Tampilkan postingan dengan label Traveler. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveler. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2016

Review Hotel Citradream Bandung, Hotel yang Nyaman dan Ramah Bagi Kantong.

Seringkali kita menginginkan sebuah kenyamanan namun ramah di kantong. Sebagai seorang yang hobi beperjalanan, tentu saja hal ini sangat diidam-idamkan. Terlebih masalah penginapan, tak jarang kita harus merogoh kocek lebih bila ingin merasakan sedikit lebih nyaman.

Ternyata, baik kenyamanan saat beristirahat atau keramahan di kantong bisa kita temukan di Hotel Citradream Bandung. Terlebih lokasinya yang terbilang strategis! Wuih beneran?

Hotel Citradream Bandung
Sekilas Pandang

Hotel baru yang terletak di jalan Pasir Kaliki ini nampak tinggi megah dengan warna yang khas. Sama sekali tidak terlihat sebagai hotel yang ramah bagi kantong padahal per malamnya sangat terjangkau. Akses mudah baik untuk pengendara pribadi atau yang berkendara umum. Hotelnya pun mudah dituju, kisaran 5 menit berjalan kaki dari stasiun Bandung jalan Kebon Kawung. Tersedia area parkir bagi yang berkendara pribadi. Tiap akhir pekan atau libur, parkir selalu penuh dan terasa kurang.

Lobi yang nyaman, berpadu dengan area makan. Disertai ruang duduk dengan sofa nan empuk. Sambutan ramah saya dapati saat pertama kali memasuki. Proses check in mudah dan cepat, sehingga tidak lama saya sudah bisa menuju kamar.

Kamar

Kamar yang minimalis, baik dari segi ukuran atau furnitur, tapi desainnya sangat hangat dan nyaman. Lantainya juga tidak terasa dingin. Tersedia kursi, meja, dan fasilitas standar hotel budget. Tidak ada teko pemanas air, tapi di tiap lantai disediakan dispenser air panas dan air dingin sehingga kita bisa isi ulang stok air minum. Asyik!

Kamar minimalis yang apik
King Koil yang nyaman
Dua hal yang saya sukai di kamar ini adalah, tempat tidur yang sangat nyaman serta akses internet yang stabil dan cepat. Tempat tidur 'King Koil' terasa sangat mewah dan menggoda untuk bergegas rebah. Akses internet memadai pun memanjakan kita. Bagaimana TVnya? Saluran internasional tersedia, cukuplah pilihan channelnya meski tidak terlalu banyak.

TV kabel dengan pilihan cukup beragam
Kamar mandi yang didesain cukup apik dan rapi. Sedikit sempit memang, tapi cukuplah. Tidak seperti di beberapa hotel budget yang kamar mandinya sangat sempit pun berdinding bukan tembok. Toiletries disediakan, sabun dan shampoo jadi satu. Handuk kamar mandi wangi dan bersih, sayangnya saya mendapati handuk yang sudah sobek di sebagian kecilnya. :)

Kamar mandi Hotel Citradream Bandung
Lainnya

Di kamar terdapat layanan kamar, ada pesan antar makanan dengan harga yang cukup lumayan mahal bagi hotel dengan biaya inap terjangkau. Tapi memang menggoda banget sih menu-menunya. Lain kali deh dicoba.

Oh iya, bila memesan kamar tanpa sarapan, kita akan dikenakan biaya Rp 50.000++/orang jika ingin sarapan di hotel. Terlalu mahal sih buat kantong saya saat itu, jadi tidak saya ambil. Memang lebih murah jika kita langsung memesan kamar dengan sarapan pagi.
Ragam pilihan channel TV 

Kesimpulan

Siapa bilang uang Rp 300.000 hanya bisa kita pakai untuk menginap di tempat yang alakadarnya? Hotel Citradream Bandung bisa memberi lebih dari sekadar tempat menginap dengan rate yang aman, tapi juga memberikan kenyamanan. Ruang kamar yang cukup, tempat tidur 'King Koil' yang nyaman, fasilitas internet yang memadai, pilihan channel TV yang cukup beragam.

