorang ustaz yang luar biasa memotivasi diriku dengan kembali mengikrarkan komitmenku. semoga Allah memberkahi, meridhoi dan merahmatinya beserta keluarganya.

Sabtu, 01 Agustus 2009

Betapa Banyak Kebaikan Telah Hilang Dari Diri Kita..

Sebuah perenungan dan tadzkirah untuk diriku dan kalian semua yang kucintai karenaNya.

Mengapresiasi atas apa yang telah kita ucapkan, menjadi bukti nyata atas apa yang telah kita ketahui, bukanlah merupakan hal yang mudah. Betapa sulitnya. Tetapi ini bukan sekadar anjuran. Melakukan apa yang telah kita ucapkan sudah menjadi sebuah keharusan kita sebagai seorang manusia yang beriman dan berakal. Karena Allah telah menegaskan perihal ini dalam beberapa ayatNya. Diantaranya Ash Shaff ayat 2 -3, dan Al Baqarah ayat 44. Betapa Dia telah menegaskan akan kemurkaanNya dan sebutan manusia tak berakal bagi siapa saja yang tidak melakukan apa yang telah diucapkan. Lantas apakah kita termasuk ke dalam orang - orang yang Dia murkai dan tak berakal? Na'udzubillah.

Ikhwah fillah. Sering kita merasa dan membandingkan diri kita di hari ini dengan di masa silam. Membandingkan kita sekarang dengan kita di masa lalu akan membuat kita merasa betapa banyak yang telah hilang dari diri kita. Dahulu mungkin kita belum terlalu banyak membaca. Dahulu mungkin kita belum mendapat banyak wawasan.Dahulu mungkin kita belum lama berada atau merasakan tarbiyah. Namun, dapatkah kita merasakan bahwa dahulu amalan kita mungkin lebih banyak. Dahulu mungkin kita merasa lebih yakin dalam beramal. Dahulu mungkin kita lebih merasakan kedamaian ketika melakukan amalan. Dahulu mungkin kita merasakan semangat dan ghirah yang luar biasa. Meskipun mungkin kita lebih sedikit mengetahui.

Ikhwah fillah. Betapa sesungguhnya amal dan ilmu merupakan dua sisi mata uang tak terpisahkan. Kita beramal dengan ilmu. Semakin kaya ilmu seharusnya berimbas akan kekayaan amalan kita. Karena dengan ilmu maka kan lahir amalan. Namun, kita kini sepertinya, memiliki banyak ilmu atau semakin berilmu tapi miskin dalam beramal.

* * *

Marilah kita sejenak berhenti di sini. Memikirkan apa yang sedang kita bahas dan kita perbincangkan di sini. Perhatikanlah saudaraku. Perhatikan bahwa jika kita berbicara dan mengucapkan sesuatu, maka kita diajak berbicara oleh kata - kata itu. Kata - kata yang kita keluarkan akan menuju ke kita sebagai sasaran pertama dan utamanya. Sebagai orientasi awal. Agar kelak kita tidak menjadi hamba - hamba yang dimurkai olehNya dan tiada berakal.

Ikhwah fillah. Mari kita lihat diri kita. Kita terawang hati, jiwa, akal, dan raga kita. Betapa banyak kebaikan yang telah hilang dari diri kita. Betapa semakin lemah diri ini menghadapi cobaan dariNya. Mari memuhasabahi diri sebelum beramal. Kita lihat apa yang menjadi orientasi amalan kita. Kita lihat sudah benarkah niat kita. Kita luruskan kembali segala hal yang ada dalam diri kita.

Ingatlah tujuan hidup kita. Ingat betapa besar misi yang kita emban hingga gunung pun tak sanggup memikulnya. Ingat kembali segala yang telah kita pelajari dan meri bersama kita coba tuk amalkan dan saling mengingatkan. Saudaraku. Sungguh, betapa banyak kebaikan telah hilang dari diri kita.

Sumber Inspirasi: Tarbawi 209 th 11

Rabu, 17 Juni 2009

DEMOKRASI? WHY NOT?

