Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Maret 2013

Cerita Bersamamu.

Biasanya aku hanya melihatmu dari gambar saja.
Atau sesekali di layar kaca.
Kadang juga hanya mendengar tentangmu dari tetangga.
Ah aku ingin berjumpa.

Akhirnya kita berjumpa.
Melihatmu pada pandangan pertama, meneteslah air mata.
Terharu karena kau begitu mempesona.

Hari demi hari, makin banyak kita bertemu.
Makin lama kau makin menanamkan rindu.
Ah kau memang pintar merayu,
Keistimewaanmu membuatku selalu ingin bersamamu.

Tanggal berganti, waktu pun berjalan.
Tak terasa kini sudah saatnya momen perpisahan.
Rasanya ingin menangis sesenggukan,
Karena berpisah denganmu yang dari dulu kudambakan.

Apa daya, inilah skenarioNya.
Aku harus kembali, ke negeri seberang lautan sana.
Pun aku percaya, kita tak berpisah selamanya.
Hanya sedang persiapkan pertemuan indah pada selanjutnya.

Akhir kata, kerinduan itu tak sirna.
Perjumpaan denganmu justru membuatku makin ingin terus berjumpa.
Semoga tertulis dalam takdirku tuk kembali ke sana.
Menghabiskan waktu, memuaskan dahaga rindu.

Salamku, salam rindu.
Untukmu, BaituLlah.

Kamis, 07 Februari 2013

Satu Hari yang Selalu Dikenang, Meninggalkan Kerinduan yang Mendalam.

22 Agustus 2004.

Pagi yang cerah di hari Ahad. Ceria kami seasrama karena hendak berjalan-jalan ke kebun milik guru bahasa Inggris kami. Sambil mendendangkan 'I look I see', kami berjalan bersama-sama. Ah aku rasa itu hari yang membahagiakan di kala tahun terakhir SMP di Ibnu Salam.

Tiada yang aneh di sana, sudah terbiasa dengan hutan tak membuat kami heboh di perkebunan. Satu-satunya kegaduhan terjadi karena di sana sudah ada teman-teman angkatan kami yang putri. Yaa, maklumlah usia puber. Mungkin beberapa pada saling caper hehe.

Usai melihat, berfoto, dan (kalau gak salah) mengerjakan beberapa tugas. Kami bersiap pulang, mengingat hari pun mulai menginjak siang. Seperti biasa canda tawa hiasi perjalanan. Khas jika berjalan bersama teman-teman. Aku merasa hari ini masih hari seperti biasa, Ahad yang sama dengan tanggal yang beda.

Sesampai di Ibnu Salam, kegiatan mandiri dilakukan. Ya maksudnya istirahat. Ada yang makan, main, jalan-jalan, tapi karena di asrama gak ada TV/PC jelas tidak ada satu pun yang memilih aktivitas nonton atau main game. Semua masih terasa sama, dan adzan Dzuhur berkumandang. Shalat kawan, kita shalat awal waktu kok.

Usai Dzuhur dan santap siang, teman ku ada yang mengajak main bola. Bukan di lapangan, tapi hanya saling tendang-menendang bola di belakang asrama. Aku pun mengiyakan, karena bosan juga jika kembali tiduran. Kami pun bermain, dengan riang.

Hingga menjelang pukul 2 siang, ada panggilan "Dho, ada yang jemput."

Aku menengok, bertanya "Ibuku kah yang datang?" Cukup heran, karena semalam aku menelepon Ibu sedang sakit. Temanku membalas, "Bukan, gak tau. Katanya temen bokap lo dho."

Aku melihat, "Ah iya, itu temen bapak." Ya, aku melihat temen bapak beserta isterinya. Mereka hampiriku dan berkata, "Ibu minta kamu pulang."

Namanya juga anak asrama, tentu senang kalo diminta pulang. Aku pun bergegas bersiap-siap. Hanya satu tas yang aku bawa, dengan satu komik Fantasista tuk dibaca.

Mereka ternyata bawa mobil, aku pun disuruh masuk. Dan ketika masuk aku melihat ada temen-temen bapak yang ternyata sedang menangis. Aku acuh, karena memang ku pikir tak ada urusannya denganku. Ya, kupikir begitu.

Perjalanan dimulai, kembali menyusuri jalan yang tadi pagi aku dan teman-teman lewati. Hanya saja kini naik mobil, karena memang tujuan kami lebih jauh. Jakarta.

Sesampai di dekat gerbang tol Serang, teman bapak yang mengendarai mobil mendadak menelepon. Ia pun menepikan mobil dan keluar sejenak. Usai bincang lama, ia kembali masuk dan berkata padaku.

"Kita ke Cilegon dulu yaa."

Aku hanya diam, mengangguk.