Tersedia dispenser air panas dan dingin
Dengan segala kelebihan tadi, dirasa Hotel Citradream Bandung sangat bisa menjadi alternatif tempat menginap bagi kamu yang inginkan kenyamanan dengan harga aman. Terlebih lokasinya juga strategis serta dilalui oleh pelbagai kendaraan umum. Sekitar hotel juga banyak pilihan makanan dengan pelbagai kisaran harga, mau yang di bawah Rp 10.000 per porsi juga banyak hehe.

Kecepatan internet wifi yang cukup menggiurkan
Area makan yang pewarnaannya khas dan menarik
Menurut saya pribadi, Hotel Citradream Bandung, sukses menjembatani kenyamanan beristirahat dengan keamanan biaya. Cocok bagi yang ingin menghemat budget akomodasi.

Jalan Pasir Kaliki no. 36 - 42, Bandung 40171

Telepon: (+62 22) 8428 1111
Instagram: @citradreamhotel








Sabtu, 20 Februari 2016

Review Swiss Belhotel Arion Kemang, Hotel Bernuansa Eropa nan Klasik di Kawasan Kemang.

Swiss Belhotel Arion Kemang
Mendapat kesempatan menginap satu malam di Swiss Belhotel Arion Kemang dari Bella Donna. Ini adalah hotel kedua di grup Swiss Belhotel International yang pernah saya inapi, setelah weekend lalu mencoba hotel baru mereka di Solo. Bagaimana ya kesan hotel bintang 4 di Kemang ini?

Bangunan yang megah dan tidak terlalu tinggi, hanya ada 7 lantai. Berlokasi di area Kemang yang terkenal sebagai tempat nongkrong 'anak gaul' di Jakarta. Mencapai hotel ini mudah, bila tidak ada kendaraan pribadi pun kita bisa gunakan kendaraan umum. Intinya, akses mudah dari mana saja dan kemana saja.

Memasuki lobi, tanpa ada sambutan dari penjaga atau petugas di pintu depan. Hmm, padahal biasanya pada hotel bintang 3 ke atas, sambutan yang hangat serta ramah sudah bisa kita dapati dari awal kita masuki. Lobinya sendiri luas, menyatu dengan The Lounge dan terasa banget nuansa Eropa klasiknya.

Area lobi
Petugasnya ramah dan sigap, proses check in yang cepat sehingga dalam waktu singkat saya sudah mendapat dua kartu kunci kamar. Loh kok dua? Iya, mungkin karena untuk naik lift kita harus menggunakan kartunya juga kali ya.

Mendapat kamar 423, jarang-jarang loh hotel memakai angka 4 tapi itu mah gak ngaruh buat saya hehehe. Karena tiap angka buat saya mah sekadar angka, kecuali angka yang merupakan hari kelahiran saya, ibu, dan dia (ecieeee...).

Yak kembali ke laptop, eh ke bahasan hotel. Kamar yang saya tempati ini bertipe Junior Suite, ini adalah pertama kalinya saya menginap di kamar yang berbau 'suite' milik hotel berbintang. Biasanya sih Superior atau Deluxe, paling banter ya tipe executive atau condotel.

Sebagaimana tipenya yang Junior Suite, tentu kamar ini istimewa banget. Membuka pintu, kita akan masuk ke ruang dengan sofa, meja, televisi, serta lemari kayu yang di dalamnya ada teko pemanas air dan kulkas. Mungkin ini bisa kita sebut ruang tamu. Sofanya juga nyaman, bisa bikin ketiduran di sofa nih.

Ruang tamu
Berjalan sedikit kita akan temukan pintu ke kamar mandi. Lewati dulu kamar mandinya, dan kita akan masuki ruang tidur yang amazing banget.

Ruang tidurnya turut dilengkapi beberapa kursi tipe lama. Terdapat pula baju handuk, sajadah, setrika dengan papannya, serta safety box di lemari. Selain itu ruang ini turut dilengkapi meja rias. Luasnya? Yaa luas banget, sangat leluasa untuk beraktivitas. Hanya ada satu hal yang saya temukan jadi ganjalan, letak stop kontak yang semuanya berada di bawah. Jadi susah bila ingin mengisi ulang baterai gadget sembari tiduran/dipakai.

