Tampilkan postingan dengan label Ikhwanul Muslimin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ikhwanul Muslimin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 November 2013

Karena Lingkaran Kecil Itu Tetaplah Penting dan Utama.

Jawaban apologis memang kerap diberikan oleh mereka yang perlahan menjauh dari kafilah dakwah.

Jika ia berpandangan bahwa lingkaran semakin luas, dan dirinya kini sudah berada dalam sebuah halaqah besar yang tidak lagi dalam ruang 3 x 3 meter, karena baginya jika ingin menuntut ilmu, datangilah majelis ilmu, ingin menghafal quran, datangilah penghafal quran, lalu dengan alasan apa ia tidak hadir dalam halaqah?

Jika ringan baginya mendatangi majelis ilmu, jika ringan baginya mendatangi penghafal quran, lalu apakah yang membuatnya merasa berat mendatangi majelis halaqah?

Sejatinya halaqah adalah basis terkecil dari sebuah jamaah yang besar, ianya adalah rangkaian mata rantai yang tidak terputus hingga membentuk rantai kuat yang berjalin-jalin.

Oleh karena itu, hendaklah dipahami bahwa halaqah bukanlah semata majelis ilmu, bukan semata majelis ukhuwwah, tapi sebentuk strategi agar kebaikan ini berjalan di atas keteraturan: Dari sel-sel kecil hingga membentuk organ besar dan menjadi 'organisme' yang hidup dan bergerak (berharakah).

Maka jika ia meninggalkan halaqah, ia bisa saja tetap mendapatkan ilmu, ia tetap bisa rasakan ukhuwwah.

Tetapi, ia TIDAK tergabung dalam sebuah gerakan dakwah besar yang bergelombang yang merupakan barisan para da'i yang teratur dan terstruktur.

Padahal kebaikan, semestinyalah terorganisir dengan baik, agar ia bisa mengalahkan kebatilan yang diatur dengan baik.

Wallahu a'lam

Sabtu, 08 Desember 2012

Berkaca dari Mesir

Mungkin masih lekat dalam ingatan kita saat beberapa kader-kader di sebuah partai dakwah di negeri ini keluar dari barisan, tentunya dengan berbagai sebab dan alasan. Mulai dari tindakan indisipliner, perilaku yg tidak pantas, hingga pada keinginan politik yang tidak terakomodasi.

Sayangnya, rata-rata mereka dan beliau-beliau ini kebanyakan tidak legowo dan mengambil jalan berseberangan. Tentu saja tidak semua seperti itu. Ada juga yg memang menerima keputusan dari organisasi dan menerima serta menjalankan iqob dengan legowo. Sebenarnya soal 'pecat-memecat' dalam sebuah organisasi itu adalah hal yang biasa. Bahkan organisasi harokah muslim terbesar yg berada di Mesir pun melakukan hal tersebut jika memang ada anggota (bahkan petinggi sekalipun) yang terindikasi melakukan pelanggaran dan tidak mentaati kebijakan partai bahkan menentangnya. Contoh teranyar adalah ketika salah seorang anggota Harokah Dakwah tersebut mengajukan diri menjadi calon presiden tapi hasil syuro bertentangan dengan ambisinya, maka iapun memisahkan diri dari jama'ah.

Itu hal yang biasa, yang tak biasa adalah ketika 'sakit hati' itu dilampiaskan dengan fitnah-fitnah tak berdasar kepada orang-orang yang dulu pernah menjadi 'saudara' dan juga kepada organisasi yang dulu pernah ikut membesarkannya.

Sedikit beda memang kondisinya tapi memiliki korelasi yang sama yang berujung pada 'sakit hati'. Sakit yang dulu dibuatnya sendiri dan kini dijadikan sebagai sebuah 'dasar' untuk membangun sebuah gerakan yang sama.

Bayangkan, jika pemimpinnya saja membangun sebuah pergerakan yang dibangun dgn lantaran 'sakit hati' bisa dimaklumi apa dan bagaimana para pengikutnya kelak.

Ikhwah fillah, tulisan ini memang tak akan mudah dicerna begitu saja apalagi jika kita adalah bagian dari orang-orang yang 'sakit hati' tersebut. Tanpa bermaksud membuka luka lama, tapi ada baiknya kita juga sedikit bercermin ke masa lalu dan masa kini khususnya apa yang sedang terjadi antar sesama ikhwah di Mesir.

Ternyata bukan hanya terjadi disini tapi bahkan disana sudah dalam kondisi mengkhawatirkan dimana seorang 'mantan' ikhwah dalam aksi demo menentang dekrit presiden tak ragu-ragu lagi menghasut grass root dibawahnya untuk 'mengadu nyawa' dengan tak hanya sesama kader, tapi juga sesama muslim. Demikian ironisnya ketika ujian dunia berupa ambisi politik yang gagal telah mengubah seekor domba menjadi serigala yang kejam dan bengis. Atau seekor anak ayam yang lugu menjadi musang yang licik dan penuh tipu daya serta 'rela' menjual fatwa dan kesaksian kepada pers atas nama keadilan? Padahal semua itu hanya demi terbayarnya sakit hati. Akankah itu kita biarkan terjadi disini?

Mengutip ucapan seorang teman: "Harokah ini mungkin belum tentu yang paling benar. Tapi ini yang terbaik yang pernah saya dapatkan"

Dari post di akun FB 'Abuhafizh'.