Tampilkan postingan dengan label tazkirah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tazkirah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 November 2013

Karena Lingkaran Kecil Itu Tetaplah Penting dan Utama.

Jawaban apologis memang kerap diberikan oleh mereka yang perlahan menjauh dari kafilah dakwah.

Jika ia berpandangan bahwa lingkaran semakin luas, dan dirinya kini sudah berada dalam sebuah halaqah besar yang tidak lagi dalam ruang 3 x 3 meter, karena baginya jika ingin menuntut ilmu, datangilah majelis ilmu, ingin menghafal quran, datangilah penghafal quran, lalu dengan alasan apa ia tidak hadir dalam halaqah?

Jika ringan baginya mendatangi majelis ilmu, jika ringan baginya mendatangi penghafal quran, lalu apakah yang membuatnya merasa berat mendatangi majelis halaqah?

Sejatinya halaqah adalah basis terkecil dari sebuah jamaah yang besar, ianya adalah rangkaian mata rantai yang tidak terputus hingga membentuk rantai kuat yang berjalin-jalin.

Oleh karena itu, hendaklah dipahami bahwa halaqah bukanlah semata majelis ilmu, bukan semata majelis ukhuwwah, tapi sebentuk strategi agar kebaikan ini berjalan di atas keteraturan: Dari sel-sel kecil hingga membentuk organ besar dan menjadi 'organisme' yang hidup dan bergerak (berharakah).

Maka jika ia meninggalkan halaqah, ia bisa saja tetap mendapatkan ilmu, ia tetap bisa rasakan ukhuwwah.

Tetapi, ia TIDAK tergabung dalam sebuah gerakan dakwah besar yang bergelombang yang merupakan barisan para da'i yang teratur dan terstruktur.

Padahal kebaikan, semestinyalah terorganisir dengan baik, agar ia bisa mengalahkan kebatilan yang diatur dengan baik.

Wallahu a'lam

Selasa, 20 November 2012

Ikhlas Tidak Berarti Ringan, Semampunya Berbeda dengan Semaunya. (Serial Muhasabah)

BismiLlah Ar Rahman Ar Rahim.

"Ah gak apa-apalah, kan mendingan beramal sedikit tapi kontinyu daripada beramal banyak tapi jarang-jarang." Seringkah kita mendengarnya? atau kita menjadi 'pelaku' yang mengucapkan hal serupa?

Ada yang menarik, saya tidak menyalahkan kalimat di atas tadi tapi saya sangat keberatan jika kalimat itu jadi dalih atau pembenaran atas rasa malas kita dalam beramal. Sudah sepatutnya memang kita sebagai muslim berdalil kepada Quran dan Sunnah, tapi bukan berdalih menggunakan Quran atau Sunnah. Kita diwajibkan mencari dan mengamalkan kebenaran dari sumber hukum kita, tapi bukan mencari pembenaran atas 'hal aneh' yang kita perbuat.

Benar memang, beramal yang sedikit tapi kontinyu lebih indah dibanding amal yang besar tapi jarang atau hanya sekali dilakukan. Hanya saja, lupakah kita bahwa termasuk golongan yang merugi bila hari ini sama dengan hari kemarin? Jika terus-terusan melakukan amalan yang sedikit tanpa peningkatan bukankah kita berarti termasuk golongan yang mengalami kerugian?

"Ah kan yang penting beramal semampu kita bro."

Eits, kata-kata semampu jangan dijadikan alasan pula untuk melengkapi alasan di atas. Jangan kita berdalih menggunakan kata 'beramal semampunya' padahal yang kita kerjakan hanyalah 'beramal semaunya'. Mampu mengerjakan soal-soal anak SMA tapi maunya mengerjakan soal-soal anak SMP atau anak SD. Mampu tilawah 1 juz per hari tapi maunya 2 lembar per hari. Mampu berinfaq 5.000 per pekan tapi maunya hanya 1.000 per pekan.

Kemampuan memang kita yang mengukur, tapi batas akhir kemampuan seringkali tertutupi oleh lemahnya kemauan. Jangan sampai Allah menurunkan kemampuan kita karena begitu lemahnya kemauan dan kecilnya kontribusi amalan.

"Lho kan yang penting ikhlas, daripada gw beramal kagak ikhlas!"