Seperti biasanya, aku tertidur di perjalanan. Apalagi ini dengan mobil yang cukup nyaman. Ketika kubuka mata, nampaknya sudah sampai di Cilegon. Ya kami memasuki kawasan RS Krakatau Steel Cilegon.

"Ada yang sakitkah? Atau bapak sakit lagi?" Begitu kupikir. Karena 8 bulan sebelumnya, bapak pernah dirawat di sini. Meski langsung dipindah ke Jakarta.

Aku lihat depan RS, "Ramai sekali, banyak teman dan kenalan bapak yang datang." Aku pun melihat, "Lho, kok ibu di sini? Katanya sakit." Ya, ada ibuku yang duduk di depan pintu UGD. Matanya memerah, sampai bengkak sebelah. Lirih ia berkata padaku, "Le, temui bapak dulu sana."

Aku berjalan perlahan, melewati beberapa ranjang pasien. Hingga kulihat sesosok yang terbaring. Ditutupi kain putih hingga wajahnya. Aku tahu, aku kenal, aku tahu sosok itu!

"Bapaaaaak!" Sontak aku teriak, memeluk jasad yang tiada lagi bergerak. Bapakku! Bapakku! Bapakku meninggal!

Aku menangis, dan langsung dipeluk oleh orang tua temanku. Berusaha menyabarkan, mengingatkanku tuk iringi dengan doa bukan dengan histeris air mata.

Aku hanya berucap pelan, lirih berbisik diantara tangis, "InnaliLlahi, innaliLlahi, innaliLlahi. AstaghfiruLlah."

Aku membuka penutup wajahnya, kulihat wajahnya teduh di sana. Kukecup keningnya perlahan, dingin. Dingin, tiada kehangatan. Aku hanya bisa pandangi ia, berharap semua ini hanya mimpi saja.

Mendadak terbuka kembali memori-memori silam.

Aku ingat, saat bapak mengajakku pergi ke TMII. Menaiki kereta gantung, pertama kali dalam hidup ini.

Aku ingat, saat bapak mengantarkan aku sekolah kelas 1 dan 2 SD. Ketika ia menggunting kukuku dengan kasih sayang dan perlahan. Diakhiri dengan membekali uang jajan.

Aku ingat, ketika bapak mengajarkan aku shalat. Mengajak aku berjama'ah di masjid. Mengenalkan aku pada Quran, menemaniku tuk beberapa hafalan.

Aku ingat, ketika ia pindah kerja ke ujung barat pulau Jawa. Ketika aku mengantarnya, menginap di kantornya. Dikenalkan dengan rekan-rekan kerjanya.

Aku ingat, betapa aku sangat dibanggakannya. Betapa ia sering ceritakan tentang prestasiku di sekolah. Tentang aku yang mau disekolahkan di asrama. Tentang aku yang tak pernah meminta uang jajan selain yang ia kasihkan. Ah semua tentang baik-baiknya diriku, hampir selalu ia ceritakan pada kawannya.

Aku ingat, kau yang hanya bisa pulang sebulan sekali. Karena amanah dan tanggung jawabmu di sana. Aku kerap menunggumu, memelukmu ketika kau datang. Dan gundah ketika kau pamit kembali kerja.

Aku ingat, ibu yang berkata kita seperti sahabat. Sangat dekat. Betapa sering kau ajak aku keliling Jakarta ini. Betapa sering kau kenalkan aku budaya negeri ini. Betapa sering kau tanamkan pada diri, kecintaan pada Illahi.

Aku pun terhempas kembali pada kenyataan. Sosok yang aku cinta kini tiada. Sosok yang aku rindu kini telah pergi dari sisiku. Sosok yang aku kasihi telah meninggalkan kami, menuju sisi Illahi.

Teringat lagu terakhir yang kita nyanyikan bersama.
"Kapan-kapan, kita bersama lagi.
Kapan-kapan, kita berjumpa lagi.
Mungkin lusa, atau di lain hari.
Mungkin lusa, atau di lain hari."

Ya, Allah tidak pertemukan kita pada esok atau lusa setelah perjumpaan terakhir kita. Tapi aku yakin, kita tidak berpisah pak. Kita hanya mempersiapkan sebuah pertemuan kembali yang jauh lebih indah dan kekal. Kelak dalam jannahNya, di firdaus yang mulia.

Aku tahu suara ini tak sampai padamu, tapi aku hanya ingin ucapkan sekali dan berkali-kali lagi.
"Betapa aku sangat mencintaimu, Pak."

Jakarta, di tanggal lahirmu yang selalu kuingat, 7 Februari.
Dalam derai air mata di 2013 ini.
Anakmu, Muhammad Ridho Fazri

Senin, 22 Oktober 2012

Mari Kita Bangga Ber-Indonesia (sebuah catatan kecil)

BismiLlah ar Rahman ar Rahim.