Junior Suite room
Ruang tidur

Sudut pandang lain

Bagaimana dengan kamar mandinya? Saat pintu kamar mandi dibuka, nampaklah betapa luas dan elegannya. Area shower dibuat terpisah berdinding kaca. Pun wastafel disediakan dengan toiletries yang sangat lengkap. Ditambah adanya bathtub sehingga bisa berendam, wah juara banget deh.
Namun ketiadaan saluran air di area selain area shower mengakibatkan mudah timbul genangan bila tak hati-hati. Tapi ya memang seharusnya kering sih.
Ada bathtub
Area shower dipisah kaca

Toiletries lengkap..
Bagaimana dengan TV dan jaringan internetnya? Jujur, dua hal ini yang paling mengecewakan buat saya. TVnya memang cukup besar, channel juga tersedia banyak, tapi tangkapan gambar kurang baik sehingga banyak "semut"nya. Internetnya juga tak bisa dibilang memuaskan. Pertama susah mengaksesnya, terkadang tidak tersambung dengan jaringan wifi. Kedua, seringkali jaringan wifi terputus tiba-tiba saat digunakan. Kemudian susah kembali tersambung dan saat tersambung tak jarang harus login lagi. Ditambah sinyal 4G dari operator yang saya gunakan juga kurang baik, maksimal deh betenya dengan pengalaman internet di kamar.

Kecepatan sih lumayan, tapi putus-putus..
Saat sore hari, saya putuskan berjalan-jalan melihat fasilitas Swiss Belhotel Arion Kemang. Seusai melihat business center dan The Lounge di lobi, saya langsung ke lantai 7 dimana terdapat kolam renang, fitness center, dan spa.

Kolam renangnya airnya sangat jernih menggoda. Area duduk juga cukup tersedia serta nyaman. Dekorasi khas taman di kolam membuat nuansanya menjadi asri. Fitness center juga menyediakan peralatan yang lengkap, meski memang tidak terlalu luas. Di dekatnya juga ada spa dan sauna yang bisa membantu memulihkan kesegaran badan kita.

Kolam renangnya keren.
Mau sekadar santai duduk juga bisa
Fitness Center
Usai melihat-lihat dan berjalan-jalan, saya kembali ke kamar untuk beristirahat sampai waktu sarapan. Mencoba menikmati siaran TV yang tidak jernih atau jaringan internet yang susah diakses serta tak stabil. Fyuuh..

Saat sarapan pun tiba, bagaimana sarapannya? Restorannya cukup luas ditambah ada area merokok sehingga bisa menampung banyak tamu dalam sekali waktu. Ragam menunya juga banyak, pelbagai jenis daging (sapi,ayam, dan ikan) disediakan. Pun menu standar lainnya. Adanya sandwich mini serta potongan buah segar dan salad tak luput pula dari sasaran. Kita juga bisa meminta dibuatkan omelet atau olahan telur lain yang nanti akan diantar ke meja makan kita. Pengalaman sarapannya memuaskan banget!

Sarapaan..
Suasana Swiss Cafe

Buah yang segar
Pelbagai kue dan roti juga ada
Usai sarapan, kembali ke kamar untuk bebersih dan bersiap check out. Memang belum semua bagian hotel saya lihat, saya pun tak mampir ke JK 7 Club. Karena keterbatasan waktu juga sih, semoga lain waktunya saya bisa mencoba serta melihat semua bagian hotel agar ulasannya lebih mendalam.

The Lounge
Untuk hotel berbintang 4, secara bangunan, fasilitas, dan sarapan, Swiss Belhotel Arion Kemang sudah sangat memenuhi standar serta ekspektasi. Namun dari segi pelayanan, siaran TV, serta jaringan internet semoga bisa dibuat menjadi jauh lebih baik. Ada baiknya pula mengganti beberapa furnitur agar kesan antik tak menjadi kesan kuno atau ketinggalan jaman. Sejatinya konsep yang diusung selalu bisa berpadu dengan kemajuan teknologi serta tren.