Ini lagi, ikhlas itu apa sih? Kalo yang situ maksud ikhlas itu sama dengan rela, maka anda salah besar!

"Lho, kenapa gitu?"

Lho, kenapa enggak? Ikhlas itu sama sekali tidak terkait dengan rela atau tidaknya kita. Ikhlas itu bukan berarti ringan dalam menjalankan, seringkali ikhlas itu terasa berat tapi di sanalah keimanan menguatkan. Ya, ikhlas itu sejatinya melakukan karena Allah. Murni tanpa embel-embel, baik itu rela atau terpaksa.

Sebagai contoh, coba kita lihat Nabi Ibrahim. Ketika dulu beliau sudah lama ingin mempunyai keturunan, dan di usia cukup tua beliau baru Allah karuniakan Ismail, turun perintah Allah untuk menempatkan Ismail dan ibunya di lembah yang tanpa ada penghuni lain satu pun. Rela gak sih nabi Ibrahim meninggalkan anak yang lama ia damba di sebuah tempat tanpa ada pemukiman serta minim perbekalan? Secara manusiawi rasa tidak rela pasti ada, tapi ia ikhlas. Masa iya seorang nabi dan rasul yang bergelar ulul azmi gak ikhlas, ia ikhlas melakukan perintah tersebut karena Allah meski berat. Amat sangat berat.

Coba kita lihat lagi ketika beliau diperintahkan ALlah tuk menyembelih anaknya. Ada gak sih bapak yang rela anaknya disembelih? Nabi Ibrahim juga manusia biasa, perasaan itu pasti ada. Tapi beliau ikhlas dan taat melakukan perintah Rabbnya sehingga digantilah yang disembelih dengan seekor domba.

"Jadi harusnya gimana?"

Gak apa-apa beramal mulai dari yang bisa kita kerjakan. Tapi upayakan ada peningkatan. Ketika kita sudah terbiasa melakukan sebuah amal kebaikan, latih tuk kita tingkatkan kualitas atau kuantitasnya. Karena memang tidak ada yang bisa instan melakukan amal dalam jumlah yang banyak. Butuh proses! Prosesnya pertama ialah pemaksaan, kemudian jadikan kebiasaan, baru setelah itu amal tersebut bisa jadi karakter dalam diri kita. Alah bisa karena biasa, kita biasa karena dipaksa!

Namun seandainya kita terjebak dalam suasana futur, terjadi degradasi keimanan dalam diri, sehingga dirasa beraaaat sekali melakukan amalan terbaik seperti biasanya, maka jangan sekali-sekali berhenti melakukan amalan kebaikan yang biasa kita lakukan. Jika memang sedang lemah iman, 'cukup' kurangi kuantitasnya. Biasa tilawah 2 juz per hari, yaa lagi futur gak apa-apa jadi 1 juz per hari dulu. Biasa infaq per pekan 100.000, lagi futur gak apa-apa sesekali jadi 50.000 per pekan. Intinya jangan sampai kebiasaan kebaikan kita terhenti, karena bisa mengakibatkan rasa yang teramat sangat berat untuk memulainya kembali.

Juga perlu dicatat, jangan sampai kita menikmati posisi futur kita. Harus sesegera mungkin kembali pada kondisi yang sebenarnya. Semangatnya harus kita nyalakan, agar diri ini tidak jatuh pada keterlenaan. Mengapa demikian? Lhaa, kan RasuluLlah bersabda bahwa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka ia termasuk golongan yang celaka. Maka dari itu kita harus sesegera mungkin kembali pada kondisi asli kita. Agar tidak termasuk sebagai golongan yang celaka. Lagipula, kita tidak pernah tahu kapan ajal kan tiba, alangkah sedih serta pedih hati bila meninggalnya kita dalam kondisi yang futur imannya. Bukan kondisi terbaik.

Maka, mari kita latih agar senantiasa meningkatkan kualitas serta kuantitas amalan kita. Beramal dengan kemampuan yang terbaik, bukan sekadar beramal semaunya. Agar semakin jelas, nyata, dan dekat surgaNya bagi kita. Karena surga itu masih terasa jauh...