Demokrasi?

Apa sebenarnya makna dari kata demokrasi?

Betapa sering akhir - akhir ini kata itu terdengar di teling kita namun, apakah kita sudah mengetahui makna dari demokrasi? Beberapa diantara kita mungkin menganggap demokrasi bukanlah sebuah solusi. Negeri ini tidak akan berkah selama tidak meninggalkan dan masih menganut sistem yang diadopsi dari barat ini. Banyak kalangan yang dengan lantang meneriakkan kalimat, "Tegakkan syari'at islam sekarang juga!!", "Say no to demokrasi!!", dan sebagainya, yang pada intinya mereka menolak diadakan demokrasi dalam menjalankan roda pemerintahan negeri.

Saya bukan berarti tidak setuju dengan kalimat tersebut, tetapi itu juga bukan berarti saya menyetujui hal tersebut. Di era global ini mulai tercipta sebuah zona antara benar salah, antara hitam putih. Zona abu - abu. Betapa banyak permasalahan yang terkadang membuat kita bingung dalam mengambil keputusan. Boleh tidaknya kita bertindak seperti itu, benar salahnya hal yang telah kita lakukan, dan pelbagai hal lain yang tidak kalah membingungkan.

Demokrasi merupakan salah satunya. Saya tidak menampik bahwa demokrasi memang bukan produk Islam. Demokrasi juga merupakan hasil peranakan dari beberapa pemikir orang barat. Demokrasi juga tidak sama dengan syari'at Islam. Namun saya ingin mengajak anda untuk memikirkan tentang makna demokrasi.

Dahulu ketika masa Orde Lama, Soekarno melaksanakan kepemimpinan Indonesia dengan sikap tiran dan diktator, tetapi beliau menyebut dirinya menjalankan demokrasi yang bernama Demokrasi Terpimpin. Ketika Orde Baru, Soeharto menjalankan roda kepemerintahan selama 32 tahun dengan otoriter. Namun, ia juga masih menyebut dirinya demokratis dengan menjalankan sistem Demokrasi Pancasila. Begitu pula dengan pemimpin - pemimpin lain di seluruh dunia.

Apa hal yang bisa kita ambil? Bahwa dewasa ini demokrasi hanyalah sebuah nama yang akrab di telinga kita tanpa ada makna secara nyata di dunia ini. Betapa begitu banyak negara yang meneriakkan kata demokrasi namun, ia tidak menerapkan secara utuh. Bahkan tidak sama sekali. Dapatkah juga anda menyadari bahwa dengan sistem demokrasi ini pula kita bisa membangun sistem yang memenuhi atau mendekati syari'at? Syaratnya adalah dengan kemenangan dakwah di setiap level, baik individu kemasyarakatan atau pemerintahan.

Mengapa demikian? Karena sesuai dengan fakta yang telah terjadi bahwa demokrasi akan berjalan sesuai dengan pemerintah yang menjalankan. Apabila dakwah berhasil dimenangkan di aspek ini bukan tidak mungkin negara Islam sudah hampir di depan mata. Kita sudah melangkah lebih dekat pada kemenangan Islam.

Namun, apakah demokrasi tidak melawan syari'at? Dalam beberapa sudut pandang Islam sejalan dengan demokrasi, tetapi bukan berarti sama. Diantaranya adalah, adanya wakil - wakil rakyat yang sebagai wadah aspirasi rakyat. Kemudian adanya musyawarah yang juga bagian dari syari'at Islam. Juga rakyat yang mampu untuk menentukan arah negeri ini berjalan juga masih sejalan dengan Islam.

Kalau kita juga melihat situasi saat ini dengan seksama, pikiran yang jernih, maka bukankah demokrasi adalah jalan yang tepat untuk saat ini, untuk periode ini, untuk era ini. Melalui demokrasi kita juga bisa mendapat Indonesia yang adil, sejahtera, dan bermartabat. Tentu bila dijalankan oleh para wakil - wakil yang bersih, peduli, dan profesional.