Bikin event atau seminar juga asyik di sini
Bila ingin menginap di area Kemang, atau memang ada agenda pribadi / bisnis, Swiss Belhotel Arion Kemang sangat cocok menjadi pilihan. Baik tinggal untuk masa inap sebentar atau untuk jangka waktu yang lama. Hanya saja semoga beberapa kekurangan yang saya jadikan catatan di tulisan ini, bisa menjadi perhatian. Sehingga kepuasan yang hadir dari para tamu akan semakin tinggi, serta ekspektasi calon tamu ketika melihat nama besar Swiss Belhotel International akan terpenuhi.

Jalan Kemang Raya no. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12730.
Telepon : +62 21 719 8000
Email : rsvsbak@swiss-belhotel.com
Twitter : @arionkemang
Instagram : @arionswissbelhotelkemang


Kamis, 08 Oktober 2015

Dari Sebelum Remaja Hingga Kepala Dua, Antara Aku dengan XL Axiata.

Bicara jaman sekarang, tentu sangat erat kaitan dengan dunia teknologi dan informasi. Dua puluh tahun lalu, saat telepon pun masih menjadi barang langka. Kini malah hampir setiap insan di bumi ini atau di negeri kita ini memiliki yang namanya telepon genggam a.k.a telepon seluler yang juga akrab disebut ponsel.

Dalam dunia per-ponsel-an di negeri kita, saya pribadi punya pengalaman paling awet dan langgeng bersama salah satu operator ternama. Bahkan melebihi kelanggengan dalam menggaet dan mendekati gebetan. Operator itu tidak lain adalah XL Axiata.

Mengapa XL?

Alkisah, saya dahulu dibesarkan dalam hutan yang jauh di pelosok Serang, Banten. Saya yang masih imut-imut dan lucu itu, sampai sekarang juga masih, harus terpisah jauh dari orangtua. Di hutan, jangan harap ada kabel telepon, wartel, apalagi rental PS. Nah, maka dari itu saya dibawakan ponsel yang kartunya adalah XL. Saat itu, (bahkan sampai saat ini) XL merupakan operator dengan jangkauan dan tangkapan sinyal paling baik di sana.
Beginilah gambaran sekolahan saya, selain yang foto kiri atas tentunya. Nuansa alam sekali bukan?

Waktu berlalu, saya semakin menanjak dewasa. Apa kabar ponsel saya? Sudah dibawa pulang ke rumah, karena kedapatan terlambat mengembalikan ke wali asrama. Namun kartu saya masih aktif, karena dipakai oleh ayah saya hingga beliau meninggal dunia 2004 lalu.

Karena ibu saya saat itu tidak bisa menggunakan ponsel, alhasil nomor cantik dan lucu yang saya punya saat itu pun hangus akibat tidak diisi ulang dalam jangka waktu yang lama. Sempat berpindah hati ke operator lain saat lulus SMA, namun ternyata jodohnya saya memang sama XL. Karena tidak lama setelah lulus SMA (tahun 2008 atau 2009), saya 'iseng' membeli nomor cadangan yang ternyata malah menjadi nomor utama saya hingga saat ini.

Maka kebersamaan inipun dimulai.

Sejak 2009 sampai 2015, tidak terhitung berapa kali saya mengganti ponsel. Alasannya beragam, ada yang karena kecurian, ada yang karena tertarik dengan ponsel lain, sampai ada pula yang karena butuh uang untuk pulang atau sekadar makan harian. Namun, sebagaimana kata orang, ponsel silih berganti tapi nomornya tetap setia. Ya, penggantian ponsel saya yang cukup sering kala itu tidak merembet ke penggantian nomor saya. Saya tetap menggunakan jasa operator dari XL Axiata.

Sebagaimana kebersamaan lain, dalam kebersamaan ini pun ada banyak kejadian-kejadian dan peristiwa indah yang kita lewati bersama. Apalagi sejak memasuki jaman media sosial, semakin banyak terangkai cerita indah di sana. Dari jaman masih menggunakan SMS-an hingga kini dengan pelbagai aplikasi perpesanan.