Bandung, 20 November 2012

Jumat, 05 Agustus 2011

Masih Muda Bukan Berarti Berleha-Leha (Muhasabah Series)

"Masih 20 tahun, masih muda ya, masih panjang...?. Masih banyak yang harus dikejar”.

Tiba-tiba pikiranku melayang entah kemana. Merenungi usiaku saat ini. Apa beruntungnya usia mudaku saat ini? Masih panjangkah jatah hidup yang diberikan Allah padaku? Andai jatah hidupku di dunia ini 63 tahun, seperti jatah usia Rasulullah, dengan usiaku saat ini 20 tahun, berarti usia hidupku tinggal 43 tahun lagi.

Andai jatah hidupku di dunia ini 53 tahun, dengan usiaku saat ini 20 tahun, berarti usia hidupku tinggal 33 tahun lagi. Andai jatah hidupku di dunia ini 43 tahun, dengan usiaku saat ini 20 tahun, berarti usia hidupku tinggal 23 tahun lagi. Andai jatah hidupku di dunia ini 33 tahun, dengan usiaku saat ini 20 tahun, berarti usia hidupku tinggal 13 tahun lagi.

Andai jatah hidupku di dunia ini 21 tahun, dengan usiaku saat ini 20 tahun, berarti usia hidupku tinggal 1 tahun lagi. Bagaimana jika jatah umurku sudah habis dan besok atau lusa Malaikat Izrail mencabut nyawaku? Duh! Adakah aku masih bisa tenang dengan usia 20 tahun? Atau aku masih bisa santai dan berleha-leha?

Sedangkan Malaikat Izrail selalu mengintaiku. Jika demikian, betapa tidak akan terasa menjalani sisa hidup yang lebih pendek lagi; 43 tahun, 33 tahun, 23 tahun, 13 tahun, 1 tahun atau malah cuma dua hari lagi. Andai selama 20 tahun itu aku tidur selama delapan jam perhari, berarti sepertiga hidupku hanya dipakai untuk tidur, yakni sekitar 6-7 tahun.

Andai sisa waktuku perhari yang tinggal 16 jam itu kupakai 6 jam untuk bermain-main dengan teman, ngobrol ngalur ngidul, santai, dan melakukan hal-hal yang tak berguna. Berarti total waktu bermain slama 20 tahun adalah 5 tahun.
 
Lalu aku bandingkan dengan aktivitas ibadahku. Andai shalatku yang lima waktu, ditambah shalat-shalat sunnah, memakan waktu total hanya 1,5 jam perhari, berarti aku hanya menghabiskan 547 jam pertahun untuk shalat. Itu berarti hanya 23 hari pertahun. Andai aku benar-benar menunaikan shalat umur 14 tahun (saat tiba baligh), berarti aku baru menghabiskan sekitar 138 hari (= 23x(20-14)) untuk shalat. Bayangkan, gak ada SETENGAH TAHUN.

Aku teringat dengan firman Allah (yang artinya) :“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”(QS adz-Dzariyat : 56)

Saat merenungi kembali ayat itu, hatiku menangis. Betapa tidak. Allah menciptakan hidupku dan memberiku usia 20 tahun sesungguhnya agar aku gunakan untuk beribadah kepada-Nya. Namun kenyataannya, hidupku dan masa mudaku habis untuk tidur dan bekerja mencari dunia, juga melakukan hal yang sia-sia.

Sebaliknya, hanya sebagian kecil usiaku aku habiskan untuk ibadah dan dakwah. Bekerja dan belajar juga kan termasuk ibadah Dho? Baik. Sekarang bagaimana jika semua itu ternyata tidak bernilai di sisi Allah? Bagaimana jika amal-amal ku ternyata tidak diterima oleh Allah? Bagaimana jika shalatku yang jarang sekali khusyu itu ditolak oleh Allah?

Bagaimana pula jika dakwah ku pun –yang mungkin kadang bercampur dengan riya dan tak jarang minimalis- tak dipandang oleh Allah? Betul. Aku tidak boleh pesimis. Aku harus penuh harap kepada Allah, semoga semua amal-amal ku Dia terima. Namun, aku pun sepantasnya khawatir jika semua amal yang selama ini aku anggap amal shalih dan bernilai pahala, ternyata sebagian besarnya tak bernilai apa-apa di sisi Allah. Na’udzu billah.