Setiap kali sedang melakukan perjalanan, di kiri-kanan banyak terdapat kain berwarna-warni. Ada yang kuning, hijau, ungu, biru tua, merah, biru muda, putih dan lain sebagainya. Tak jarang pula tokoh-tokoh dari golongan tertentu tersenyum lebar seolah pamer wajah ramah pada rakyat jalanan. Namun di antara semua tadi sulit kita temukan bendera Merah-Putih gagah berkibar.

Ah iya, ada beberapa waktu di mana wajah jalanan kita didominasi 'Merah-Putih', seperti saat perayaan kemerdekaan negeri ini misalnya. Tapi selepas itu, segala pernak-pernik 'Merah-Putih' lenyap tanpa sisa. Kembali dipenuhi bendera warna-warni dan gambar tokoh mengobral janji.

Saya bertanya, "Apakah bendera negeri ini sudah berganti? Dari gagahnya Merah-Putih menjadi bendera warna-warni tak serasi?"

Yah nasionalisme apa kini yang tersisa? Budaya bangsa banyak pemuda tak merasa bangga. Bahasa Indonesia pun dicampur-campur dengan bahasa serta aksen tak jelas adanya. Pakaian dan produk impor memenuhi rumah kita. Bahkan gaya acara pertelevisian pun banyak diwarnai budaya yang bukan dari negeri kita.

Sering kita lihat penyanyi atau artis dari luar negeri, yang disambut dengan gegap gempita serta tiket yang habis dalam sekejap mata. Atau para atlet dan legenda yang juga bikin desak-desakan dalam menyambutnya. Atau film-film yang memancing antrean serta keramaian di studio-studio setiap harinya. Atau juga produk-produk yang tiap peluncurannya selalu diburu oleh bangsa kita.

Saya yakin beberapa dari kita berpikir, bisakah kita meniru mereka? Mengapa tak kita orbitkan artis/aktor paling bertalenta di negeri ini agar bisa dikenal penjuru dunia? Mengapa tak kita fokus pada pembinaan serta pembenahan di bidang olahraga agar para atlet kita pun harumkan nama bangsa? Mengapa tak berinvestasi lebih tuk membuat sebuah produk atau film yang memang jelas-jelas berkualitas dan laku tuk dijual tak hanya di negeri ini tapi juga seluruh belahan bumi?

Mungkin sudah ada yang merintis. Ada beberapa aktor/artis kita yang mulai go international meski tetap tak seheboh PSY dengan Gangnam Style-nya. Ada beberapa pesepakbola yang sudah dilirik Eropa meski tak seperti Jepang yang pemainnya sudah menyebar di klub top dunia. Ada juga produk atau film berkualitas hasil karya anak bangsa meski gemanya tentu tak bisa goyangkan negeri Holywood sana.

Saya bukan pesimis, inginnya optimis. Namun melihat realita, ketika media-media sudah menjajakan pada kita gaya yang sedang ngetrend dan diikuti oleh anak-anak muda dari pelbagai desa dan kota, hampir saya jadi pesimis.

Beruntung kita tidak tangan kosong, media-media bahkan pemerintah sekalipun kini bisa digoyang dengan kekuatan rakyat biasa yang terjalin rapi oleh media sosial. Beberapa event yang turut melambungkan brand lokal pun mulai ramai bermunculan. Festival-festival film indie juga mulai bertebaran dan menarik minat anak-anak muda. Kejuaraan olahraga pun sudah ada yang harumkan nama bangsa di kancah dunia.

Akan tetapi ini belum selesai sobat, masih panjang tuk mengejar ketertinggalan kita. Tanggung jawab akan masa depan negeri ini utamanya berada dipundak kita para pemuda. Mari kita lebih cintai negeri ini, karena dengan cintalah maka kita kan bisa rela mengtorbankan segala yang terbaik demi kemajuan yang kita cintai. Mari mulai dari apa yang kita bisa, sumbangkan kontribusi nyata kita tuk setidaknya lingkungan kita. Selalu tak ada kata terlambat tuk mengejar, selama optimisme, usaha juga doa terus kita upayakan dan sinergikan dengan baik.

Harapan itu selalu ada, karena Indonesia pasti BISA!!!

Kamis, 04 Agustus 2011

Karena Tulang Rusuk Takkan Tertukar :) (Sekadar Iseng)

Ketika kita berkata, “Aku akan ta’aruf denganmu beberapa tahun lagi, ketika sudah lulus”

Untuk apa kita katakan itu sekarang? Jika belum siap adalah jawabannya, lalu mengapa harus kita katakan rencana tersebut? Tak tahu kah, kalimat itu menggoyahkan kekokohan iman yang susah payah dibangun.