Kebersamaan ini berlanjut hingga saya beberapa kali mengikuti acara gathering, bukber, atau yang sejenisnya, yang diadakan oleh XL.

Bermula dari #XLGathering untuk 'followers' @XL123 saat 2011 dimana saat itu XL memperkenalkan terobosan baru, yakni CS di ranah media sosial, @XLCare. Acara seru dan meriah yang diisi dengan bagi-bagi ponsel bagi pemenang games dan diakhiri dengan berbagi ponsel pula bagi seluruh undangan yang hadir.

Berlanjut hingga beberapa kali buka bersama, yang dimana pada salah satu kesempatannya saya mendapatkan ponsel baru dari XL sebagai oleh-oleh kepulangan. Terakhir agenda buka bersama ada saat Social Media Day 2015, dimana XL turut mengundang beberapa buzzer dan anak-anak panti asuhan untuk berbagi kebahagiaan bersama.
Bukber XL Jagoanmuda

Bukber XL bareng Prambors. "CIye dapat ponsel pintar baru!"

Bukber XL Social Media Day bersama anak-anak panti

Tidak hanya itu, saya pun pernah dikejutkan oleh kejutan hadiah XLGo. Mendapat telepon dari yang mengatasnamakan CS XL, bahwa saya mendapat sebuah ponsel. Rada tidak percaya sih awalnya, tapi kenyataannya ponsel tersebut sampai ke tangan saya dengan selamat dan sehat wal afiat.

Bersama XL pula, saya melakukan perjalanan pertama ke luar negeri pada tahun 2013. Kala itu saya melakukan ibadah umrah bersama ibu. Meski berada di jarak yang sangat jauh dari negeri tercinta, namun kontak saya dengan saudara, teman, dan gebetan (halah) tidak terputus. Karena nomor XL saya tetap bisa digunakan dan langsung bisa aktif ketika dinyalakan seturun dari pesawat.
Meski sedang jauh, tetap bisa berbagi kabar dan gambar.

Setelah itu, saya semakin sering melakukan perjalanan ke pelbagai kota dan negara. Bahkan saat ke Malaysia awal 2014, saya bisa menggunakan XL di sana tanpa dikenakan biaya roaming data selama 3 hari. Sehingga tentu sangat menghemat pengeluaran dan mempermudah perjalanan. Saat mengunjungi negara-negara lain di Asia Tenggara (Thailand, Kamboja, Vietnam, Singapura), nomor XL saya pun tetap dalam kondisi aktif serta bisa dihubungi.
Saat pertama kali ke Malaysia, Januari 2014. Di sana dapat bebas roaming data 3 hari.

Bersama pemilik hostel tempat rehat di Bangkok. Di sana pun, XL saya tetap aktif.

Yah memang, bagi yang mengenal saya, tentu sangat memahami bahwa sulit sekali seorang Muhammad Ridho Fazri dipisahkan dari ponsel dan dunia jelajah informasi. Saya pun baru sadar, beberapa sahabat terdekat saya juga menggunakan operator yang sama. Sehingga ada saja, saat tetiba seorang sahabat menghubungi hanya karena iseng. Pernah juga menelepon padahal sedang berada di lokasi yang sama bahkan bisa saling terlihat satu sama lain.

Kini 19 tahun sudah XL meramaikan khazanah perponselan dan teknologi informasi di negeri kita. Menjadi salah satu operator terbesar di negeri ini. Tentu banyak sekali kepuasan dan kenyamanan yang sudah diberikan XL untuk para penggunanya, tapi pasti tidak menutup bahwa XL akan senantiasa memperbaharui layanan dan fasilitasnya demi kenyamanan dan kepuasan pengguna.

Betapa banyak hal yang sebelumnya sulit dilakukan, tapi kini menjadi mudah karena XL. Ya, karena XL #SekarangBisa.