Aku memang tidak berharap seperti itu. Di sisi lain, setiap hari, puluhan kali aku bermaksiat. Ya Allah, setiap detik karunia dan nikmat-Mu turun kepadaku. Namun setiap detik pula dosa dan kesalahanku naik kepada-Mu.

Ya Allah, Tuhan kami. Selama ini kami hanya menzalimi dan menganiaya diri kami sendiri. Jika saja Engkau tidak mengampuni dosa-dosa kami, tentu kami termasuk orang-orang yang merugi (Do’a Nabi Adam as)

Tuhanku, tidaklah pantas aku menjadi penghuni Firdaus-Mu. Namun, tak mungkin pula aku kuat menahan panasnya Neraka-Mu. Karena itu, terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa dan Engkau Mahabesar. Amin. (Do’a Imam al-Ghazali)

Mari kita manfaatkan waktu yang ada, utamanya Ramadhan yang tersisa. Semoga di dalam takdir kita terdapat saat kita bercengkrama kembali, bukan di dunia ini tetapi di dalam jannah FirdausNya yang abadi.

Sekre KARISMA Salman ITB
Menjelang sahur 5 Ramadhan 1432 H

Sabtu, 01 Agustus 2009

Betapa Banyak Kebaikan Telah Hilang Dari Diri Kita..

Sebuah perenungan dan tadzkirah untuk diriku dan kalian semua yang kucintai karenaNya.

Mengapresiasi atas apa yang telah kita ucapkan, menjadi bukti nyata atas apa yang telah kita ketahui, bukanlah merupakan hal yang mudah. Betapa sulitnya. Tetapi ini bukan sekadar anjuran. Melakukan apa yang telah kita ucapkan sudah menjadi sebuah keharusan kita sebagai seorang manusia yang beriman dan berakal. Karena Allah telah menegaskan perihal ini dalam beberapa ayatNya. Diantaranya Ash Shaff ayat 2 -3, dan Al Baqarah ayat 44. Betapa Dia telah menegaskan akan kemurkaanNya dan sebutan manusia tak berakal bagi siapa saja yang tidak melakukan apa yang telah diucapkan. Lantas apakah kita termasuk ke dalam orang - orang yang Dia murkai dan tak berakal? Na'udzubillah.

Ikhwah fillah. Sering kita merasa dan membandingkan diri kita di hari ini dengan di masa silam. Membandingkan kita sekarang dengan kita di masa lalu akan membuat kita merasa betapa banyak yang telah hilang dari diri kita. Dahulu mungkin kita belum terlalu banyak membaca. Dahulu mungkin kita belum mendapat banyak wawasan.Dahulu mungkin kita belum lama berada atau merasakan tarbiyah. Namun, dapatkah kita merasakan bahwa dahulu amalan kita mungkin lebih banyak. Dahulu mungkin kita merasa lebih yakin dalam beramal. Dahulu mungkin kita lebih merasakan kedamaian ketika melakukan amalan. Dahulu mungkin kita merasakan semangat dan ghirah yang luar biasa. Meskipun mungkin kita lebih sedikit mengetahui.

Ikhwah fillah. Betapa sesungguhnya amal dan ilmu merupakan dua sisi mata uang tak terpisahkan. Kita beramal dengan ilmu. Semakin kaya ilmu seharusnya berimbas akan kekayaan amalan kita. Karena dengan ilmu maka kan lahir amalan. Namun, kita kini sepertinya, memiliki banyak ilmu atau semakin berilmu tapi miskin dalam beramal.

* * *

Marilah kita sejenak berhenti di sini. Memikirkan apa yang sedang kita bahas dan kita perbincangkan di sini. Perhatikanlah saudaraku. Perhatikan bahwa jika kita berbicara dan mengucapkan sesuatu, maka kita diajak berbicara oleh kata - kata itu. Kata - kata yang kita keluarkan akan menuju ke kita sebagai sasaran pertama dan utamanya. Sebagai orientasi awal. Agar kelak kita tidak menjadi hamba - hamba yang dimurkai olehNya dan tiada berakal.