Ketika kita mengatakan, “Aku ingin jaga hati untuk ta’aruf denganmu nanti”

Lantas, apakah dengan kita berkata seperti itu, tidak berarti mengotori hati? Kita memang sudah seharusnya menjaga hati, hingga tiba saatnya nanti untuk kita berikan seutuhnya kepada yang berhak.

Ketika kita mengatakan, “Hati-hati, di sana, jaga diri baik baik.”

Bukankah Allah adalah sebaik-baik Pelindung?

Ketika kita mengatakan: “Aku harap kamu tidak ta’aruf dengan orang lain sebelum aku”

Sesungguhnya kita tidak bisa menjanjikan apapun, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.


Sebuah ibroh.

Wahai akhwat, jika datang kepadamu laki-laki baik-baik yang melamarmu, maka bisa jadi dialah pangeranmu.

Wahai ikhwan, jika gadis pujaanmu telah dikhitbah laki-laki lain, maka ikhlaskanlah. Bisa jadi dia bukanlah bidadarimu.

"Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk yang keji pula dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji, sedangkan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yang baik.” (QS.24:26)"

Maka jika nantinya kita tidak berjodoh, mungkin diri ini tak cukup baik untukmu, pasti ada orang lain yang lebih baik untukmu. Begitu pun sebaliknya

Karena yakinlah TULANG RUSUK TAKKAN TERTUKAR!!



Sekre Karisma Salman ITB
Pergantian hari 5 Agustus 2011

Selasa, 26 Juli 2011

Hitam Putih Cinta. (Muhasabah Series)


“Cinta itu hitam atau putih. Tidak ada abu-abu!”

            Cinta itu hitam atau putih.

            Tatkala cinta itu menaikkan derajat kebaikan kita, juga meninggikan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah. Serta mampu menjadikan diri kita menjadi termanfaatkan dengan baik, tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk pasangan, keluarga, masyarakat dan ummat. Karena cinta seharusnya mengantarkan si empunya kepada Syurga-Nya, agar cinta tidak hanya berakhir di dunia ini saja. Cinta kita haruslah menggaung hingga ke Arsy-Nya.

            Bukan malah sebaliknya, cinta yang membawa nestapa pada yang merasakannya. Menurunkan derajat kebaikan para pencinta di hadapan Yang Maha Cinta. Menjauhkan ia dari nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Sungguh, cinta yang seperti itu hanya akan membawa mereka yang menikmatinya kepada seburuk-buruknya tempat.





            Tidak ada kata abu-abu!

            Jika memang cinta, majulah dengan keyakinan kepada Sang Maha Pencinta, menuju bahtera cinta, melipatgandakan amalan bagi mereka yang mengarunginya.

            Ketika kau belum siap melangkah lebih jauh, maka tak perlu bicara panjang tentang cinta kepada dirinya. Karena, bisa jadi hadirmu justru akan mengganggu keterjagaan hatinya. Sebab janji-janji tak pasti itu hanya akan membuatnya melambung jauh ke angan-angan masa depan yang masih belum pasti kan ia bina bersamamu.
Karena dirimu belum tentu atau bahkan takkan pernah halal untuknya.



Dari tulisan seseorang, untuk kita ambil hikmah dan untuk kita amalkan bersama.
Bandung, 26 Juli 2011
Sekretariat Karisma ITB 

Jumat, 10 Desember 2010

Shalat dan Cinta Kita

Teringat akan sebuah kisah. Semoga bisa menjadi bahan diskusi dan pemikiran serta perenungan bagi kita semua.


Pada suatu masa yang entah kapan terdapat seorang pemuda sedang melaksanakan shalat. Tidak lama berselang setelah pemuda ini memulai shalatnya datanglah seorang wanita yang menangis tersedu". Wanita itu berjalan hilir mudik di dekat pemuda. Kemudian setelah menyelesaikan shalatnya sang pemuda bertanya dan mendekat kepada wanita tersebut. " Apakah yang menjadi penyebabmu hingga dirimu berjalan hilir mudik di dekat ku?" tanyanya kepada wanita tersebut. Sang wanita menjawab, " Maafkan aku hingga berlaku demikian. Tetapi sungguh aku baru saja diceraikan oleh suamiku yang sangat kucintai. Aku sungguh" mencintainya hingga aku tak dapat melihat dan memikirkan daerah sekitarku. Maka ku juga tak menyadari dan memikirkan dirimu yang sedang shalat. Begitu juga dengan engkau hai pemuda. Bagaimana perasaan cintamu terhadapNya? Sementara engkau masih memikirkan daerah sekitarmu dan aku yang berjalan di dekatmu." Mendengar jawaban tersebut sang pemuda terdiam.

Menurut kalian yang kucintai karenaNya, bagaimana pendapat kalian membaca kisah ini?