Rabu, 29 Oktober 2014

Shalat Jumat Seribu Kali dan Kangen Indomie (Serial Perjalanan)

Saat Jumat tiba, masjid Nabawi dibersihkan lebih dari hari-hari lainnya. Selama beberapa hari di Madinah, sudah merasakan shalat di pelbagai sudut masjid Nabawi. Mulai dari shaff terdepan, shaff pinggiran, sampai pelataran. Namun saat melihat tangga, terbersit keinginan "Seperti apa atap masjid Nabawi? Bisakah shalat di sana?" Maka saat shalat Jumat kali ini, ada misi tersendiri. Shalat jumat di lantai atap masjid Nabawi.

Diberikan tips oleh teman melingkar, jika shalat jumat bersiaplah dua jam sebelum waktu Zuhur. Maka bersegeralah berangkat ke masjid. Kemudian melihat tangga yang pintunya terbuka, mulailah menaiki menuju atapnya. Ketika sampai, satu kesan pertama "TERIK!" Ya, terik sekali di atas. Sehingga menuju ke depan, mencari tempat yang cukup teduh. Tentu juga berdekatan dengan air minum.

Waktu shalat Jumat tiba. Mengapa judulnya shalat jumat seribu kali? Bukannya di Madinah hanya lima hari? Kan di haditsnya shalat di nabawi bernilai 1000 shalat di masjid lain hehehe.


Beginilah suasananya..
Usai shalat jumat, meski baru beberapa hari di sini tapi mulai rasa rindu. Kangen Indomie :')
Akhirnya, bertekadlah mencari Indomie. Kabarnya, cukup mudah kok mencari mie instan di sana. Setelah mencari-cari, akhirnya.....

INDUMIIY! Alias Indomie :D
Dari segi rasa, menurut lidah orang Indonesia tentulah sangat berbeda. Tetap lebih enak rasa Indomie di negeri sendiri. Tapi ya kangennya cukup terobati. :D

Oh iya, selama di sana, bagaimana cara terhubung dengan jaringan internet? Jika pulsa Anda bejibun, silahkan saja memakai paket data bawaan dari Indonesia dan ditambah biaya roaming. Namun gw lebih memilih menggunakan operator lokal. Hitung-hitungannya lebih murah. Lagian jadi dapat sms berbahasa Arab, sekalian belajarlah. :D

Tak terasa, waktu perjalanan kami di Madinah hampir usai. Sehabis ini, barulah berumrah. Umrah pertama, seperti apa ya? Dag, dig, dug! :D

Pekan Pertama, Madinah! (Serial Perjalanan)

Setiap kali menapaki tanah yang asing, tentu hal pertama yang wajib dilakukan ialah berkeliling dan mengenali medan. Begitupun saat baru sampai di bumi Madinah. Hari pertama dihabiskan dengan memuaskan mata melihat keindahan masjid Nabawi. Kemudian berkeliling ke sekitar masjid dan hotel, melihat apa yang ada di sana.

Rasanya seperti di rumah sendiri. Iya, bagaikan di negeri sendiri. Bagaimana tidak? Di jalan-jalan hampir pasti menemukan orang Indonesia yang juga sedang hendak atau telah berumrah. Ditambah pedagang-pedagang yang juga fasih menawarkan dagangannya dengan bahasa Indonesia.

"Murah, murah!" "Lima riyal, murah!" 

Demikian misalnya seruan pedagang yang menggoda orang untuk membeli dagangannya. Pelbagai macam tentu ada. Mulai dari kain, jilbab, baju, peci, sampai buku. Tentu di sekitaran juga banyak yang menjajakan kartu perdana dan pulsa operator selular Saudi.

Masjid Nabawi :')
Akan menghabiskan lima malam di Madinah, tentu bukan waktu yang sebentar. Selain memuaskan diri shalat dan merasakan nuansa khas masjid Nabi, ada beberapa tempat yang sempat dikunjungi. Kemana saja? Cekidot!

  • Makam RasuluLlah Muhammad saw, Abu Bakr, dan Umar bin Khattab.
Satu hal yang wajib kita datangi, satu tempat yang harus pertama kita kunjungi, 'rumah' RasuluLlah saw yang kini menjadi makam beliau dan dua sahabat terbaiknya. Melepaskan rindu, merasakan getar syahdu yang menggema, menyampaikan salam kepada baginda RasuluLlah tercinta. 