Ikhwah fillah. Mari kita lihat diri kita. Kita terawang hati, jiwa, akal, dan raga kita. Betapa banyak kebaikan yang telah hilang dari diri kita. Betapa semakin lemah diri ini menghadapi cobaan dariNya. Mari memuhasabahi diri sebelum beramal. Kita lihat apa yang menjadi orientasi amalan kita. Kita lihat sudah benarkah niat kita. Kita luruskan kembali segala hal yang ada dalam diri kita.

Ingatlah tujuan hidup kita. Ingat betapa besar misi yang kita emban hingga gunung pun tak sanggup memikulnya. Ingat kembali segala yang telah kita pelajari dan meri bersama kita coba tuk amalkan dan saling mengingatkan. Saudaraku. Sungguh, betapa banyak kebaikan telah hilang dari diri kita.

Sumber Inspirasi: Tarbawi 209 th 11

Rabu, 17 Juni 2009

Laju Ghirah Aktivis Dakwah

Pada suatu waktu ghirah yang kita miliki, semangat dakwah yang kita miliki begitu meluap. Seakan tidak akan pernah habis terpancar dari dalam diri kita. Membuat kita begitu gemar berdakwah. Mendakwahi saudara – saudara kita, baik yang kita kenal ataupun tidak, baik yang tua ataupun muda, baik sesama aktivis ataupun bukan. Sehingga terkadang kita tidak menyadari apakah objek dakwah kita tertarik terhadap dakwah yang kita lakukan. Apakah cara kita mendakwahi mereka sudah benar. Apakah kita sudah melakukannya dengan perencanaan dan strategi yang matang, bukan hanya asal gerak belaka.

Seiring berjalannya waktu, seiring pula dengan kematangan kita sebagai manusia yang bertambah. Bertambah pula ujian yang kita hadapi. Semakin banyak amanah yang harus kita emban. Semakin kompleks permasalahan yang muncul di sekitar kita, yang selalu menghadang kita silih berganti. Akan tetapi, hal itu tidak diimbangi oleh ghirah yang meningkat. Malahan sebaliknya, ghirah kita semakin mengendur dari hari ke hari. Semakin terkikis oleh permasalahan yang kian rumit yang jauh lebih banyak menyita waktu kita daripada kita memikirkan kepentingan ummat. Sungguh suatu hal yang sangat menyedihkan. Sangat ironis.

Betapa banyak saudara kita yang begitu aktif ketike pada masa remajanya, pada masa kuliah atau sekolahnya, menjadi hilang begitu saja di dunia dakwah. Kontribusi dari mereka yang dulu sangat menggigit kini sudah tidak terasa sama sekali. Mereka yang dulu menjadi pendorong, menjadi poros dakwah kini hanya berdiri diam di sudut – sudut dakwah. Dia tetap ada dalam lingkaran dakwah, tetapi kehadirannya antara ada dan tiada. Seakan – akan hanya sebagai fatamorgana dalam dakwah. Dilihat seakan – akan ada, namun tidak terasa keberadaanya.

Lantas, apakah hal tersebut juga terjadi dalam diri kita sebagai seorang juru dakwah? Semakin menurunkah produktivitas kita dalam berdakwah? Semakin hilangkah kontribusi yang kita lakukan untuk keberlangsungan dan kemajuan dakwah ini? Introspeksilah diri kita.

Bukan tidak mungkin sebenarnya kita menyadari kesalahan ini, menyadari hal ataupun sesuatu yang membuat ghirah dalam diri kita semakin hilang. Namun, kita tidak mau mengatasi hal tersebut. Kita tidak mau menghilangkan hal tersebut dari dalam diri kita. Bahkan kita malah menikmatinya. Sehingga semakin membuat kita menutup mata terhadap masalah pada diri kita yang akan berimbas pada kontribusi kita terhadap dakwah.

Tidak sedikit saudara kita yang berpikir bahwa dakwah akan lebih mudah dilakukan ketika ia sudah memiliki jabatan tinggi ataupun sukses dalam berkarir. Tidak sedikit pula saudara kita yang berpikir untuk apa mereka berkontribusi kalau nanti mereka tidak ikut menikmati. Sehingga mereka malas untuk menunjukkan kontribusi mereka dalam berdakwah setiap saat. Keegoisan telah merajai mereka. Keberadaan dan kepentingan ummat ini telah dilupakan oleh mereka.

Ini merupakan sebuah degradasi dakwah. Penurunan prestasi dakwah. Perlambatan dalam kelajuan dakwah. Sebuah hal yang mampu menarik mundur laju dakwah kita kembali ke titik nol, atau bahkan minus. Sehingga akan berefek pada semakin lamanya kemenangan dakwah akan kita capai. Allah yang menguasai hati seluruh makhluk dan mampu untuk mengubah hati setiap makhluk-Nya.

Banyak – banyaklah kita memohon doa kepada Allah agar hati kita diberi kekuatan untuk istiqomah dalam jalan dakwah. Memohan agar semakin banyak dan semakin kompleks ujian yang kita hadapi nanti akan semakin menambah ghirah dan iman kita kepada Allah. Memohon pula agar semakin diberi sokongan kekuatan dan motivasi sehingga ghirah kita tidak akan meredup atau padam. Dengan penuh harap kita memohon kepada Allah agar senantiasa diistiqomahkan hati kita, “Ya muqollibal quluub tsabbit quluubana ‘alaa diinik.” Semoga Allah selalu memberi kita kekuatan untuk istiqomah di jalan dakwah.
Waallahu ‘alam.

Mengingat Allah Sebagai Pembaharu Iman

Senantiasa mengisi ruhiyah kita dengan spirit baru, ruh baru merupakan hal yang penting bagi para kader. Dengan demikian kader bisa selalu mempunyai inovasi dalam dakwah, mempunyai semangat juang yang akan selalu berada dalam keadaan kondisi prima. Hal ini tentu akan berdampak sangat positif untuk kelangsungan dakwah di negeri ini.

Salah satu cara mengisi spirit baru kita adalah dengan mengingat Allah. Umar bin Abdul Aziz r.a. selalu mengingat Allah di setiap malam. Bahkan menurut riwayat dari istrinya, beliau beristighfar sembari menangis hingga tertidur. Kemudian beliau terbangun dan berdzikir kembali sembari menangis dan tertidur kembali. Begitu terus yang beliau lakukan hingga menjelang subuh.

Ikhwah fillah, Umar bin Abdul Aziz melakukan hal yang demikian karena beliau sangat merasa akan takut terhadap Allah. Merasa tidak akan sanggup menjalankan amanah yang beliau emban tanpa pertolongan dari – Nya. Merasa takut apabila beliau tidak menjalankan amanah dengan sebaik – baiknya. Merasa sangat membutuhkan diri – Nya sebagai pembimbing dalam hidup. Sehingga beliau selalu mengisi ruh beliau dengan ruh yang baru. Ruh yang diwarnai oleh shibgotullah. Ruh yang terisi oleh dzikir terhadap Allah.

Sementara kita para kader sudah sepatutnya selalu mengisi ruh kita dengan semangat baru. Mengingat amanah yang kita emban tidaklah sama dengan saudara kita pada umumnya. Amanah di jalan dakwah tidaklah ringan. Ingat akhi, jalan dakwah itu berat. Bahkan sangat berat. Akan tetapi, menapaki jalan dakwah adalah pembuktian janji kita terhadap Allah dan rasul – Nya. Merupakan kewajiban kader untuk menunaikan amanah dakwah. Sehingga kita selalu membutuhkan spirit baru, ruh baru, yang senantiasa menyertai dan mengisi diri kita dalam berdakwah.

Oleh karena itu ikhwah fillah, lakukanlah dzikir rutin tiap pagi dan petang. Selalu basahi lidahmu dengan asma – Nya. Jadikan qalbu – qalbu ini selalu terpaut pada – Nya. Selalu isi ruh kita. Perbaharui iman kita. Tingkatkan seluruh aktivitas ibadah dan dakwah kita, sebagai bukti janji yang telah kita ucapkan di dalam rahim. Innallah ma’ana.

Gejolak Hati

Terkembang senyum sendiri
Pikiranku tak pernah henti
Tumbuh gejolak dalam hati
Teringat dirimu kini 

Diriku menjadi lemah
Terseret arus pusaran
Aku berteriak ingin keluar
Namun ku tak pernah bisa

Heran
Kamu heran
Anehkah kamu akan diriku
Aku tak mengerti
Tak pernah mengerti
Kususun hati ini
Agar kuat ku menahan diri

Kutahan rasa ini
Demi hidupku
Dan hidupmu