Bila dilihat dari luar, makam RasuluLlah ditandai dengan kubah berwarna hijau. Banyak jama'ah yang juga menyampaikan salamnya dari luar sini.
Berpose salam 3 jari dulu ;)
  • Masjid Quba
Sebagai masjid pertama yang dibangun RasuluLlah, tentu masjid Quba merupakan salah satu tempat yang layak dan sangat dianjurkan untuk kita kunjungi. Bangunan masjidnya tentu sudah jauh berbeda dari zaman RasuluLlah dulu, tapi nuansa sejarahnya tetap terasa. 

Di masjid inilah merasakan dag-dig-dug luar biasa. Bagaimana tidak, ibu menghilang di sini. Mencari di lautan manusia tentu bukanlah hal mudah, apalagi di tanah bangsa orang lain. AlhamduliLlah ibu masih bisa mengingat jalan menuju bus rombongan meski sempat nyasar. -_________-

Masih salam 3 jari :)
  • Pasar Korma
Pasar Korma tempat yang biasa dikunjungi jama'ah dari Indonesia untuk belanja oleh-oleh, khususnya korma. Kita bisa melihat kebun kurma yang terhampar, berkeliling pasar, sampai mencoba pelbagai korma yang dijajakan. Lumayan bisa bikin kenyang :D

Sebenarnya masih banyak tempat lain yang layak dikunjungi. Sempat juga memasuki salah satu pertokoan di Madinah, mirip-mirip Tanah Abang. Bila berbelanja di minimarket sekitaran masjid Nabawi, tak sedikit dari mereka yang bisa melayani kita dengan bahasa Indonesia.

Madinah, sebagaimana kita kenal dahulu bernama Yatsrib, merupakan wilayah yang cukup terkenal subur tanahnya. Cukup hijau lah di perjalanan, meski jangan dibandingkan dengan bumi Nusantara. Keramahan penduduknya sangat terasa. Dan ketaatan terhadap larangan berjualan ketika waktu shalat tiba, tentu menjadi hal yang berkesan bagi muslim pengunjung.

Satu hal lagi yang membuat sangat bersyukur ialah, mendapati hari Jumat di Madinah. Artinya? Ya, bisa shalat Jumat di masjid Nabawi! NikmatNya yang manakah yang hendak kita dustai?

Selasa, 28 Oktober 2014

Madinah al Munawwarah, Kota yang Bercahaya. Peradaban Islam Pertama. (Serial Perjalanan)

Sepanjang jalan kenangan, eh sepanjang perjalanan maksudnya di kanan kiri hanya disuguhi pemandangan hamparan batu dan pasir. Lapaaaaaaaaaang sekali. Dalam 4 - 6 jam perjalanan, bus sempat berhenti satu kali. Istirahat, meluruskan kaki.

Di tempat peristirahatan, banyak orang yang menawarkan kartu perdana. Tak sedikit pula yang menawarkan ponsel tiruan. Dari luar mirip ponsel premium ternama, tapi dalamnya tak lebih bagus daripada hape lokal di Indonesia. Adakah yang tertipu? Mengingat umumnya jama'ah umrah adalah orang yang tidak terbiasa dengan dunia teknologi, atau lebih awam, maka tak sedikit yang tertipu dan terjebak. "Aku tertipu, aku terjebak, aku terperangkap muslihatmu." (malah nyanyi). AlhamduliLlah, gw ga tergoda sedikitpun sama ponsel tiruan tadi. Lebih tergoda dengan minuman segar yang terpajang rapi di toko-toko. :9

Pemandangan Sepanjang Perjalanan
Perjalanan dilanjutkan. Beberapa mulai mengantuk, lelah perjalanan terasa. Tertidurnya kami, hingga pemimpin rombongan mengatakan, "Kita telah sampai di Madinah." Yaa RasuluLlah, aku tiba di kotamu. Membesar rasa haru dan rindu.

Bus langsung menuju hotel tempat kami menginap. Hotelnya biasa saja, kedapatan yang satu kamar berempat. Dua orang asal Cianjur dan seorang asal Bali menjadi teman sekamar selama 5 malam di Madinah. Beberapa waktu setelahnya, baru tahu kalau bapak yang dari Cianjur punya anak perempuan cakep banget! Niatlah buat SKSD ke bapaknya. Tapi apa mau dikata, anaknya sudah berbadan dua, sudah berkeluarga. Oke, skip bahasan ini.

Adzan Zuhur berkumandang. Berdebar banget rasanya, hendak shalat di salah satu masjid suci. Masjidnya Nabi. AlhamduliLlah, alhamduliLlah, alhamduliLlah.

Narsis pertama di Madinah. Belum mandi, tapi tetep ganteng (dan jomblo).
Suasana di dalam masjid Nabawi. Usai Zuhur, menanti waktu Ashar.

Jawaban Itu Datang, Ke Tanah Suci. (Serial Perjalanan)

Seusai membuat paspor bulan Februari 2012, belum ada ide ataupun rencana hendak digunakan untuk kemana paspor tersebut. Sejauh ini sih hanya untuk sok keren aja, sok gaul, punya paspor gitu loch :D. Berbulan hanya menjadi hiasan, akhirnya Allah memberikan jawaban. Pergi ke tanah suci.

Berbekal tabungan bertahun-tahun bersama ibu dan tambahan dari sana-sini, disertai niat kuat dan "bismiLlah!", aku bersama ibu pergi menuju kantor jasa haji dan umrah di bilangan jalan Pramuka, Jakarta Pusat. Bertanya-tanya, setelah sebelumnya mengetahui info dari brosur. Kemudian, singkat cerita, resmilah aku dan ibu mendaftar umrah keberangkatan awal Maret 2013. "Dag dig dug". Diri ini pun masih tidak yakin. "Serius ini, gw umrah?"

Penantian selama sebulan lebih diisi dengan membaca fiqh serta tata cara umrah. Hampir tidak menceritakan rencana perjalanan ini kepada seorangpun saat itu. Khawatirnya ga jadi :D

Ketika Allah sudah berkehendak, maka hal tersebut tak bisa ditolak. Bulan Maret tiba! Tanggal 10 Maret akhirnya meninggalkan rumah untuk menginap di hotel sebelum esoknya berangkat menuju Arab Saudi. Tentu sebelumnya berpamitan ke tetangga, handai taulan, grup lingkaran, saudara. Mohon doa, semoga dilancarkan.

Setiba di bandara, betapa norak saat itu. Maklum, terakhir kali ke bandara Soekarno-Hatta adalah saat SD. Ikut rombongan wisata sekolahan Ibu, main-main ke bandaranya. Iya, bandaranya doang. Ga pake naik pesawatnya. Maka, 11 Maret 2013 pun resmi tercatat dalam sejarah. Gw pertama kali naik pesawat! :D

Usai mendapatkan cap dari imigrasi, dipandangilah paspor itu. Ada satu visa umrah yang tertempel. Ada foto gw juga, ganteng pula (eh). Setelah penantian cukup lama, akhirnya memasuki pesawat dengan berdebar-debar. Pesawat beruntung itu adalah Ettihad.
Akhirnya, bisa foto kayak gini juga :')

Usai perjalanan selama 7 - 8 jam, sampailah di Abu Dhabi. Kita transit dulu di sini. Hanya sekitar 3 jam, tapi inilah bandara pertama di luar Indonesia yang gw kunjungi. Hanya saja, karena tiba saat tengah malam, jadi ga bisa kemana-mana. So, puas-puasin melihat kerennya bandara.

Setelah melanjutkan perjalanan lagi, sampailah di Jeddah. (Yeay!) Dan ada cap masuk negara pertama yang hinggap di paspor. Fix, gw nambah keren! :D

Usai shalat Subuh di Bandara, kami melanjutkan perjalanan menuju Madinah menggunakan bus. Inilah perjalanan pertama!